Suara.com - Salah satu tokoh Petisi 50, Chris Siner Key Timu, meninggal dunia di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta Pusat akibat kanker usus stadium empat.
"Bapak sebetulnya sudah menderita penyakit kanker sejak lama, namun baru diketahui sekitar tiga minggu yang lalu. Beliau akan dikebumikan pada hari Kamis depan di Pondok Rangon, Jakarta," kata istri Chris, Irma Key Timu, saat ditemui Antara dalam acara pemakaman gerejawi (misa requiem) di Jakarta, Selasa dini hari (5/5/2015).
Chris sendiri adalah penggagas Petisi 50 bersama sejumlah tokoh nasional lainnya pada 1980 dengan tujuan mengoreksi kebijakan pemerintah mantan Presiden Soeharto dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (sekarang TNI) yang dinilai melencengkan Pancasila.
Akibat dari keberanian menantang kekuasaan Soeharto, Chris bersama tokoh-tokoh Petisi 50 disingkirkan dari arena politik dan sulit mendapatkan hak-hak ekonomi.
"Salah satu pelajaran terbesar dari bapak untuk saya dan anak-anak saya adalah kesatuan antara kata dan perbuatan. Bapak juga tidak pernah takut mengutarakan kebenaran di depan penguasa," kata Irma.
Rasa bangga yang sama juga diutarakan oleh anak Chris, Thomas Key Timu, yang mengaku kagum dengan keberanian sang bapak.
Jasa pria kelahiran Flores tahun 1939 itu juga nampak diakui oleh sejumlah tokoh nasional yang pada Selasa dini hari mengirim karangan bunga ungkapan duka cita dalam acara pemakaman gerejawi.
Di antara tokoh-tokoh politik yang mengirim karangan bunga duka cita adalah A.M Fatwa, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarno Putri, politisi PDIP Hasto Kristiyanto, serta Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.
Salah satu tokoh yang hadir dalam pemakaman gerejawi di Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia pada Selasa dini hari tersebut adalah Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon.
"Saya beberapa kali berdiskusi dengan pak Chris dan menurut saya beliau adalah tokoh yang konsisten memperjuangkan ide-idenya sejak zaman Orde Baru," kata Fadli. (Antara)
Berita Terkait
-
Sindir Orde Baru, Megawati: Soekarno Ditahan Tanpa Pengadilan karena Pak Harto Ingin Jadi Presiden
-
Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
-
Ulasan Namaku Alam: Kisah Emosional Anak Korban Stigma Politik Orde Baru
-
Prabowo Masih Pakai Gaya Orde Baru, Kepuasan Publik Anjlok
-
Stop Romantisasi Orde Baru: Membaca Ulang Krisis 1998
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Bebas Kusam! Ini 5 Body Serum Efek Tone Up untuk Tampilan Kulit Cerah
-
5 Perbedaan PIE dan PIH Bekas Jerawat dan Cara Membedakannya
-
Dari Fashion ke Wellness, Ariy Arka Menemukan Cara Baru Merawat Diri di Tengah Rutinitas
-
Jangan Tertukar! Ini Perbedaan Komponen Biotik dan Abiotik di Sekitar Kita Beserta Contohnya
-
Bukan Sekadar Baca Slide! 4 Rahasia Presentasi Maut untuk Pikat Klien
-
Wajah Kemanusiaan di Tengah Kesenjangan Kelas dalam Film 'Parasite'
-
Senin 24 Agustus 2026 Bank Buka atau Tidak? Ini Jadwal Operasional saat Libur Maulid Nabi
-
Bahlil Jawab Isu Pembatasan Pertalite: Masih Dikaji, Belum Ada Perubahan!
-
Mendagri Jawab Isu Haji Isam Koordinir Karhutla Kalsel Atas Mandat Prabowo
-
5 Sampo Uban Terbaik untuk Pria, Praktis Tak Gampang Luntur