Suara.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Jawa Barat mengkhawatirkan 'demam' batu akik yang saat ini menjadi fenomena di tengah masyarakat dikhawatirkan bisa merusak akidah atau akhlak seseorang.
"Di Islam menggunakan batu akik tidak dilarang atau haram asalkan tidak dibalut dengan cincin emas. Tapi yang kami khawatir demam batu akik ini menyebabkan masyarakat rusak akidahnya, yang dikhawatirkan pecinta batu perhiasan ini percaya batu mempunyai kekuatan yang mengarah ke syirik atau musrik," kata Seketaris MUI Kota Sukabumi, M Qoshoy kepada Antara, di Sukabumi, Kamis (26/2/2015).
Menurutnya, dari pantauan pihaknya memang sudah ada gejala di sebagian masyarakat yang mulai mendewakan batu akik, seperti percaya batu akik itu mempunyai khodam, dapat menyembuhkan sesuatu, bisa menarik rizki secara mudah, menggaet wanita dan lain-lain.
Dengan fenomena ini, pihaknya menjadi khawatir karena batu akik bukan sebatas sebagai perhiasan, tetapi di-Tuhankan oleh segelintir orang yang men-Tuhankan benda mati bernilai ekonomi tinggi itu.
Lebih lanjut, ini yang menjadi tugas pihaknya, ulama dan organisasi Islam untuk meluruskan kembali para pecinta batu akik, agar batu perhiasan tersebut tetap memberikan manfaat tanpa merusak akidah.
Dia mengakui pula bahwa saat ini dengan adanya demam batu akik sangat membantu perekonomian masyarakat, karena biasanya perajin hanya mendapatkan keuntungan terbatas, tetapi setelah fenomena ini keuntungannya berlebih, dan bisa membantu orang lain dalam mendongkrak ekonominya.
"Kami juga akan memanggil 40 ulama dari berbagai elemen untuk membahas fenomena batu akik ini agar tidak merusak akidah, karena salah satu tugas MUI adalah meluruskan akidah dan memberikan pemahaman terhadap ajaran Islam yang benar," tambahnya.
Sementara, Wali Kota Sukabumi, M Muraz mengatakan, dengan fenomena batu akik ini pertumbuhan ekonomi masyarakat cukup terbantu, walaupun di Kota Sukabumi tidak mempunyai tambang atau galian batu perhiasan tersebut, tetapi bisa merasakan manfaatnya seperti melalui jasa pemotongan, pembentukan sampai penggosokan.
Namun, pihaknya juga tidak ingin dengan demam batu akik ini di daerah penghasil menjadi rusak ekosistemnya, karena maraknya penggalian tambang apalagi sampai akidahnya rusak seperti percaya bahwa batu akik mempunyai kekuatan magis. "Demam batu akik ini mempunyai dua dampak, yakni positif dan negatif," katanya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi
-
Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
-
Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan
-
Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
-
5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda
-
Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah
-
PTBA Dorong Budaya Inovasi Lewat BIGMIND Innovation Award 2026, Ubah Ide Jadi Dampak
-
AHY Klarifikasi Maksud Pidato, Apa Respons Prabowo?