Ilustrasi KPU [suara.com/Adrian Mahakam]
Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhamad Syarif menilai Komisi Pemilihan Umum tidak cermat menangani dana sumbangan yang diterima para kandidat peserta pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif, maupun pemilihan kepala daerah.
"Money politics itu tetap terjadi dan susah untuk menindak secara keseluruhan. Dan untuk penyumbang, KPU serasa kurang memverifikasi juga dan belum dilakukan dengan baik," kata Laode dalam rapat koordinasi evaluasi persyaratan calon kepala daerah di pilkada serentak tahun 2015 bersama IDI, BNN, dan KPK di gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/3/2016).
Selain dana sumbangan dari donatur, Laode juga menyoroti praktik mahar politik dari calon ke partai politik.
"Money politics itu tetap terjadi dan susah untuk menindak secara keseluruhan. Dan untuk penyumbang, KPU serasa kurang memverifikasi juga dan belum dilakukan dengan baik," kata Laode dalam rapat koordinasi evaluasi persyaratan calon kepala daerah di pilkada serentak tahun 2015 bersama IDI, BNN, dan KPK di gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/3/2016).
Selain dana sumbangan dari donatur, Laode juga menyoroti praktik mahar politik dari calon ke partai politik.
"Hal lain yang masih ada adalah adanya mahar politik, dan memang ini kerap lolos dari pantauan bawaslu dan panwas," kata Laode
Itu sebabnya, Laode meminta KPU dan Bawaslu sebisa mungkin mengatasinya.
Untuk mencegahnya, Laode menyarankan KPU mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat.
Itu sebabnya, Laode meminta KPU dan Bawaslu sebisa mungkin mengatasinya.
Untuk mencegahnya, Laode menyarankan KPU mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat.
"Model pembekalan dan sosialisasi itu sangat penting. seperti menolak politik uang,dan praktik-praktik lainnya yang negatif," kata Laode.
Komentar
Berita Terkait
-
Di RDPU Komisi II DPR, Akademisi UI Usul Bawaslu Dibubarkan dan Cabut Wewenang Sengketa MK
-
Doktor Ahli Pengadaan yang Bikin KPU Keok Terkait Ijazah Jokowi: Siapa Sebenarnya Bonatua Silalahi?
-
KIP Perintahkan KPU Serahkan Salinan Ijazah Jokowi, Diberi Waktu 14 Hari untuk Banding
-
Terbongkar, Ini Daftar 9 Informasi Ijazah Jokowi yang Sengaja Ditutupi KPU
-
Gugatan Dikabulkan, Komisi Informasi Pusat Wajibkan KPU Serahkan Salinan Ijazah Jokowi
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
OTT Beruntun di Kemenkeu, KPK Sita 3 Kg Emas dan Duit Miliaran dari Penangkapan Pejabat Bea Cukai
-
Edit Logo NU dan Disamakan dengan Simbol Yahudi, Warga Laporkan Akun X ke Polda Metro Jaya
-
Mensesneg Bocorkan Jadwal Pelantikan Hakim MK Baru Adies Kadir
-
PM Australia Anthony Albanese ke Jakarta Besok, Cek 8 Ruas Jalan yang Kena Rekayasa Lalin
-
BPJS PBI Dinonaktifkan Tanpa Pemberitahuan, Puluhan Pasien Cuci Darah Jadi Korban Ditolak RS
-
Bocah 10 Tahun di Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA Sentil Kerapuhan Sistem Perlindungan Anak Daerah
-
Istana Buka Suara soal Siswa SD Akhiri Hidup di NTT
-
Momen Langka di Abu Dhabi, Kala Prananda Prabowo Jadi Fotografer Dadakan Megawati
-
Haris Rusly Moti: Strategi Multi-alignment, Manuver Cerdas Prabowo untuk Palestina Merdeka
-
Anak Buah Terjaring OTT KPK, Menkeu Purbaya: Kenapa Terpukul? Ini Titik Masuk Perbaikan