/
Selasa, 21 Maret 2023 | 11:18 WIB
ILUSTRASI - Pegawai pajak Kementerian Keuangan, Rafael Alun Trisambodo yang merupakan ayah dari Mario Dandy yang melakukan penganiayaan terhadap David. (Suara.com/Yaumal)

Rakyat Twitter mencoba membandingkan perlakuan yang diterima rakyat jelata dengan keluarga atau anak Pejabat Pajak dan Bea Cukai saat tiba di Tanah Air usai melakukan perjalanan dari luar negeri.

Hal ini dipicu oleh pengalaman Putri Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid saat tiba di bandara Soekarno-Hatta usai melakoni perjalanan dari Taiwan.

Alissa Wahid mengisahkan jika petugas bandara saat itu menyangka dirinya sebagai buruh migran, Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang pulang kampung.

Unggahan pengalaman Alissa Wahid itu memicu banyak rakyat Twitter yang menceritakan pengalaman mengenai buruh migran yang mengalami peristiwa tak mengenakan saat tiba di Tanah Air. Bahkan ada yang netizen yag mengisahkan pengalaman dimintai sejumlah uang oleh petugas. 

"Betul mbak, saya kerja di cruise ship ngga takut masuk bandara manapun tapi paling takut kalo udah pulang kampung ke negara sendiri, takut di palakin," tulis @jackjack***** membalas cuitan Alissa Wahid, Selasa (21/3/2023).

"Kejadian tahun berapa ya mba? Pekerja Migran Indonesia tau TKI khususnya perempuan sering banget jadi obyek pemeresan oknum petugas maupun biro penyalur. KPK pernah lakukan sidak di Soeta soal ini juga hanya saja belum update apakah masih terjadi lagi atau ga saat ini," timpal @emerson_yun*****.

Di sisi lain, publik menyoroti gaya hidup mewah yang dipamerkan keluarga dan anak pejabat pajak dan bea cukai.

Diketahui, gaya hidup mewah tidak hanya ditampilkan oleh Mario Dandy Satriyo dan mantan pejabat Dirjen Pajak Rafael Alun Trisambodo. Kehidupan glamor juga ditunjukkan istrinya Rafael Alun Trisambodo, lewat tas-tas branded dan mahalnya.

Istri Rafael Alun yang bernama Ernie Meike Torondek ini diketahui memiliki koleksi tas-tas branded yang bernilai puluhan hingga ratusan juta.

Baca Juga: Pelaku Pembacokan Kades di Tapanuli Selatan Ditangkap di Riau

Koleksi tas milik istri Rafael Alun itu terungkap dari thread viral akun media sosial twitter @logikapolitikid. Dalam video yang dibagikan akun tersebut, istri Rafael Alun berfoto sambil menggendong hingga menenteng tas mahalnya.

Terlihat, Istri Rafael Alun itu memiliki Tas Mini Lady Dior Bag yang diperkirakan harganya mencapai USD 5.300 atau setara Rp 80,9 juta.

Lalu ada gaya hedon istri dan anak Kepala Bea Cukai Makassar juga menjadi sorotan publik.

Berawal dari cuitan akun Twitter @PartaiSocmed, yang mengunggah gaya hidup mewah Atasya Yasmine, anak Andhi Pramono, kepala Bea Cukai Makassar.

Pada salah satu unggahan tersebut, Atasya Yasmine yang sedang menjadi sorotan terlihat mengenakan outfit yang totalnya mencapai lebih dari Rp 23 juta.

Atasya Yasmine terlihat mengenakan kaos lengan panjang Balenciaga seharga Rp 22 juta, celana I.AM.GIA seharga Rp 1 juta dan jepit rambut Versace seharga Rp 2,5 juta yang belum termasuk sepatunya.

"Gaya hidup anaknya Andhi Pramono, puteri Kepala Bea Cukai Makassar. Segitu banyak uang para pembayar pajak dikeluarkan untuk satu outfit belum termasuk sepatunya." tulis Twitter @PartaiSocmed, Rabu (8/3/2023).

