News / Nasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 18:40 WIB
Sidang Isbat Penentu Idul Fitri 2026. (Ist)
Baca 10 detik
  • Paparan Kemenag menunjukkan posisi hilal Indonesia belum memenuhi kriteria MABIMS untuk awal Syawal 1447 Hijriah.
  • Tinggi hilal berkisar 0,91 hingga 3,13 derajat, di bawah standar minimal 3 derajat yang disyaratkan MABIMS.
  • Keputusan akhir tanggal 1 Syawal masih menunggu hasil rukyatul hilal di 117 titik pemantauan nasional.

Suara.com - Paparan awal Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan posisi hilal di Indonesia belum sepenuhnya memenuhi kriteria visibilitas yang disepakati negara-negara Asia Tenggara.

Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, mengungkapkan hal itu dalam seminar menjelang Sidang Isbat 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis.

Ia memaparkan, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di rentang 0,91 derajat hingga 3,13 derajat. Sementara elongasi atau jarak sudut antara Bulan dan Matahari berkisar antara 4,54 derajat hingga 6,10 derajat.

Angka tersebut masih berada di bawah standar kriteria MABIMS, yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar dinyatakan berpotensi terlihat.

"Kalau kurva tadi digabungkan, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan kamariah MABIMS," kata Cecep dalam seminar sidang isbat di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Berdasarkan perhitungan astronomi atau hisab, kondisi tersebut mengarah pada kemungkinan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Namun demikian, hasil hisab tersebut belum menjadi keputusan final. Pemerintah masih menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di 117 titik pemantauan di seluruh Indonesia sebelum menetapkan tanggal resmi melalui sidang isbat.

"Kesimpulannya, seluruh ibu kota provinsi di NKRI dan Sabang tidak memenuhi kriteria MABIMS (terkait) awal bulan Syawal 1447 Hijriah," ujarnya.

Cecep menekankan bahwa dalam kriteria MABIMS, dua parameter utama, ketinggian hilal dan elongasi, harus terpenuhi secara bersamaan.

Baca Juga: Hilal Tak Terlihat, Warga Iran Bakal Rayakan Lebaran 2026 pada Sabtu 21 Maret

Ia menjelaskan, ketinggian hilal sangat dipengaruhi oleh cahaya senja di ufuk barat yang dapat mengaburkan visibilitas Bulan jika posisinya terlalu rendah.

Ketinggian ini terpengaruhi oleh cahaya merah atau warna senja yang muncul di ufuk barat setelah matahari terbenam (maghrib) hingga menjelang malam atau syafaq.

Cecep menerangkan bila semakin rendah, maka cahaya senja akan mengaburkan, mengalahkan cahaya hilal yang lemah, semakin tinggi (posisi hilal) pengaruhnya semakin kecil. Kemudian, elongasi menyebabkan tebal dan tipisnya hilal. 

"Kalau hilal itu sudah di atas 6,4 derajat memungkinkan hilal itu memasuki kriteria visibilitasnya," tutur Cecep.

Dengan kondisi tersebut, penentuan awal Syawal kini bergantung pada hasil pengamatan langsung di lapangan yang akan dibahas dalam sidang isbat Kemenag.

Load More