Mengenal Lombong, Kearifan Lokal Petani NTB dalam Mengelola Air Hujan

Kamis, 05 November 2026 | 11:56 WIB
Dua petani bekerja di ladang padi hijau subur dengan traktor di lingkungan pedesaan. (dok.Pexels/Jeffry Surianto)

Suara.com - Keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam kegiatan pertanian. Kondisi inilah yang membuat petani perlu untuk meyesuaikan cara bercocok tanam dengan ketersediaan air di lingkungan sekitarnya.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), masyarakat memiliki beragam kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam. Salah satunya adalah praktik lombong yang berkaitan dengan kegiatan pertanian tadah hujan.

Praktik ini menyoroti bagaimana masyarakat memanfaatkan pengetahuan mengenai siklus musim untuk menjaga keberlangsungan pertanian. Dengan mempertimbangkan kondisi alam, kegiatan bercocok tanam dapat disesuaikan dengan ketersediaan air.

Dalam penelitian yang berjudul Optimalisasi Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan di NTB: Literature Review, Lalu Galeh Inggil Fatristya dan Muhammad Sarjan menerangkan bahwa lombong sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat NTB.

Lombong merupakan teknik pertanian tadah hujan yang memperhatikan siklus musim. Praktik ini ada kaitannnya dengan upaya menjaga kesuburan tanah dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Pertanian tadah hujan sendiri sangat mengandalkan curah hujan sebagai sumber air utama. Karena itulah perubahan musim dan ketersediaan air menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kegiatan pertanian. 

Melalui praktik lombong, masyarakat memperhitungkan siklus musim agar kegiatan pertanian tetap berjalan dengan semestinya dan tetap produktif. Pendekatan tersebut sangat membantu para petani dalam memanfaatkan air tanpa perlu bersusah payah menguras sumber daya yang jumlahnya terbatas.

Kajian tersebut bahkan menyebutkan bahwa penerapan rotasi tanaman sebagai salah satu praktik pertanian yang mendukung pengelolaan lahan.

Pengetahuan Lokal Berperan Penting dalam Menjaga Keberlangsungan Lingkungan

Kita tahu bahwa kearifan lokal merupakan pengetahuan dan praktik yang diturunkan melalui pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. 

Dalam pengelolaan sumber daya alam, kearifan lokal dapat menjadi pendekatan yang mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Tim peneliti memaparkan bahwa masyarakat NTB memiliki berbagai bentuk kearifan lokal. Selain lombong dalam pertanian tadah hujan, terdapat pula awig-awig yang digunakan dalam pengelolaan hutan dan kawasan konservasi.

Keberadaan praktik tersebut membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan tak selalu bertumpu pada pendekatan modern. Pengetahuan masyarakat setempat turut berperan penting dalam menjaga keberlangsungan sumber daya alam.

Di tengah tantangan perubahan lingkungan, praktik seperti lombong menjadi salah satu contoh betapa pentingnya memahami kondisi alam sebelum memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Sebab, kearifan lokal bukan sekadar peninggalan tradisi. Pengetahuan tersebutlah yang sebenanya juga menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mempertahankan kegiatan pertanian sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com