- PT Espresso Italia mengadakan Try Out UN 2027 di Jakarta pada 14–15 November 2026.
- Kegiatan latihan kompetisi ini bertujuan mengasah kemampuan adaptasi, pengetahuan, serta pengambilan keputusan para brewer kopi profesional.
- Acara tersebut diikuti oleh 24 peserta dengan penilaian objektif dari 11 juri bersertifikasi nasional dan internasional.
Suara.com - Menyeduh kopi secara manual atau manual brewing bukan sekadar menuangkan air panas ke atas bubuk kopi. Di balik secangkir kopi yang nikmat, ada proses panjang yang melibatkan pengetahuan, ketelitian, pengalaman, hingga kemampuan mengambil keputusan.
Seorang brewer dituntut memahami karakter biji kopi yang digunakan. Mulai dari tingkat keasaman, rasa manis, aroma, hingga tekstur yang ingin dihasilkan. Semua itu perlu disesuaikan dengan teknik penyeduhan agar potensi rasa kopi bisa keluar secara optimal.
Suhu air, ukuran gilingan kopi (grind size), tingkat ekstraksi, hingga agitasi atau gerakan saat menuangkan air menjadi sejumlah faktor yang menentukan hasil akhir seduhan.
Menariknya, kemampuan seorang brewer justru diuji ketika harus berhadapan dengan biji kopi yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Dalam kondisi tersebut, brewer tidak bisa hanya mengandalkan resep atau metode penyeduhan yang biasa digunakan. Mereka harus mampu membaca karakter kopi, melakukan penyesuaian, dan menemukan teknik yang paling tepat.
National Judge Coordinator, Sendydjaja, mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu keterampilan mendasar yang harus dimiliki seorang brewer.
"Compulsory itu tentang skill, experience, dan knowledge. Brewer yang baik, diberi beans apa pun, bisa beradaptasi, membaca beans-nya, lalu menghasilkan brew terbaik," ujarnya.
Menurut Sendy, seorang brewer juga harus memiliki kemampuan mengambil keputusan selama proses penyeduhan.
Misalnya, ketika hasil seduhan terasa kurang manis atau terlalu asam, brewer perlu mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki. Penyesuaian bisa dilakukan melalui suhu air, ukuran gilingan, maupun teknik ekstraksi.
"Misalnya kopi ini kurang manis, bagaimana membuatnya lebih manis? Atau terlalu asam, perlu diredam. Kemampuan decision making dan adaptasi itulah yang dibutuhkan," jelasnya.
Kemampuan tersebut tidak bisa dibangun hanya dengan menghafalkan resep. Brewer perlu terus berlatih, bereksperimen, sekaligus memahami bagaimana setiap perubahan teknik memengaruhi rasa kopi.
Hal ini pula yang membuat latihan dalam format compulsory menjadi penting bagi para brewer. Dalam format tersebut, seluruh peserta mendapatkan biji kopi yang sama dan harus menghasilkan seduhan terbaik berdasarkan keterampilan masing-masing.
Penilaian dilakukan secara blind atau tanpa mengetahui identitas brewer. Dengan demikian, hasil seduhan menjadi fokus utama penilaian, bukan reputasi maupun pengalaman peserta.
Menurut Sendy, format compulsory bahkan memiliki bobot 50 persen dalam kompetisi tingkat nasional, setara dengan babak final Open Service.
Kebutuhan untuk mengasah kemampuan tersebut dirasakan pula oleh Alif, founder Publish Coffee asal Bandung yang pernah menempati peringkat keempat nasional pada 2025.