News / Internasional
Selasa, 05 Mei 2015 | 03:05 WIB
Beberapa korban cedera akibat gempa Nepal dibaringkan di atas tandu di Bandara Kathmandu, usai dievakuasi dari daerahnya masing-masing, Kamis (30/4/2015). [Reuters/Danish Siddiqui]

Suara.com - Nepal meminta negara-negara asing menyelesaikan operasi pencarian dan penyelamatan yang telah berlangsung sembilan hari setelah gempa bumi yang menewaskan lebih dari 7.000 orang karena sekarang tak ada harapan menemukan penyintas di antara reruntuhan.

Puluhan negara mengirim tim, termasuk Indonesia, untuk menemukan penyintas setelah negara Himalaya itu dilanda gempa berkekuatan 7,8 magnitude pada 25 April dan merupakan gempa terburuk sejak 1934.

Pemerintah Nepal kini meyakini bahwa upaya pencarian dan penyelamatan hampir selesai.

"Mereka bisa pergi. Bila mereka juga spesialis di bidang pembersihan reruntuhan, mereka boleh tetap tinggal," kata Rameshwor Dangal, suatu pakar di Kementerian Dalam Negeri Nepal seperti dilansir Reuters, Senin (4/5/2015).

Gempa tersebut menyebabkan 7.276 orang meninggal dan melukai 14.300 orang lainnya.

Perdana Menteri Nepal, Sushil Koirala sebelumnya memperkirakan jumlah korban dapat mencapai 10.000 jiwa.

Pada Senin polisi dan relawan menemukan jasad 100 orang pendaki dan penduduk desa yang tertimbun salju longsor yang terjadi akibat gempa, di suatu wilayah terpencil dan terus menggali salju dan es untuk mencari korban-korban hilang lainnya.

Banyak negara menjanjikan bantuan dana yang diperlukan untuk membangun kembali rumah-rumah, rumah sakit dan bangunan bersejarah.

Negara tetangga seperti India mengirimkan truk-truk membawa bahan bantuan dan memberangkatkan helikopter untuk menyelamatkan ribuan orang dari kota-kota dan kampung terpencil.

Kepala Pasukan Tanggap Darurat Nasional India (NDRF) , salah satu badan bantuan internasional yang pertama tiba setelah gempa, mengatakan telah diminta oleh pemerintah Nepal untuk menyelesaikan operasi penyelamatan. (Reuters)

Load More