Suara.com - Saat ini dunia tengah dilanda proses perubahan iklim, termasuk di Indonesia. Dampak nyata dialami Indonesia dari proses perubahan iklim global ini sudah nyata namun berjalan pelan.
Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar mengatakan Indonesia jangan menganggap remeh dengan keadaan iklim global saat ini. Sebab dampak nyata perubahan iklim ini sudah terlihat.
Berdasarkan data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Itu berdampak pada, kenaikan tinggi muka laut di seluruh dunia. Datanya meningkat 10 – 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20. Para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 - 35 inci) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat memengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau.
Sementara di Indonesia, perubahan iklim sudah menggeser masa tanam petani. Cuaca yang tidak menentu membuat petani tak lagi mudah menentukan waktu yang tepat untuk mengelola lahannya. Ini banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur. Kemarau di sana sangat panjang.
"Pergesaran masa tanam, bergeser sampai bulan. Ini dampak nyata," kara Rachmat dalam wawancara khusus dengan suara.com belum lama ini.
Selain itu kenaikan gelombang air laut. Nelayan harus menghadapi cuaca yang tidak menentu dan gelombang tinggi. Perubahan iklim juga sudah mengganggu mata pencaharian di banyak pulau. Di Maluku, nelayan mengatakan mereka tidak lagi dapat memperkirakan waktu dan lokasi yang pas untuk menangkap ikan karena pola iklim yang sudah berubah.
Data UNDP, kenaikan 1 meter permukaan laut dapat menenggelamkan 405.000 hektar wilayah pesisir dan menenggelamkan 2.000 pulau yang terletak dekat permukaan laut beserta kawasan terumbu karang.
Selain itu di Indonesia telah terjadi perubahan arah angin. Angin musim barat, yang biasanya berlangsung selama empat bulanan kini bertahan lebih lama menjadi tujuh bulan dan gelombang menjadi lebih tinggi. Sehingga perahu-perahu nelayan yang lebih besar pun tidak bisa melaut.
"Paling nyata itu di Tanah Abang, nanti akan tenggelam karena air laut meningkat. Penasan air laut yang terasa," kata dia
Mantan Menteri Lingkungan Hidup itu menambahkan perubahan iklim yang tengah berjalan di Indonesia pun menimbulkan dampak timbulnya penyakit baru. Penyakit itu disebabkan oleh suhu panas yang terus meningkat. Sehingga banyak virus yang berkembang.
"Misal di Flores. Udaranya makin panas, ada virus yang berkembang. Itu tidak kelihatan perseorangan. Karena itu bicara soal masa depan," kata Rachmat.
Sementara Kementerian Kesehatan pernah melansir jika penyakit yang mudah menyebar karena perubahan iklim adalah yang disebarkan oleh nyamuk. Semisal demam berdarah, malaria, dan chikungunya. Penyakit itu akibat kurangnya ketersediaan air bersih berakibat diare dan penyakit kulit. Kemudian peningkatan suhu lingkungan dan polutan berakibat infeksi saluran pernapasan akut, malnutrisi sampai gizi buruk, penyakit jantung, penyakit pernapasan asma, alergi, serta penyakit paru kronik.
"Ini harus disadari. Untuk masyarakat awam, ini harus mengerti," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat