Perempuan Kelola 64,5 Persen UMKM Indonesia, tetapi Masih Hadapi Tantangan Kembangkan Bisnis

Jum'at, 06 November 2026 | 12:30 WIB
UMKM perempuan, pemilik Nyambelin, asal Malang, Soffariati Ummi Rosyidah. (dok. ist)
BACA 10 DETIK
  • Otoritas Jasa Keuangan mencatat sekitar 64,5 persen dari 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.
  • Sebanyak 30 pengusaha perempuan mengikuti pelatihan bisnis daring dan pendampingan intensif dari September hingga Oktober 2026.
  • Sepuluh peserta terpilih menerima dana bantuan usaha dan dua peserta mengikuti pameran FinExpo OJK Bandung.

Suara.com - Perempuan memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian Indonesia melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, besarnya kontribusi tersebut belum sepenuhnya diikuti kemudahan dalam mengembangkan bisnis.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2025–2026, sekitar 64,5 persen dari total 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola perempuan. Jumlah wirausaha perempuan bahkan mencapai sekitar 37 juta orang.

Angka tersebut menunjukkan perempuan bukan sekadar pelaku usaha pendukung ekonomi keluarga, melainkan bagian penting dari penggerak ekonomi nasional.

Meski demikian, perjalanan mengembangkan usaha tidak selalu mudah. Sejumlah perempuan pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam mengelola arus kas, memasarkan produk secara digital, hingga mengubah interaksi di media sosial menjadi transaksi penjualan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin bergantung pada platform digital. Memiliki produk berkualitas saja tidak cukup jika pelaku usaha belum memahami cara menjangkau konsumen, mengelola toko daring, dan menyusun strategi pemasaran yang tepat.

Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tidak hanya melalui akses permodalan, tetapi juga pembekalan keterampilan bisnis, literasi keuangan, serta pendampingan agar mereka mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengembangkan usahanya.

Pemasaran Digital hingga Pengelolaan Keuangan Jadi Tantangan

Salah satu tantangan yang dihadapi womenpreneur adalah mengoptimalkan pemasaran digital. Media sosial dan marketplace memang membuka peluang menjangkau konsumen lebih luas, tetapi pemanfaatannya membutuhkan strategi.

Pelaku usaha perlu memahami bagaimana membangun identitas produk, membuat konten yang relevan, memilih kanal pemasaran, hingga mengelola operasional toko daring. Tanpa strategi yang terarah, aktivitas promosi digital belum tentu menghasilkan peningkatan penjualan.

Selain pemasaran, pengelolaan keuangan juga menjadi aspek penting. Kemampuan memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, mengatur arus kas, serta menyusun rencana pengembangan usaha dapat membantu pelaku UMKM menjaga keberlanjutan bisnis.

Kebutuhan inilah yang mendorong pentingnya program edukasi dan pendampingan praktis bagi pengusaha perempuan, terutama mereka yang sedang berada dalam tahap mengembangkan skala usaha.

Pendampingan Jadi Bekal Mengembangkan Bisnis

Salah satu program yang berupaya menjawab kebutuhan tersebut adalah Womenpreneurship Business Bootcamp 2026. Program ini menjaring lebih dari 270 pendaftar dari 24 provinsi di Indonesia.

Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 womenpreneur dari 14 provinsi terpilih mengikuti rangkaian pelatihan pada September hingga Oktober 2026.

Peserta mendapatkan empat sesi pembelajaran daring yang mencakup penyusunan Business Model Canvas, pengelolaan operasional usaha, optimalisasi marketplace, serta strategi pemasaran dan iklan digital.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com