Suara.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbaai, mendesak agar pemerintah Indonesia langsung bertindak tegas terhadap para pendukung organisasi Islamic State (IS) atau yang sebelumnya dikenal juga dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Menurut Ansyaad, pendukung ISIS bisa dikenai pasal 23 huruf (f) Undang-Undang (UU) No.12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI, yang berbunyi bahwa Warga Negara Indonesia akan kehilangan kewarganegaraan jika secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut.
"Tinggal sekarang bagaimana menegakkannya. Pilihan ada pada pemerintah, mau tegas langsung atau persuasif dulu. Kalau saya sendiri, lebih baik langsung cabut saja warga negaranya. Saya yakin orang-orang ini (pendukung ISIS) tidak tahu apa akibat kalau dicabut kewarganegaraannya," kata Ansyaad, Senin (25/8/2014), dalam diskusi "Foreign Policy Community of Indonesia: Indonesia Merespons Ancaman ISIS", di Jakarta.
Ansyaad mengungkapkan, para pendukung ISIS yang sudah teridentifikasi sebagian besar merupakan mantan teroris yang pernah beroperasi di Indonesia bahkan pernah ditahan. "Orang-orang lama" itu, sebut Ansyaad, terlibat dalam beberapa aksi teror yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
"Mereka ini orang yang sama, yang harusnya sudah dicabut kewarganegaraannya, tapi itu belum dilakukan (pemerintah). Mereka tunduk terhadap suatu kekuasaan dari negara lain. Warga negara apa ini? Sekarang kita mau manis-manis membujuk seperti pada anak kecil, atau mau tegas?" sambung Ansyaad.
Berdasarkan data yang diidentifikasi BNPT, Ansyaad menyebut terdapat 34 orang Indonesia yang sudah dibaiat atau disumpah oleh ISIS, yang sebagian besar merupakan tokoh-tokoh teroris yang telah beroperasi di Indonesia.
"Bahayanya bukan hanya di sana, tapi sekembalinya mereka ke Tanah Air. Apa yang akan terjadi? Kita punya pengalaman buruk di Afghanistan. Sampai di sini, mereka melakukan organisasi yang melakukan aksi teror. Ini yang perlu kita waspadai," ujar Ansyaad.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menegaskan, warga negara Indonesia yang mendukung ISIS akan diganjar konsekuensi hukum. Namun, ia mengaku belum bisa memastikan apakah sanksi hukumnya langsung penghilangan kewarganegaraan, atau melalui tahap proses lain dulu.
"Kalau mereka kembali, ada konsekuensi hukum. Mereka tidak boleh angkat senjata untuk memerangi negara lain. Hukumnya ada. Dan sudah ada wacana pencabutan warga negara. Dari segi hukum memungkinkan. Namun apakah jadi kebijakan atau tidak, masih dibahas," jelas Dino.
Menurut Dino, pemerintah lewat Kementerian Luar Negeri juga akan menggelar rapat khusus bersama duta besar dari negara-negara Timur Tengah dan negara lain yang aktif melawan ISIS. Hal ini menurutnya penting, karena untuk mencegah pergerakan ISIS diperlukan kerja sama internasional.
"Awal September, Kemenlu akan rapat khusus dubes negara-negara Timur Tengah dan negara lain yang aktif melawan ISIS. Kami akan koordinasi dan bertukar informasi," kata mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat (AS) itu. [Antara]
Berita Terkait
-
BNPT Sebut ada 112 Anak dan Remaja Terpapar Paham Radikal Lewat Sosial Media
-
BNPT Sebut Ada 27 Perencanaan Aksi Teror yang Dicegah Selama 3 Tahun Terakhir
-
BNPT Temukan 21.199 Konten Radikal, Anak Jadi Sasaran Terorisme di Ruang Digital
-
Natalius Pigai Balas Dino Patti Djalal: Kritik Anda ke Menlu Sugiono Isinya Zonk Semua
-
4 Kritik Tajam Dino Patti Djalal ke Menlu Sugiono: Ferrari Kemlu Terancam Mogok
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Hujan Deras Genangi Jakarta Barat, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan
-
Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota
-
Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini 5 Kebiasaan yang Kini Bisa Dipidana oleh KUHP Nasional
-
Misteri Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Ini 7 Fakta Terkini
-
Sekolah di Aceh Tamiang Ditargetkan Bisa Beroperasi 5 Januari 2026
-
Teriakan Histeris Anak Pulang Kerja Ungkap Kematian Misterius Satu Keluarga di Warakas
-
Misteri Kematian Satu Keluarga di Warakas, Polisi Temukan Teh dan Jasad Melepuh
-
Anggaran Besar, Celah Lebar: Mengapa Pendidikan Selalu Jadi Lahan Basah Korupsi?
-
Terbongkar! SP3 Kasus Nikel Konawe Utara 'Disimpan' 21 Hari oleh Pimpinan KPK Lama
-
Kereta Panoramic Jadi Tren Wisata Baru, Jumlah Penumpang Tumbuh 38,6 Persen Sepanjang 2025