Acara liburan harus diperhitungkan dengan baik. Jangan sampai niat liburan di Tahun Baru 2023 untuk healing malah berujung petaka.
Jangan sampai seperti video yang memperlihatkan sekelompok orang yang tengah bermain air di sebuah air terjun lalu tiba-tiba debit air meningkat, mengalirkan banjir ke sungai di bawahnya.
Air kian membesar. Beberapa orang berhasil menyelamatkan diri ke tepi sungai, namun ada yang hanyut terbawa air, dan akhirnya tersisa seorang laki-laki terjebak di atas batu, menunggu pertolongan. Sayang video ini tidak menyebutkan lokasi wisata dan nasib korban yang hanyut, cuma berpesan: “Hati-hati pergi ke wisata air terjun di musim hujan”.
Video ini amat klop dengan adanya perkiraan cuaca ekstrem sepanjang 28 Desember 2022 hingga 6 Januari 2023. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian wilayah di 14 propinsi (antara lain Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua) berpotensi terkena dampak cuaca ekstrem. Cuaca ektrem tersebut berupa hujan lebat disertai angin kencang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengingatkan masyarakat agar tetap siap siaga terhadap cuaca ekstrem saat akan berwisata pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2023. ”Masyarakat yang berwisata alam di kawasan sungai, air terjun, dan pantai perlu waspada,” kata Abdul Muhari, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB.
Seperti kita ketahui, saat ini wisata glamping sedang tren. Nah, bagi masyarakat yang berlibur di aliran sungai dan air terjun, mereka harus bersiaga jika terjadi hujan lebat lebih dari dua jam.
"Kalau terjadi hujan lebih dari dua jam, visibility (pandangan) kita kurang, maka segera naik ke tempat yang lebih aman,” ungkap Abdul dalam acara daring Disaster Briefing di Jakarta, Senin (26/12/2022) lalu.
Sebaiknya, tunggu di tempat aman sampai hujan reda satu-dua jam. Apabila tidak terjadi peningkatan debit air yang signifikan, barulah kita kembali lagi ke sana.
Bagi masyarakat yang berwisata di pinggir pantai, Abdul mengingatkan agar selalu mendapatkan info tentang cuaca ekstrem dari BMKG.
Baca Juga: Nyelekit, AHY Lagi-lagi Bandingin Era Jokowi dengan SBY: Bedanya Jomplang!
"Karena biasanya (cuaca ekstrem) membawa gelombang pasang. Info itu benar-benar ter-update di lokasi di mana kita sedang berwisata," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Tukang Ojek di Pandeglang Jadi Tersangka Usai Penumpang Tewas Akibat Jalan Berlubang
-
Trump Terjepit Keputusan MA, Rupiah 'Terbang' ke Rp16.802
-
Hingga Meninggal, Nizam Korban Penganiayaan Ibu Tiri Tak Tahu Ibu Kandungnya Masih Hidup
-
Bank Jambi Nonaktifkan Layanan Digital, Apa Sebenarnya Terjadi Usai Dana Nasabah Hilang?
-
DPR Soroti Pidana Mati ABK Bawa Sabu 2 Ton: Bukan Pelaku Utama
-
7 Kelebihan dan Kekurangan Infinix Note 60 Pro, HP Midrange dengan Matrix Display
-
Peta Baru Industri EV: BEI Jadi Gelanggang Adu Kuat Raksasa Nikel Global
-
Dedi Mulyadi Jemput 13 Korban LC di NTT, Pastikan Proses Hukum Tetap Berlanjut!
-
Viral Pernyataan Influencer Cut Rizki Sebut Sahur Ganggu Jam Tidur, Langsung Tuai Kritik Pedas
-
Jadi Tren Baju Lebaran 2026, Ini Asal Usul Gamis Bini Orang yang Ramai Diburu