Netizen menduga, anak dan keluarga pejabat pajak dan Bea Cukai itu membeli tas mewah dari luar negeri. Mereka membawanya ke Tanah Air namun lolos dari pemeriksaan petugas Bea Cukai di Bandara.

"RAT : saya orang 
@DitjenPajakRI
 , ngeluarin kartu pegawai sambil bawa hermes.  
@beacukaiRI
 : oh silahkan pak ga kena cukai kok," tulis @dolunay*** membalas cuitan Alissa Wahid dan Bea Cukai RI.

Sebelumnya diberitakan, ayanan Imigrasi dan Bea Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta kini tengah menjadi sorotan. Usai viral juara lomba nyanyi di Jepang kena biaya bea cukai sebesar Rp 4 juta untuk piala yang ia bawa pulang, kekinian putri Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid buka suara soal pengalaman pahitnya soal kelakuan petugas imigrasi di bandara itu.

Putri sulung Presiden Indonesia ke-4 itu menceritakan pengalamannya berhadapan dengan petugas imigrasi Bandara Soekarno-Hatta melalui akun Twitter miliknya, @AlissaWahid pada Senin (20/3/2023).

Saat itu Alissa Wahid pulang dari sebuah konperensi di Taiwan. Di bandara, ia diarahkan menuju meja pemeriksaan. Di sana, ia disangka sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja wanita (TKW) yang baru pulang kampung.

"Kamu pulang kerja ya di Taiwan? Berapa lama kerja di sana? Bawa apa aja? Buka kopernya," tulis Alissa Wahid.

Alissa Wahid lalu membuka koper dan memberikan paspor miliknya pada petugas. Ia mengatakan dirinya hanya berada di Taiwan selama tiga hari.

"Petugas : "Kerja apa 3 hari di taiwan? Kok bawaannya koper gede? Beli apa aja? Emang dibayar berapa?" tulis Alissa Wahid.

Alissa menjawab ia sebelumnya pergi ke Taiwan untuk mengikuti konperensi. Namun petugas itu tetap ngeyel dan bertanya dengan nada yang tak ramah.

"Petugas : "sering ya ke luar negeri?"
Saya : "ya. Bisa lihat di paspor, mbak."
Dia buka² paspor. 
Petugas : "kok sering ke luar. Kerja apa?"
Saya : "LSM"
Petugas menengok, tampangnya agak kecut, lalu kembalikan paspor : "Silakan"," tulis Alissa.

Alissa kemudian membereskan koper yang telah diacak-acak oleh petugas imigrasi.

"Abis itu kalau pas landing di Cengkareng bareng mbak2 TKI & saya gak lagi capek, saya suka barengin PMI yg cewek², just in case. Saya saja yg anytime bisa panggil paspampres, cukup stres diperlakukan intimidatif gitu. Apalagi mba² PMI yg gak pengalaman," tulis Alissa Wahid.

Ia melanjutkan, awalnya dirinya ingin mengetahui seperti apa perlakuan petugas imigrasi terhadap warga yang seharusnya mereka layani dengan baik. Rasa ingin tahunya pun terjawab.

"Tapi lama² sebel, makanya aku jawab LSM," kata dia.

Peristiwa itu sendiri dialami Alissa Wahid pada tahun 2019 atau 2020. Tapi ia masih mengingat betul bagaimana arogansi yang ditunjukkan petugas imigrasi itu pada dirinya.

"Nada bicaranya bener² intimidatif sih menurut saya. Padahal saya bukan orang yang kecil hati. Pas hadap²an sama polisi di depan GKI Yasmin aja saya berani adu ngeyel," keluhnya. 

Cuitan Alissa Wahid ini mendapat banyak komentar dari warga Twitter. Beberapa menceritakan pengalaman yang sama ketika berhadapan dengan layanan keimigrasian di bandara.

"Kejadian tahun berapa ya mba? Pekerja Migran Indonesia tau TKI khususnya perempuan sering banget jadi obyek pemeresan oknum petugas maupun biro penyalur. KPK pernah lakukan sidak di Soeta soal ini juga hanya saja belum update apakah masih terjadi lagi atau ga saat ini," tulis @emerson_yuntho.

Load More