- MUI mengingatkan potensi perbedaan penetapan Idulfitri 1 Syawal 1447 H karena merupakan wilayah ijtihad ulama.
- Penetapan awal bulan kamariah menggunakan dua pendekatan utama, yaitu hisab (astronomi) dan rukyat (pengamatan fisik hilal).
- MUI mengimbau umat Islam menyikapi perbedaan hasil sidang isbat dengan sikap toleransi (tasamuh) tanpa saling menyalahkan.
Suara.com - Menjelang sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan potensi perbedaan dalam penentuan Hari Raya Idulfitri.
Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, menyebut penentuan awal Syawal merupakan wilayah ijtihad ulama yang secara inheren membuka ruang perbedaan.
“Ini wilayah ijtihadi para ulama. Sedangkan peran umara' menetapkan (isbat), seperti wasit yang menjadi fasilitator sebagai jembatan untuk mempertemukan perbedaan,” kata Buya Amirsyah, Kamis (19/3/2026).
Pernyataan ini muncul di tengah potensi perbedaan penetapan Lebaran yang kembali mengemuka tahun ini. Namun, MUI menekankan bahwa perbedaan tersebut bukan hal baru, melainkan konsekuensi dari metode penetapan yang digunakan.
Buya Amirsyah menjelaskan, dalam tradisi Islam terdapat dua pendekatan utama dalam menentukan awal bulan kamariah, yakni hisab dan rukyat.
“Bil-Ilmi menggunakan astronomi untuk menghitung posisi hilal, sedangkan Bil Ru'yah menggunakan pengamatan fisik hilal secara langsung atau dengan alat. Keduanya bertujuan menemukan hilal,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan hasil dari dua pendekatan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka ijtihad, bukan konflik.
Karena itu, jika hasil sidang isbat nantinya berbeda dengan keyakinan sebagian kelompok, MUI meminta umat menyikapinya dengan toleransi.
“Namun jika terdapat perbedaan maka perlu sikap toleransi (tasamuh) dalam wilayah perbedaan (majalul i'tilaf). Sikap tasamuh dalam bentuk lapang dada sehingga tidak menimbulkan sikap saling menyalahkan. Yang penting memiliki dasar kuat mencari kebenaran, bukan pembenaran,” tegasnya.
Baca Juga: Kenapa Pengumuman Sidang Isbat Sering Molor? Ini Penjelasan Kementerian Agama
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dijadwalkan menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H pada Kamis (19/3/2026), bertepatan dengan 29 Ramadan.
Sidang ini akan menjadi penentu resmi kapan Idulfitri dirayakan secara nasional, di tengah perbedaan metode dan potensi hasil yang tidak selalu seragam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
-
Dipicu Korsleting Listrik, Kebakaran Kalideres Hanguskan 17 Bangunan
Terkini
-
Sekretariat Wapres Dorong UMKM dan Pelaku Ekonomi Perempuan Naik Kelas
-
Hasto Ungkap Isi Pertemuan 2 Jam Prabowo-Megawati di Istana
-
Begini Persiapan Warga Iran Rayakan Lebaran 2026 di Tengah Gempuran AS-Israel
-
Kenapa Pengumuman Sidang Isbat Sering Molor? Ini Penjelasan Kementerian Agama
-
PrabowoMegawati Bertemu di Istana, Pengamat Sebut Sinyal Konsolidasi Politik dan Jaga Stabilitas
-
Kasus Kebakaran Meningkat, Pemprov DKI Minta Warga Tak Lengah Tinggalkan Rumah Saat Mudik
-
Korlantas Ungkap Penyebab Macet Panjang di Tol Japek dan MBZ Hari Ini
-
Momen Hangat di Penghujung Ramadan: Prabowo Sambut Megawati di Istana, Bahas Apa?
-
Hilal Tak Terlihat, Warga Iran Bakal Rayakan Lebaran 2026 pada Sabtu 21 Maret
-
Laka Lantas Meningkat, Lelah dan Lalai Nyalip Jadi Pemicu Utama Kecelakaan saat Mudik 2026