Suara.com - Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah menteri pada Jumat (22/7/2016) lalu. Pemanggilan ini menyiratkan kemungkinan adanya reshuffle Kabinet Kerja jilid II.
"Sudah semestinya Presiden Jokowi mengevaluasi kinerja para menteri agar sejalan dengan kebijakan dan target yang diinginkannya. Namun, perombakan kabinet jangan dilakukan hanya untuk mengakomodir kepentingan partai. Tidak jadi soal jika yang bersangkutan berasal dari parpol atau non parpol, tapi seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan rakyat," ujar Sahat Martin Philip Sinurat melalui pernyataan tertulis yang diterima Suara.com, hari ini.
Direktur Eksekutif Centre for People Studies and Advocation menambahkan pemanggilan Menteri Koperasi dan UMKM, Menteri PU dan Perumahan Rakyat, serta Menteri Pertanian kemungkinan besar berkaitan dengan kebijakan ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi. Ketiganya seharusnya saling bersinergi, namun tampaknya para menteri masih bingung mengintegrasikan kebijakan di bidang tersebut.
"Gaya kepemimpinan Jokowi cepat dan tepat sasaran. Kabinet sudah berjalan hampir dua tahun. Para menteri seharusnya sudah menindaklanjuti pemikiran Presiden ke dalam perencanaan dan pelaksanaan yang terpadu. Hal ini yang ingin dievaluasi oleh Jokowi," kata Sahat.
Pengamat pembangunan dari Institut Teknologi Bandung mengatakan selain ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi, pemerintah juga masih keteteran di dalam reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Padahal untuk menjadi bangsa yang berdaya saing, Indonesia harus memiliki tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan rakyat yang baik dan berkompeten (good and competent people). Maka pemerintah juga harus segera mengevaluasi kinerja kementerian-kementerian yang terkait dengan kedua hal tersebut.
Menurut Sahat Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2020-2030. Pada rentang waktu tersebut, Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedang usia tidak produktif sekitar 60 juta jiwa. Jika saat ini Indonesia tidak cepat mempersiapkan diri, di masa depan kita akan semakin kesulitan menghadapi kebutuhan pangan, kemiskinan, kebutuhan tenaga kerja berkompeten, dan kesemrawutan pemerintahan.
"Presiden sudah memperkirakan hal ini. Maka Jokowi butuh menteri yang memahami keinginannya dan dapat bergerak cepat. Untuk menjawab kebutuhan ini, Jokowi dapat mempertimbangkan menteri baru dari kalangan muda yang umumnya lebih dinamis, berpikir dan bergerak cepat, mengerti tantangan zaman, dan menikmati perubahan," kata Sahat.
Berita Terkait
-
Beda Kelas dengan Eggi Sudjana, Zulkifli Sebut Manuver Rismon Murni Skenario Tingkat Tinggi
-
Refly Harun Soroti Permohonan RJ Rismon di Kasus Ijazah Jokowi: Kehendak Bebas atau Ada Tekanan?
-
Momen Tiga Presiden Bersatu di Istana, Bahas Stabilitas dan Isu Global
-
Prabowo Undang Mantan Presiden dan Wapres ke Istana Malam Ini, Jokowi Hadir
-
Misteri di Balik Jas Hitam Jokowi di India: Bawa Jas, Kenapa Tangan Kiri Tertutup?
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Harry Styles Ungkap Perjuangan Jadi Penyanyi Solo Usai One Direction Bubar
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
Terkini
-
Mudik Jadi Aman, Ini Daftar Lokasi Posko Layanan Keluarga BKKBN di Jalur Mudik Lebaran 2026!
-
Lebaran di Balik Kemudi, Kisah Rasimin Menunda Kepulangan Demi Mengantar Rindu Orang Lain
-
Kronologi Baru Kasus Andrie Yunus: TAUD Ungkap Temuan Botol yang Dibuang Pelaku dari Motor
-
Sinyal Gaji Pejabat dan DPR Bakal Dipotong, Prabowo Siapkan Strategi Hadapi Krisis Global
-
Tim Advokasi: Penyiraman Air Keras ke Aktivis Kontras Adalah Percobaan Pembunuhan Berencana
-
Mudik 2026, Cerita Perjuangan Perantau Kalimantan hingga Berkah Mudik Gratis BUMN
-
Kasatgas Tito dan Mensos Serahkan Bansos Rp100 Miliar untuk Korban Bencana di Sumatera
-
Mata Kanan Terluka Parah, Begini Kondisi Medis Korban Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
-
Israel Tuding Pelaku Penyerangan Sinagoga Michigan Adik Komandan Hizbullah
-
Siap Perang Terbuka! Iran Akhirnya Akui China dan Rusia Bantu Lawan AS-Israel