/
Sabtu, 01 Juli 2023 | 13:23 WIB
Prabowo Subianto ((YouTube))

Saat masih menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Prabowo Subianto pernah tersandung kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) pada tahun 1998, di mana ia dikaitkan dengan tragedi penculikan aktivis yang memprotes kekuasaan Soeharto pada saat itu. 

Kini, ketika Prabowo Subianto memutuskan untuk terjun ke dunia politik, dirinya terus dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM tersebut. Bahkan, tak sedikit yang menduga hal ini sebagai penyebab mengapa Prabowo Subianto terus kalah dalam pilpres yang diikutinya. 

Menanggapi hal tersebut, Prabowo menilai hal semacam itu biasa dalam politik, karena selalu ada pihak yang berusaha menurunkan popularitas pihak lawannya.

"Ini saya kira, dalam kehidupan politik di mana-mana biasa. Apalagi demokrasi liberal, lawan, harus kita turunkan popularitasnya supaya tidak bisa muncul," ujar Prabowo kepada Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa.

Lebih lanjut, Prabowo menganggap isu pelanggaran HAM yang ditudingkan kepada dirinya merupakan risikonya sebagai mantan prajurit.

"Saya anggap ini risiko sebagai prajurit, saya telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai sumpah saya. Saya pertaruhkan nyawa saya berkali-kali untuk republik, untuk rakyat," ujarnya.

Selanjutnya, Menteri Pertahanan itu kemudian mengatakan bahwa dirinya memberi pilihan kepada rakyat untuk memilih atau tidak memilih dirinya. Hal ini karena Indonesia sendiri sudah menganut sistem demokrasi.

"Kalau rakyat percaya semua tudingan-tudingan itu, rakyat nggak usah pilih saya," ujar Ketua Umum Partai Gerindra itu tegas.

Baca Juga: Pevita Pearce Foto Bareng Tom Cruise di Seoul, Netizen Doakan Bisa Akting Bareng

Load More