Suara.com - Korea Utara menembakan sejumlah proyektil ke perairan Laut Jepang, Kamis (3/3/2016), hanya beberapa jam setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menggelar voting terkait pemberian sanksi terhadap negara tersebut.
Kepada Kantor Berita Yonhap, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyebutkan bahwa proyektil tersebut diluncurkan dari kawasan Wonsan, di pesisir timur Korea Utara, demikian dikutip BBC.
Saat ini pakar pertahanan Korea Selatan masih mencoba mengidentifikasi apa yang sebenarnya telah ditembakkan oleh Korea Utara, apakah itu rudal jarak dekat, ataukah peluru artileri. Proyektil-proyektil tersebut ditembakkan pada pukul 10 pagi waktu setempat.
Menyusul langkah Korea Utara tersebut, Presiden Korea Selatan menyerukan agar pemerintah Korea Utara mengubah perilakunya.
"Kami akan bekerjasama dengan dunia untuk membuat rezim Korea Utara menghentikan pengembangan nuklirnya dan mengakhiri tirani yang menekan kebebasan dan hak asasi saudara dan saudari kami di Utara," kata Park, Kamis.
Korea Utara menerima sejumlah sanksi baru atas program senjata nuklirnya dari Dewan Keamanan PBB pada Rabu (2/3/2016). Sanksi tersebut diberikan dalam sebuah resolusi yang dirancang oleh Amerika Serikat dan didukung oleh sekutu utama Korea Utara, Cina.
Resolusi tersebut diberikan menyusul uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara pada tanggal 6 Januari dan peluncuran roket pembawa satelit pada 7 Februari lalu. AS dan Korea Selatan menyebut peluncuran roket tersebut melanggar resolusi Dewan Keamana PBB yang telah ada. Namun, Korea Utara bersikeras bahwa mereka punya hak untuk meluncurkan roket sebagai bagian dari program luar angkasanya. (Reuters)
Tag
Berita Terkait
-
Israel Jadi Negara Paling Tidak Disukai di Dunia Menurut Survei Global 2026
-
Korea Utara Tantang AS dan Sekutu: Jangan Atur-atur Kami Soal Nuklir
-
Korea Utara Dilanda Kekeringan Parah, Kim Jong-un Malah Ambil Keputusan Ekstrem
-
Jelang Kedatangan Trump ke China, Korut Tembakkan Rudal Balistik, Korsel Ketar-ketir
-
Dunia Sibuk dengan Perang AS-Iran, Korut Diam-diam Percepat Produksi Bom Nuklir
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Bikin Buruh Tertawa, Kapolri Ingin Jadi Aktivis Usai Pensiun: Mau Demo Pak Jumhur!
-
Abaikan Aspirasi Rakyat Berujung Korupsi, PDIP: Kasus BGN Harusnya Bisa Dicegah Sejak Awal!
-
Heroik! Niat Bantu Warga, Petugas Damkar Malah Tertimpa Gedung dan Harus Jalani CT Scan
-
Tolak Tawaran Masuk Pemerintahan Prabowo, Andi Gani: Saya Pilih Jadi Presiden Buruh
-
Transisi Energi di Laut Janjikan Masa Depan Hijau, Tapi Bagaimana Nasib Masyarakat Pesisir?
-
Waspada Badai PHK! Pemerintah Gelar Rapat Khusus Pekan Depan
-
Jaga Jarak Etik! Satgas PKH Harus Hindari Celah Konflik Kepentingan Dalam Penertiban
-
Kenaikan Permukaan Laut Ancam Kemampuan Mangrove Menyimpan Karbon
-
Prabowo: Jangan Takut Dihina, Saya Jadi Presiden pun Masih Sering Diejek!
-
Krisis Iklim Bikin Ruang Kelas Makin Panas: Ngaruh ke Konsentrasi Siswa?