Suara.com - Wajahnya seketika berubah, saat ia menceritakan kepedihan yang menimpa 10 tahun silam. Kedua bola mata berkaca-kaca, menahan air mata. Meski tak tumpah menyentuh pipi, wajahnya tetap terlihat sedih. Larut dalam kepiluan kenangan lalu. Begitu juga dengan suaranya, parau.
Namanya Sayed Muhammad Husen. Lelaki berusia 49 tahun itu menjadi salah korban tsunami yang kehilangan anak dan istri.
"Tak tahu dimana jasad mereka. Saya sudah mengikhlaskan mereka kembali kepada-Nya," kata Sayed saat ditemui Kamis (25/12/14) di Banda Aceh.
Saat tsunami melanda, diceritakan Sayed, ia tengah berada gedung Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Meski hari libur, ia tetap bekerja melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Panitia Pelaksana Sosialisasi Ekonomi Syariah MPU Aceh.
"Pagi itu saya berangkat kerja diantar istri. Saya tiba lebih pagi ke Gedung ICMI, karena harus mempersiapkan berbagai kebutuhan acara," ujarnya.
Sayed berpisah dengan istri setelah terjadi gempa besar. Istrinya yang bernama Nour Izmi Nurdin, kembali ke rumah di Desa Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh setelah keadaan kembali normal. Kata dia, meski guncangan gempa begitu kuat, tak ada firasat buruk menyertainya.
"Setelah gempa, Mimi (panggilan istri Sayed) kembali. Entah dari mana berjalan, saya tidak tahu. Tak ada firasat apapun saat itu," katanya.
Karena merasa kondisi baik-baik saja, Sayed lantas memutuskan untuk melihat-lihat suasana Aula ICMI, tempat berlangsungnya workshop. Saat itu, Sayed ditemani petugas kebersihan gedung yang bernama Nazar. Tak lama berselang, tiba-tiba saja air Krueng Daroy di halaman gedung ICMI meluap.
"Orang-orang berlarian ke sana. Beberapa pemuda juga mengangkat mayat dari aliran deras air Krueng Daroy," katanya.
Kendati demikian, Sayed tidak tepengaruh dengan suasana itu. Ia memilih tetap berada di ruangan untuk mempersiapkan berbagai kekurangan acara. "Sampai pukul 10.00 WIb belum juga ada tanda-tanda peserta datang. Tapi tetap saya tidak punya firasat jelek," ucapnya.
Meski ruangan masih kosong, Sayed tak patah semangat. Ia tetap memutuskan untuk menunggu para peserta hingga waktu dzuhur tiba. Setelah melaksanakan salat dzuhur, Sayed kembali melihat kondisi Aula. Dan ternyata masih tidak berpenghuni. "Barulah saya putuskan untuk kembali ke rumah," katanya.
Dengan meminta bantuan Nazar, Sayed pun kembali. Awalnya, kata Sayed, agar perjalanan tidak terganggu, Ia dan Nazar akan melewati Jalan Iskandar Muda menuju Ulee Lheu, lalu belok melalui Desa Deyah Geulumpang untuk sampai ke rumah. Namun rencana itu sia-sia, sesampai di kawasan Taman Sari, Banda Aceh, sepeda motor tak bisa lagi berjalan.
"Karena sudah dipenuhi lumpur jadi gak bisa jalan lagi. Saya lantas memutuskan berjalan kaki hingga sampai lapangan Blang Padang. Di situ saya dengar dari orang-orang kalau desa tempat saya tinggal telah hancur, kita tidak bisa lagi ke sana," kata Sayed.
Hati Sayed bergetar sambil menimbulkan tanda tanya, Musibah apa yang terjadi ini ? Sebab ia sendiri memang melihat banyak tumpukan sampah bangunan rumah yang hancur. Mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Ada juga yang merintih kesakitan menahan tumpukan kayu.
"Saya sempat lihat dari dekat mayat anak-anak yang diletakkan di pinggir jalan, siapa tahu anak itu mirip dengan dua anak saya Nada Nursaid yang 6 tahun dan Rif'ah Nusaid yang berusia 1,5 tahun," katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Bencana Aceh 2025: PLN Catat 442 Titik Kerusakan Listrik, Jauh Melampaui Dampak Tsunami 2004
-
Mengapa Cara Prabowo Tangani Bencana Begitu Beda dengan Zaman SBY? Ini Perbandingannya
-
Kisah Pria Aceh Korban Selamat Tsunami, Pindah-Pindah Panti Asuhan sampai Dewasa
-
Gua Ek Leuntie: Jejak Tsunami Tertua di Aceh Terungkap!
-
Momen Peringatan 20 Tahun Tsunami Aceh di Asia
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Demokrat Bicara Soal Sikap SBY Terkait Pilkada Dipilih DPRD: Serahkan Ke AHY, Ikuti Langkah Prabowo
-
KPK Geledah Kantor DJP, Amankan Dokumen dan Uang 8.000 SGD
-
Dede Yusuf Jelaskan Makna 'Matahari Satu' SBY: Demokrat Satu Komando di Bawah AHY
-
Tragis! Tiga Warga Cilincing Tersengat Listrik di Tengah Banjir Jakarta Utara
-
IKN Nusantara: Narasi Kian Meredup Meski Pembangunan Terus Dikebut?
-
Kejaksaan Agung Mutasi 19 Kepala Kejaksaan Negeri di Awal Tahun
-
KPK Ungkap Petinggi PBNU Diduga Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji
-
Fahri Hamzah: Pilkada Lewat DPRD Diskusi Efisiensi, Jangan Terlalu Curigai Prabowo
-
Sekolah Tanpa Hukuman? Begini Arah Baru Disiplin ala Abdul Muti
-
Hadapi Cuaca Ekstrem, Jaga Kesehatan dan Kebersihan dengan 10 Tips Ini