Suara.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, mengatakan, bangsa Indonesia kurang percaya diri untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai identitas diri.
Hingga kini, bahasa Indonesia masih sebatas bahasa komunikasi, belum menjadi identitas negara. Semestianya, bahasa Indonesia dapat menjadi identitas negara, sesuai dengan amanat Sumpah Pemuda.
"Kita bisa lihat penamaan pusat perbelanjaan, perumahan, jalan-jalan dan nama-nama tempat bisnis lainnya lebih bangga menggunakan bahasa asing. Bangsa kita ini tidak 'Pede' (percaya diri-red) menggunakan bahasanya sendiri," kata Mendikbud pada seminar bahasa dan lokakarya lembaga adat sekaligus pemberian anugerah kebahasaan kepada sejumlah tokoh, Senin (18/8/2014).
Fakta tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa bahasa Indonesia masih terpinggirkan di ruang publik. Bahkan kondisi tersebut juga terjadi di lembaga pendidikan di mana dalam kurikulum lama, di mana pelajaran bahasa Indonesia hanya diberikan waktu dua jam pelajaran saja, sedang bahasa Inggris bisa empat jam.
"Ini sungguh sangat membuat kita semua menjadi gemas," ujarnya.
Dengan jumlah penutur hampir 350 juta, seharusnya bangsa Indonesia lebih bangga untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas diri bangsa. Dengan demikian, bahasa Indonesia memiliki daya dongkrak untuk menjadi bahasa dunia.
"Pemerintah terus mendorong agar Bahasa Indonesia dijadikan sebagai bagian yang melekat di dalam apa saja yang terkait sebagai ideologi politik dan identitas bangsa," katanya.
Sementara itu pengamat politik, Yudi Latief, yang menjadi salah satu penerima anugerah tokoh bahasa memberikan apresiasanya kepada Badan Bahasa yang memilihnya sebagai salah satu penerima anugerah.
"Ada perhatian dan pengamatan terhadap tulisan-tulisan saya. Sebelumnya, bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua bagi saya dan seiring perkembangan waktu kini menjadi bahasa pertama, boleh dikatakan bahasa Indonesia menjadi satu-satunya bahasa untuk mengekspresikan ide-ide saya secara lebih fasih," katanya.
Ia mengatakan, bahasa menunjukkan bangsa dan peran-peran lembaga bahasa telah berhasil memodernisasi bahasa Indonesia hingga ada satu buku dikarang oleh sarjana asal Prancis berjudul "Kasus Keajaiban Bahasa Indonesia", yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang cukup mampu memodernisasikan dirinya sehingga perlahan-lahan bisa menjadi bahasa pengetahuan dan bahkan bisa menjadi bahasa dunia.
Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling fleksibel di dunia. Berbagai bahasa yang ada di Indonesia mulai dari bahasa Arab, bahasa Sansekerta, hingga bahasa Inggris bisa disesuaikan padanannya dengan kosa bahasa Indonesia, katanya.
"Bahasa Indonesia ibarat kuali besar. Segala bahasa ada. Dan ini memudahkan kita mendorong bahasa Indonesia menjadi bahasa dunia," jelasnya.
Untuk menjadi bahasa dunia, dikatakan Yudi, selain jumlah penutur, hal penting lainnya adalah posisi ekonomi dan politik suatu bangsa. Semakin kuat posisi suatu bahasa dalam bidang ekonomi dan politik maka peluang menjadi bahasa dunia semakin besar. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Henri Curiga Kasus Roy Suryo Dikebut, Sebut Ada Upaya Cegah Ijazah Jokowi Diuji di Pengadilan
-
Di Tengah Sorotan Ekonomi, Prabowo Minta Rosan Buka Data Masuknya Investasi Asing ke Indonesia
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan