Suara.com - Peningkatan suhu udara dan pencemaran menjadi tantangan bagi kawasan perkotaan. Minimnya tutupan vegetasi serta dominasi bangunan dan permukaan beton membuat lingkungan semakin rentan mengalami kenaikan suhu.
Salah satu upaya untuk mengatasi persoalan tersebut adalah penataan ruang terbuka hijau (RTH). Keberadaan RTH tidak hanya memperindah kota, tetapi juga memiliki fungsi ekologis, mulai dari menurunkan suhu udara hingga menyerap polusi.
Dosen Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, Prita Ayu Permatasari, menjelaskan bahwa RTH menghasilkan berbagai jasa ekosistem yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Ruang terbuka hijau memiliki nilai penting untuk mendukung konsep green campus melalui jasa ekosistem yang dihasilkan, seperti menurunkan suhu udara, menyerap polusi, mengurangi aliran permukaan, meningkatkan konservasi air, serta mendukung konservasi biodiversitas," jelas Prita, melansir laman resmi IPB University, Jumat (30/10).
Pepohonan dengan kanopi lebar dapat mengurangi paparan sinar matahari yang mencapai permukaan tanah. Selain itu, proses evapotranspirasi pada tumbuhan membantu melepaskan uap air ke atmosfer sehingga suhu di sekitarnya menjadi lebih sejuk.
Lingkungan yang lebih sejuk juga berpotensi mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan dan mendukung efisiensi energi.
Vegetasi Membantu Mengurangi Polusi Udara
Selain mengendalikan suhu, vegetasi berperan dalam memperbaiki kualitas udara. Tumbuhan menyerap karbon melalui fotosintesis serta membantu menangkap partikel debu dan mengurangi konsentrasi sejumlah polutan, termasuk nitrogen dioksida.
Namun, manfaat ekologis RTH tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam. Pemilihan jenis tanaman dan penempatannya perlu disesuaikan dengan fungsi masing-masing vegetasi.
Pohon berkanopi lebar, misalnya, dapat ditempatkan di area terbuka untuk memberikan keteduhan. Sementara itu, susunan vegetasi tertentu dapat membantu mengurangi paparan polutan.
Karena itu, penataan lanskap yang terencana diperlukan agar RTH dapat memberikan manfaat secara optimal.
Konektivitas Ruang Hijau Perlu Diperhatikan
Prita juga menekankan pentingnya keterhubungan antarkawasan hijau. Salah satu caranya dengan membangun koridor vegetasi di sepanjang jalan dan kawasan aktivitas masyarakat.
Pengembangan RTH juga perlu mengutamakan tanaman lokal agar lebih mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus membantu menjaga kelestarian spesies setempat.
Selain ruang terbuka hijau, ruang terbuka biru seperti sungai dan danau perlu diintegrasikan dalam perencanaan lanskap. Keduanya berperan dalam melindungi habitat, menjaga konservasi air, dan mengurangi risiko banjir.
Penataan vegetasi juga dapat mendukung mobilitas ramah lingkungan. Jalur pejalan kaki dan pesepeda, misalnya, dapat dilengkapi tanaman peneduh agar lebih nyaman digunakan. Namun, pemilihan tanaman perlu mempertimbangkan keamanan, termasuk karakteristik akar agar tidak merusak infrastruktur.
"Penataan vegetasi yang tepat dapat membantu menurunkan suhu udara, mengurangi polusi, mencegah genangan, hingga menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki," tuturnya.
Menurut Prita, keberhasilan pengembangan kawasan hijau tidak cukup diukur dari luas lahan atau jumlah pohon yang ditanam. Kemampuan lanskap dalam menjalankan fungsi ekologis juga perlu menjadi perhatian.
Penulis: Chairunisa