Suara.com - Anggota Fraksi Golkar DPR Meutya Hafidz menyayangkan tindakan anggota Polri di Makassar, Sulawesi Selatan, menganiaya fotografer yang tengah mengambil gambar demonstrasi mahasiswa Universitas Negeri Makassar untuk menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak.
"Wartawan saat sedang bertugas itu dilindungi negara," kata mantan wartawan televisi tersebut, Jumat (14/11/2014).
"Dalam situasi apapun, kita menganut sistem tidak boleh ada kekerasan terhadap wartawan. Wartawan sedang meliput tidak melakukan apapun. Tidak ada pembenaran bagi polisi lakukan penyerangan. Saya mengimbaunya supaya diberi sanksi dan mengusut," Meutya menambahkan.
Meutya meminta aparat keamanan mengikuti prosedur dalam menangani aksi demonstrasi. Begitu juga dengan demonstran, diharapkan tetap mematuhi tata tertib.
Kasus kekerasan wartawan di Kampus Universitas Makassar itu terjadi Kamis 13 November. Semula, polisi melarang wartawan meliput aksi tersebut, lama-lama mereka menendang dan memukul.
Wartawan berusaha meliput aksi tersebut karena terjadi bentrok fisik antara mahasiswa dan polisi. Dalam insiden ini, Wakil Kepala Polrestabes Makassar AKBP Totok Lisdiarto terluka karena terkena panah di bagian rusuk kanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Mendagri: Program Tiga Juta Rumah Wujud Kepedulian Presiden kepada "Rakyat Kecil"
-
Mendagri: Program 3 Juta Rumah Percepat Akses Hunian Layak bagi Masyarakat Kurang Mampu
-
Polisi Buru Kiai Ashari! Tersangka Cabul Santri Ponpes Pati Bakal Dijemput Paksa Jika Mangkir
-
Sedia Payung dan Jas, BMKG Ingatkan Jakarta Potensi Hujan Sore Ini!
-
'Takut Diamuk Massa': Alasan Klasik di Balik Tabrak Lari, Mengapa Jalanan Kita Begitu Beringas?
-
Ketum TP PKK Ajak Warga Sulsel Tingkatkan Imunisasi Anak Demi Generasi Sehat
-
Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Mendagri Tito Bersama Menteri PKP Tinjau Program BSPS di Balikpapan
-
Kemnaker Siapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Dukung Pertumbuhan Pasar EV dan Green Jobs
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas