News / Nasional
Senin, 03 Maret 2014 | 20:27 WIB
Mantan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (kanan) dan Deddy Mizwar (kiri) berjalan keluar ruang sidang pada sidang lanjutan suap perizinan Proyek Meikarta di PN Tipikor, Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/3). [ANTARA FOTO/M Agung Rajasa]

Suara.com - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, membantah isu yang mengatakan Gunung Ciremai sudah dilego kepada perusahaan energi asing, Chevron. Ia menegaskan bahwa isu yang mengatakan jika kawasan itu dijaga badan intelijen Amerika Serikat (CIA) hanyalah isapan jempol belaka.

Sebelumnya beredar kabar jika Gunung Ciremai, yang diyakini punya potensi geotermal, sudah dijual kepada Chevron dengan nilai Rp 60 triliun.

"Saya sudah baca dan isinya HOAX semua," tulis Ahmad dalam akun Twitter-nya, @aheryawan, Senin (3/3) petang.

Menurut dia hutan Taman Nasional Taman Gunung Ciremai tidak boleh diganggu dan harus dilindungi sesuai SK Menteri Kehutanan nomor 424/2004.

Gubernur yang akrab disapa Aher itu juga menegaskan bahwa potensi geotermal di Jawa Barat justru terletak di luar Ciremai.

"Seluruh potensi geotermal itu ada di luar kawasan Taman Nasional Ciremai," tulis Aher penjelasan yang mencapai 22 buat tweet itu.

Ia juga membantah isu yang menyebut jika Ciremai kini dijaga oleh aparat intelijen lokal dan asing.

"Isu dijaga CIA, BIN, USAID dll itu juga bohong. Yang jaga polhut (polisi kehutanan) dan masyarakat pecinta hutan," lanjut Aher.

Meski demikian dia mengakui jika Jawa Barat punya potensi geotermal yang besar. Dia bahkan mengklaim jika wilayahnya itu adalah penghasil geotermal terbesar di Tanah Air.

"Geotermal yang selama ini sudah berjalan adalah Gunung Salak, Wayang Windu, Kawah Darajat, Kawah Kamojang, Karaha Bodas Patuha," jelas politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Dia berjanji bahwa proyek geotermal di Jawa Barat tidak akan merugikan warga sekitar, karena lokasinya jauh dari pemukiman.

Load More