Susaningtyas Kertopati pengamat militer sekaligus dosen Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan mengatakan bahwa dinamika politik situasi Laut Cina Selatan sangat dipengaruhi dengan sikap Cina yang menolak hasil arbitrase internasional tahun 2016 yang lalu. Cina bahkan sekarang sudah menempatkan skuadron pesawat tempur di pulau-pulau artifisial, menyusul instalasi rudal nuklir jarak sedang dan jarak jauh.
"Intelijen juga percaya kapal selam bertenaga nuklir Cina juga akan hadir menyusul kehadiran kapal induk Liaoning. Hingga kini juga diketahui kapal-kapal Coast Guard Cina juga telah dilengkapi berbagai peralatan yang setara dengan kapal perang Cina. Bahkan dari sumber intelijen terpercaya juga menyampaikan data bahwa banyak kapal perang Cina yang langsung berubah warna putih menjadi kapal Coast Guard," kata Susaningtyas dalam keterangan resmi, Minggu (14/5/2017).
Pada sisi lain, kekuatan Amerika Serikat juga sudah mulai berdatangan di Semenanjung Korea dalam konteks kampanye militer di Korea Utara. Walaupun kekuatan tersebut juga dengan mudah dapat dialihkan ke Laut Cina Selatan. Kekuatan gabungan Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan saat ini disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk meletusnya konflik di Semenanjung Korea.
"Tetapi banyak kalangan percaya bahwa kampanye militer untuk Korea Utara sebenarnya merupakan sinyal politik yang kuat sebagai peringatan kepada Cina," ujarnya.
Cina sendiri diprediksi akan mengumumkan Air Defence Identification Zone (ADIZ) di Laut Cina Selatan oleh pemerintah Cina. Melalui pengumuman tersebut, maka Cina akan segera melaksanakan patroli udara atas klaimnya di wilayah Laut Cina Selatan. Skuadron pesawat tempur yang dikerahkan bisa berpangkalan di kapal induk Liaoning dan/atau di pangkalan-pangkalan udara di atas pulau artifisial.
Cina juga diyakini tetap mengerahkan kapal-kapal ikannya di Laut Cina Selatan yang kini diawaki oleh milisi maritim. Pola kapal ikan diawaki milisi maritim bersenjata sudah sering dihadapi kapal-kapal patroli Jepang di perairan Pulau Diaoyu yang menjadi sengketa Cina dan Jepang.
"Dengan gelar kekuatan tersebut, maka kini Cina mampu melaksanakan peperangan udara, peperangan permukaan dan peperangan bawah permukaan," urai Nuning.
Suara.com - Nuning mengingatkan agar Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) TNI Angkatan Laut (AL) dapat disiapkan untuk menghadapi gelar kekuatan Cina tersebut. Menurutnya, sudah saatnya Koarmabar meningkatkan intensitas kerjasama taktis antara kapal-kapal Koarmabar dengan pesawat-pesawat tempur Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) I TNI AU untuk melaksanakan patroli laut dan udara di perairan Natuna hingga Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).
Baca Juga: Kerjasama Intelijen Soal Laut Cina Selatan Perlu Diperkuat
"Selain kerjasama taktis tersebut, maka Koarmabar juga perlu menambah jangkauan patroli udara maritim dengan drone yang dapat dikendalikan dari kapal-kapal perang. Melalui latihan siaga tempur, maka para awak kapal-kapal Koarmabar harus meningkatkan kemampuan prosedur komunikasi dengan pesawat-pesawat tempur TNI AU sekaligus berlatih mengendalikan drone hingga jarak lebih dari 50 km," tutup Nuning.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- Kipas Angin Model AC yang Resmi dan Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasinya
- Status Gunung Api Malam Ini: Merapi, Semeru, Anak Krakatau Siaga, 3 Gunung di Maluku Waspada
- 4 Shio Beruntung 6 September 2026, Hidup akan Lebih Ringan
Pilihan
-
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 6 Kali Erupsi Strombolian Terekam
-
Gunung Anak Krakatau 'Muntah-muntah' Lagi Selasa Pagi Ini, 3 Kali Erupsi
-
Bandara Soetta dan Halim Mulai Dibuka untuk Penerbangan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
Terkini
-
Viral JPO Dewi Sartika, Pramono Anung Tagih Tanggung Jawab Pengembang
-
Implementasi B50 Banyak Kendalanya
-
Menko Zulhas Akui MBG Gagal: Anggaran Besar, Dua Tahun Berjalan, Banyak Masalah!
-
Review Novel Last Minute in Manhattan: Romansa Manis Berlatar di California
-
Harga Motor Honda September 2026: Dari Skutik Lincah hingga Motor Sport Gagah
-
6 Fakta Hilangnya Speedboat Jurnalis di Selat Sunda
-
Ida Nurlaela Kritik Pemerintah Soal Dana Desa untuk Bayar Utang Kopdes: Itu Uang Rakyat
-
Others: Ketika Pagar Pemisah Justru Mengajarkan Arti Kemanusiaan
-
Ribuan Penyuling Minyak Muba Tuntut Kepastian Hukum, Usaha Puluhan Tahun Terancam
-
Kebakaran TPA Galuga Padam, Bupati Bogor: Tinggal Sisa Asap Tebal