/
Kamis, 19 Oktober 2023 | 12:11 WIB
Selebrasi pemain Timnas Indonesia bersama suporter usai lolos ke putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026 ((Dok. PSSI))

Faktor-faktor berikut ini membuat pemain bisa tampil seru. Di antaranya Sandy Walsh, Shayne Pattynama, dan Marc Klok.

Mau merumput di negeri sendiri atau pun mancanegara, mau menjadi pemain domestik sampai abroad, terpenting mentalitas dan disiplin yang dimiliki pemain dan klub yang membinanya. Sehingga saat dipanggil masuk Timnas Indonesia untuk bertarung atas nama negara bisa memberikan performa dan prestasi terbaiknya. Tanpa harus kebanyakan polesan atau perlu waktu lama untuk adaptasi.

Contoh paling hangat dari situasi dan kondisi ini adalah penampilan Timnas Indonesia saat laga kontra Timnas Brunei Darussalam dalam leg kedua preliminary Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.

Berlangsung di Stadion Sultan Hassanal Bolkiah, Bandar Seri Begawan (17/10/2023). Secara gemilang skuad Garuda unggul 6-0 lewat brace, satu eksekusi penalti, serta tiga gol seru.

Bukankah hasil ini sama dengan sukses yang dicetak Timnas Indonesia di leg pertama, saat bertarung di rumah sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (12/10/2023)?

Beda, Boss. Leg pertama digelar dalam persiapan sempurna, di mana para pemain mendapatkan kesempatan berlatih dengan waktu cukup. Termasuk tahap pengenalan lapangan--meski bermain dalam format home atau kandang.

Sedangkan leg kedua, hujan deras menyambut Timnas Indonesia saat akan menggelar latihan resmi atau official training.

"Situasinya seperti ini, mau tidak mau batal latihan. Cuaca tidak baik, jadi ya tidak ada pilihan lain. Saya tidak mau para pemain kena hujan, jadi latihan dibatalkan," jelas Pelatih Kepala Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, sebagaimana dikutip Metro Suara.com dari laman resmi pssi.org.

Jadi, latihan di lapangan terbuka atau outdoor ditiadakan. Versi indoor ada, akan tetapi tentunya memiliki keterbatasan, tanpa melibatkan feel tempat berlaga atau lokasi mirip tempat bertanding sesungguhnya.

Akan tetapi, hasil yang diperoleh memuaskan. Bahkan Coach Shin Tae-yong, sosok dengan standar tinggi bila berbicara tentang anak-anak asuhnya dan tergolong sosok yang tidak cepat puas pun menyampaikan apresiasi bahwa para pemain Timnas Indonesia tampil all-out di saat home and away. Baik di kandang sendiri mau pun saat bertandang.

Bila ditanya kuncinya di mana, tentu berpulang kepada para pemain sendiri.

Pasalnya saat Timnas Indonesia dibentuk, diawali pemanggilan Coach Shin Tae-yong, nama-nama yang masuk dan menjawab kesediaannya tentu mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Lepas dari hal-hal non-teknis seperti perizinan klub tempat bernaung sebagai pemain bola pro, para pemain punya standar agar secara teknis, mulai kesehatan, skill, hingga performa bisa tampil maksimal.

Seluruhnya berangkat dari disiplin, dan hal inilah yang ditekankan Coach Shin Tae-yong sejak hari pertama Training Centre (TC) atau pemusatan latihan berlangsung.

Mulai pemain yang bermain di liga Nasional Tanah Air sampai pemain abroad seluruhnya mesti hadir on-time.

Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong (kanan) menyalami pemainnya, Marc Klok (kiri) (7/9/2023) (sumber: [ANTARA FOTO/Moch Asim/rwa])

Paling tidak, terbayanglah salah satu contoh yang mesti datang begiu jauh dari Indonesia. Contohnya Shayne Pattynama, yang menyebutkan perlu paling tidak 22 jam dari tempatnya bermain bola pro di Viking FK, Stavanger, Norwegia sampai mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia.

Demikian pula para pemain abroad lainnya. Bahkan pemain di Indonesia sekali pun. Karena tidak semuanya bermarkas di Jakarta, sehingga perlu waktu untuk memenuhi panggilan PSSI via Coach Shin Tae-yong.

Beranjak dari on-time atau ketepatan waktu, tentunya kebugaran atau standar fit dari para pemain. Lantas skill dan performa. Semuanya mencerminkan bagaimana klub tempat mereka bernaung membina dan mempertahankan potensi para pemainnya. Sehingga secara tidak langsung, pemain mereka yang dipanggil masuk Timnas bisa menjadi "iklan" betapa kerennya klub mereka.

Sehingga tidak heran pula bila banderol alias harga pasaran para pemain "dibawa-bawa" saat main untuk timnas dan menunjukkan performa tinggi.

Contohnya Sandy Walsh, yang bermain di KV Mechelen, Belgia. Ia mengantongi banderol Rp 34,76 miliar. Atau Marc Klok, yang menjadi pemain di Liga Indonesia dengan nilai pasar tertinggi, mencapai Rp 7,82 miliar, bahkan pernah mencapai puncak Rp 8,26 miliar.

Load More