Suara.com - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa mengakui pemerintah ingin mengubah pola hidup suku anak dalam di Provinsi Jambi. Namun masih kesulitan.
Dia mengatakan masyarakat pedalaman hidup dalam komunitas homogen. Dia lebih nyaman tinggal di tengah hutan belantara di banding di kota yang ramai orang dengan berbagai sarana prasarana yang modern. Diprediksi akan memakan waktu dan kesabaran untuk mendampingi mereka agar hidup ditengah-tengah masyarakat modern.
"Jadi untuk transmigrasi lokal itu (memindahkan orang pedalaman) tidak bisa dalam waktu sebentar. Paling tidak butuh waktu enam tahun," kata Khofifah saat ditemui di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan (1/11/2015).
Dia mencontohkan kasus suku anak dalam yang dipindahkan ke desa yang ramai dan bergabung dengan masyarakat lain di Kabupaten Sarolangun, Pemerintah telah membangunkan rumah-rumah bagi mereka sejak 2013 lalu. Namun mereka belum bisa tinggal menetap di rumah yang dibikinkan Pemerintah tersebut. Mereka masih sering tinggal di hutan seperti kehidupan sebelumnya.
"Di Kabupaten Sorolangun mereka belum bisa hidup di kota, mereka masih sering bolak-balik ke hutan. Akhirnya rumah yang dibangunkan itu hanya jadi rumah singgah, jadi mereka Seminggu di hutan dan Seminggu di rumah. Artinya rumah itu belum bisa jadi hunian tetap," ujarnya.
Dia menambahkan, di sana juga ada radio komunitas yang digagas oleh Warsi. Warga suku anak dalam itu sudah beradaptasi dengan teknologi, mereka juga sudah mengakses radio di dalam hutan.
"Saya sampaikan kepada mereka (Warsi) bahwa ini sesuatu yang sangat penting untuk terus menerus dilanjutkan bagi mereka yang ada di pedalaman. Ternyata warga pedalaman itu bisa mengakses radio itu," terangnya.
Radio komunitas juga memberikan manfaat bagi mereka untuk mendapatkan informasi. Misalnya ada informasi pengobatan dan lainnya.
"Saya juga tanya pada anak-anak suku anak dalam kalau besar mau jadi apa, ada yang mau jadi guru, tentara, bahkan peneliti. Jadi mereka harus sekolah. Berarti mereka tidak bisa lagi tinggal di tengah hutan. Untuk mencapai itu mereka harus mengikuti sekolah formal, tidak bisa hanya dengan bisa baca tulis, dan menghitung saja," katanya.
Berita Terkait
-
Mensos: Jangan Salah, Suku Anak Dalam Sudah Punya Motor dan Hp
-
Ini Kebingungan Pemerintah Jokowi Tangani Pembakar Hutan
-
Ujian di Sekolah yang Terpapar Asap Disesuaikan Libur dan Materi
-
Di Makam Pahlawan, Mensos Ajak Doa Bersama Minta Turun Hujan
-
Cegah Kebakaran, Pemerintah Gelar Konferensi Gambut Internasional
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Dedi Kusnandar: Persib Bandung Siap Hadapi Persija di Semifinal Piala Presiden 2026
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Purbaya Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Melambat di Triwulan II 2026
-
Wanita Tewas Diduga Bunuh Diri Pakai Senpi Ternyata Mantan Istri Polisi, Apa Motifnya?
-
Kerja Keras Tahan Rupiah Melemah, Gimana Kondisi Cadangan Devisa
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Strategis dalam TPKAD Award 2026 Lewat Program Sultan Muda
-
Digelar Selasa Depan, Ini Susunan Hakim Sidang Eks Menag Yaqut
-
Robert Budi Hartono Jadi Pengendali Baru, Ini Daftar Pemegang Saham BCA
-
BRIN Minta Pembatasan Kadar Nikotin dan Tar Diterapkan Bertahap
-
Ratusan Pedagang STC Demo HGB Ruko, Wali Kota Pekanbaru Angkat Bicara