Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait (kiri). [Antara/Rudi Mulya]
Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mendesak Badan Reserse Kriminal Polri mengusut tuntas kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap ibu hamil dan dua anaknya di Teluk Bintuni, Papua Barat.
"Kami minta dukungan dari Kabareskrim, tadi diterima dengan baik. Saya sampaikan kronologis peristiwa pembantaian satu keluarga dimana seorang Ibu dan tiga anaknya satu dalam kandungan, kemudian usia enam tahun dan dua tahun mengalami pembantaian sadis dan diluar akal sehat," kata Arist usai menemui Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Anang Iskandar di Mabes Polri, Jumat (18/9/2015) sore.
Arist menjelaskan kasus tersebut terjadi pada 26 Agustus 2015. Korbannya terdiri dari Frelly Dian Sari (35), Putri Natalia (7), dan Andika (2).
Menurut informasi yang didapatkan Komnas PA, sebelum kejadian, Frelly yang tengah hamil empat berada di rumahnya bersama dua anak. Yulius Hermanto, suami Frelly yang berprofesi sebagai kepala sekolah, ketika itu, tengah pergi untuk mengantar guru honorer ke daerah Yensey. Dia pergi sehari sebelum istri dan anaknya dibantai.
Saat ditemukan warga pada tanggal 27, kondisi ketiga korban sangat mengenaskan, antara lain bagian vital tubuh Frelly disayat hingga ke pusar.
"Diduga korban diperkosa sebelum dibunuh," katanya.
Di sekujur tubuh kedua anak Frelly juga terdapat bekas luka sayatan benda tajam.
"Hasil visumnya sudah ada dan bekas senjata tajam. Bahkan kepala anak itu hampir putus," kata Arist.
Dari olah TKP, polisi menemukan sarung parang di lokasi kejadian.
Tersangka pembunuh dan pemerkosa diduga oknum TNI berinisial ST. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan oleh penyidik Polres Teluk Bintuni.
Polres Teluk Bintuni, kata Arist, pun telah menyerahkan berkas penyelidikan terhadap tersangka ST kepada Datasemen Polisi Militer Teluk Bintuni, Papua Barat. Namun, kata Arist, Denpom belum mau menerima perkara, akibatnya masyarakat tidak puas dan memicu kemarahan hingga menimbulkan situasi tak kondusif di Teluk Bintuni.
"ST sudah diserahkan ke Denpom di sana, tapi Denpom di sana belum mau terima. Padahal itu mekanismenya begitu bila pelaku oknum TNI," katanya.
Arist dan Anang Iskandar rencananya pada awal pekan depan akan berangkat ke Teluk Bintuni dan berkoordinasi dengan Kapolda Papua Barat untuk menangani kasus tersebut.
"Hari Senin (pekan depan) saya dan Pak Anang akan terbang ke Papua Barat berkoordinasi dengan Kapolda di sana lalu bersama-sama akan ke Bintuni untuk menenangkan masyarakat. Karena masyarakat di sana merasa tidak ada keadilan, mereka berpikir kok sudah ada tersangka tapi belum ditangkap-tangkap," katanya.
Sebelum berangkat ke Papua Barat, Arist akan bertemu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menyerahkan berkas perkara kasus pembantaian dan pemerkosaan yang diduga dilakukan oknum TNI.
"Dalam waktu dekat kami akan bertemu Panglima TNI untuk menyerahkan berkas-berkas untuk ditindaklanjuti oleh Denpom," katanya.
"Kami minta dukungan dari Kabareskrim, tadi diterima dengan baik. Saya sampaikan kronologis peristiwa pembantaian satu keluarga dimana seorang Ibu dan tiga anaknya satu dalam kandungan, kemudian usia enam tahun dan dua tahun mengalami pembantaian sadis dan diluar akal sehat," kata Arist usai menemui Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Anang Iskandar di Mabes Polri, Jumat (18/9/2015) sore.
Arist menjelaskan kasus tersebut terjadi pada 26 Agustus 2015. Korbannya terdiri dari Frelly Dian Sari (35), Putri Natalia (7), dan Andika (2).
