Akhir-akhir ini heboh pernyataan Nikita Mirzani yang menuding Bunda Corla belum membayarkan pajak di Jerman. Bunda Corla disebut menunggak pajak di Jerman mencapai 500 ribu euro atau sekitar Rp 8 Miliar.
Seorang Tiktokers asal Indonesia yang tinggal di Jerman, Ragil Mahardika buka suara. Melalui unggahan video di Tiktoknya @ragilmahardika, Ragil mengaku tak ingin mencampuri perseteruan antara Nikita Mirzani dengan Bunda Corla. Namun ia memberikan penjelasan tentang sistem pajak di Jerman.
"Dunia media sosial lagi riweuh, dan kalian tag aku di banyak video. Aku tidak mau ikut campur dengan permasalahannya, tapi di video ini akan aku jelaskan tentang sistem perpajakan di Jerman supaya kita sama-sama paham dan belajar," ujar Ragil yang dikutip dari akun Tiktoknya @ragilmahardika, Minggu (22/1/2023).
Ragil menjelaskan bahwa seseorang yang bekerja dan tinggal di Jerman wajib membayar pajak. Kata Ragil, jika seseorang merupakan pegawai atau bekerja di rumah sakit, rumah makan, maka pajak sudah dipotong dari gaji.
"Nah kita yang tinggal di Jerman, bekerja di Jerman, kita semuanya wajib bayar pajak. Kalau kita kerjanya sebagai pegawai atau karyawan misalnya di Rumah Sakit atau rumah makan, maka pajak kita akan langsung dari gaji kita," tutur Ragil.
Ia mencontohkan seperti dirinya yang merupakan pegawai, gaji yang dapatkan sudah bersih lantaran sudah terpotong oleh pajak dan asuransi.
"Jadi ada gaji bruto, dipotong asuransi, dipotong pajak dan kita dapatnya gaji neto setiap bulannya. Kaya aku sama Tutta (suami Ragil) kita sama-sama pegawai, maka kita dapat gaji netto itu udah semuanya sudah bersih
sudah dipotong dari semua asuransi sama pajak kita," papar Ragil.
Sementara kata Ragil, jika seseorang memiliki usaha, maka harus melaporkan pendapatan tahun sebelumnya dan membayarkan pajak.
"Tapi kalau kita pengusaha, buka usaha, maka kita yang harus melaporkan berapa pendapatan kita di tahun sebelumnya dan akan dapat surat dari kantor perpajakan untuk bayar pajak," ungkap Ragil.
Baca Juga: Pelatih Dewa United Jan Olde Riekerink: Persita Tim Berbahaya
WNI asal Medan itu mencontohkan ketika seseorang yang buka usaha selama bertahun-tahun tapi tidak melaporkan, apalagi tidak membayar tentu mendapatkan denda dan kemungkinan dendanya besar.
"Yang jadi pertanyaannya seseorang ini usaha apa ya, Ko banyak banget. Sebagai contoh nih, bayar pajak di Jerman itu kisarannya sekitar 14 persen sampai 42-45 persen dari apa yang kita dapatkan," ungkap Ragil.
Ragil menyebut selama penghasilan yang didapat sedikit, maka pajak yang dibayarkan juga sedikit. Sementara jika pendapatannya besar, maka kata Ragil, pajak yang dibayarkan semakin banyak.
"Ketika seorang punya usaha dan dia pendapatan per bulan misalnya 20 ribu euro maka semakin besar persenannya yang harus dibayarkan ke pemerintah, Jadi apa mungkin orang punya pajak sebesar itu selama bertahun -bertahun yang mungkin saja," tutur Ragil.
Karena itu, Ragil menegaskan bahwa seseorang yang bekerja sebagai pegawai, pajaknya akan langsung terpotong dari gaji. Berbeda dengan seseorang yang buka usaha di Jerman yang harus melaporkan berapa pendapatannya.
"Tapi ketika seserang ini bekerja sebagai pegawau maka dia langsung potong pajak. Tapi kan kita nggak tahu seseorang ini kerja apa selama bertahun-tahun tinggal di Jerman. Kalau dia buka usaha memang sewajarnya dia melaporkan berapa pendapatannya dan membayarkan pajaknya kalau dia usahanya banyak banget menghasilkan uang. Ya tentu pajaknya semakin besar toh," katanya
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Sukses, Peserta dari Empat Provinsi Antusias Ikuti Workshop "AI Tools for Journalists" di Palembang
-
KPK Tahan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, Buntut Dugaan Minta Fee Rp850 Juta
-
Yudi Purnomo Soal Wacana Polri di Bawah Kementerian: Ingat Pengalaman KPK
-
Soal Usul Duet Prabowo-Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Wacana dan Hiburan Buat Rakyat
-
Dasco Ungkap Arahan Prabowo di HUT ke-18 Gerindra: Jaga Uang Rakyat, Jangan Berbuat Perilaku Tercela
-
Derbi Mataram PSIM vs Persis Tanpa Pemenang, Milo Puas Laskar Sambernyawa Curi Poin
-
Gerindra Akhirnya Minta Maaf, Atribut Partainya Ganggu Masyarakat di Jalan
-
Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah
-
IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian
-
Semangat Berdikari, Soekarno Run Runniversary 2026 Siapkan Beasiswa Pelajar dan Inovasi 'Zero Waste'