Suara.com - Tim penyelamat harus berhadapan dengan angin, ombak besar dan air keruh, Kamis (17/4/2014), dalam pencarian ratusan orang --sebagian besar anak sekolah-- yang hilang setelah feri Korea Selatan tenggelam lebih dari 24 jam lalu.
Penjaga pantai, pasukan Angkatan Laut dan beberapa penyelam swasta melakukan pencarian di perairan tempat kejadian, sekitar 20 kilometer dari pantai baratdaya negara tersebut.
Sebelumnya, tim penyelamat memukul-mukul lambung kapal yang terbalik itu dengan harapan ada balasan dari siapa pun terjebak di dalamnya, namun tidak terdengar tanggapan apa pun.
Kapal yang membawa 475 penumpang dan kru itu tenggelam pada Rabu dalam perjalanan dari pelabuhan Incheon menuju pulau peristirahatan Jeju.
Menurut pemerintah Korsel, sembilan orang ditemukan tewas dan 179 lainnya berhasil diselamatkan, sementara 287 penumpang lain kemungkinan masih terjebak di dalam kapal.
Seorang orangtua korban Park Yung-suk mengatakan kepada Reuters di pelabuhan Jindo yang menjadi pusat operasi penyelamatan, ia melihat jasad guru anak perempuannya dibawa ke pantai.
"Jika saja saya bisa menyelam, saya akan masuk ke air dan mencoba menemukan anak saya," katanya.
Anak Yung-suk merupakan satu dari 340 siswa dan guru dari Sekolah Menengah Danwon di Ansan, pinggir kota Seoul, yang berada dalam kapal itu.
Seorang pejabat penjaga pantai mengatakan, kapten kapal Lee Joon-seok (69 tahun) menghadapi penyelidikan kriminal, di tengah berita yang belum dipastikan bahwa ia adalah orang yang pertama kali melompat untuk menyelamatkan diri dari kapal naas itu.
Pejabat tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut, namun menurut media setempat, kapten kapal kemungkinan menghadapi dakwaan kelalaian yang menyebabkan kematian dan pelanggaran hukum yang mengatur tindakan kru kapal.
Beberapa korban selamat mengatakan bahwa Lee merupakan orang pertama yang diselamatkan namun tidak ada satupun yang melihatnya meninggalkan kapal.
Pihak penjaga pantai dan operator feri menolak berkomentar mengenai hal tersebut.
Meski perairan di lokasi kejadian relatif dangkal, kurang dari 50 meter, namun masih sangat berbahaya bagi sekitar 150 penyelam yang harus bekerja secepat mungkin, kata pakar.
Waktu hampir habis untuk bisa menyelamatkan mereka yang mungkin masih terjebak dalam kapal, kata mereka.
"Peluang untuk menemukan korban di sana bukan tidak ada," kata David Jardine-Smith, sekretaris Federasi Penyelamatan Maritim Internasional, seraya menambahkan bahwa kondisinya sangat sulit.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Respons Arogansi AS, Iran Siapkan Metode Pertempuran Mematikan
-
Media Eropa-Asia: Jika Pesawat Perang AS Bebas di Udara Indonesia akan Ubah Peta Kekuatan Regional
-
Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
-
BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan
-
Usai dari Rusia, Prabowo Temui Macron di Paris: Bahas Alutsista hingga Energi Bersih
-
Militer AS 18 Kali Langgar Wilayah RI Tanpa Maaf, Kini Berpotensi 'Terbang Seenaknya'
-
Pastikan Santunan Bagi Ahli Waris PHL, BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Negara Hadir Lindungi Pekerja
-
Surat Kemlu Bocor: Izin 'Terbang Bebas' Militer AS Berisiko Jadikan Indonesia 'Medan Perang'
-
Terseret Dugaan Kasus Korupsi, Nadiem Makariem Akui Kurang Pahami Budaya Birokrasi
-
Trump Kritik Paus Leo XIV hingga Lecehkan Yesus, Presiden Iran: Gak Bisa Dimaafkan!