Menurut informasi yang didapatkan Komnas PA, sebelum kejadian, Frelly yang tengah hamil empat berada di rumahnya bersama dua anak. Yulius Hermanto, suami Frelly yang berprofesi sebagai kepala sekolah, ketika itu, tengah pergi untuk mengantar guru honorer ke daerah Yensey. Dia pergi sehari sebelum istri dan anaknya dibantai.
Saat ditemukan warga pada tanggal 27, kondisi ketiga korban sangat mengenaskan, antara lain bagian vital tubuh Frelly disayat hingga ke pusar.
"Diduga korban diperkosa sebelum dibunuh," katanya.
Di sekujur tubuh kedua anak Frelly juga terdapat bekas luka sayatan benda tajam.
"Hasil visumnya sudah ada dan bekas senjata tajam. Bahkan kepala anak itu hampir putus," kata Arist.
Dari olah TKP, polisi menemukan sarung parang di lokasi kejadian.
Tersangka pembunuh dan pemerkosa diduga oknum TNI berinisial ST. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan oleh penyidik Polres Teluk Bintuni.
Polres Teluk Bintuni, kata Arist, pun telah menyerahkan berkas penyelidikan terhadap tersangka ST kepada Datasemen Polisi Militer Teluk Bintuni, Papua Barat. Namun, kata Arist, Denpom belum mau menerima perkara, akibatnya masyarakat tidak puas dan memicu kemarahan hingga menimbulkan situasi tak kondusif di Teluk Bintuni.
"ST sudah diserahkan ke Denpom di sana, tapi Denpom di sana belum mau terima. Padahal itu mekanismenya begitu bila pelaku oknum TNI," katanya.
Arist dan Anang Iskandar rencananya pada awal pekan depan akan berangkat ke Teluk Bintuni dan berkoordinasi dengan Kapolda Papua Barat untuk menangani kasus tersebut.
"Hari Senin (pekan depan) saya dan Pak Anang akan terbang ke Papua Barat berkoordinasi dengan Kapolda di sana lalu bersama-sama akan ke Bintuni untuk menenangkan masyarakat. Karena masyarakat di sana merasa tidak ada keadilan, mereka berpikir kok sudah ada tersangka tapi belum ditangkap-tangkap," katanya.
Sebelum berangkat ke Papua Barat, Arist akan bertemu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menyerahkan berkas perkara kasus pembantaian dan pemerkosaan yang diduga dilakukan oknum TNI.
"Dalam waktu dekat kami akan bertemu Panglima TNI untuk menyerahkan berkas-berkas untuk ditindaklanjuti oleh Denpom," katanya.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Lagi Anjangsana, Prajurit TNI Justru Gugur Diserang OPM, Senjatanya Dirampas
-
Suara PKS Tak Sesuai, MK Perintahkan KPU Penghitungan Suara Ulang Pada 7 TPS di Teluk Bintuni
-
Jokowi Resmikan Proyek Penghasil Gas Bumi Terbesar se-Indonesia di Papua Barat
-
Berkaca dari Freeport dan Blok Mahakam, Jokowi Diminta Segera Nasionalisasi LNG Tangguh
-
Presiden Joko Widodo Klaim Deforestasi Menurun Signifikan, KNPI Sebut 3.500 Hektare Hutan Mangrove Dibabat Demi Proyek
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Kerry Riza Ajak Masyarakat Lihat Perkaranya Berdasarkan Fakta Bukan Fitnah
-
Dugaan Korupsi Minyak Mentah: Saksi Bantah Ada Kontrak Sebut Tangki BBM OTM Jadi Milik Pertamina
-
Menuju JFSS 2026, Pemerintah dan Kadin Sepakat Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Nasional
-
Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang
-
Usai di Komdigi, Massa Demo Datangi Polda Metro Jaya Minta Usut Kasus Mens Rea
-
Profil Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa: dari Pilot ke Pemimpin Provinsi Baru
-
Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan
-
Satgas Pemulihan Bencana Sumatra Gelar Rapat Perdana, Siapkan Rencana Aksi
-
Roy Suryo Kirim Pesan Menohok ke Eggi Sudjana, Pejuang atau Sudah Pecundang?
-
Saksi Ungkap Rekam Rapat Chromebook Diam-diam Karena Curiga Diarahkan ke Satu Merek