Suara.com - Pemerintah DKI Jakarta menganggap belanja pegawai dalam draf APBD 2015 yang mencapai Rp19 triliun sebagai hal yang wajar meski mendapat kritikan Kementerian Dalam Negeri.
Sekertaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah menerangkan, anggaran tersebut masih jauh di bawah batas maksimal alokasi dana gaji sebesar 30 persen dalam Peraturan Mendagri.
"Arahan pak Gubernur terkait tunjangan kinerja kita akan berikan penjelasan. Pertama, bahwa kita ingin menuju pemerintahan yang bersih tentu pegawainya harus digaji dengan baik," ujar Saefullah ketika rapat dengan Banggar DPRD DKI Jakarta, Rabu (18/3/2015).
Dengan adanya gaji yang besar, Saefullah menjelaskan para pejabat dan PNS DKI dilarang dan bisa dicegah melakukan pungutan liar.
"PNS DKI juga dilarang keras main presentasi di sebuah proyek fisik dan non fisik. Presentasinya kan, masih di bawah batas, baru 24 persen dari 30 persen. Ini masih bagus," kata Saefullah.
Penjelasan Saefullah, itu diperkuat dengan pernyataan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta, Agus Suradika. Dia menegaskan anggaran belanja pegawai DKI tahun 2015 akan tetap sebesar Rp19 triliun.
"Anggaran (sekitar) Rp19 triliun itu akan tetap digunakan untuk belanja pegawai, karena itu masih 24 persen dari APBD," ujar Agus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan
-
Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama