Presiden Jokowi bersama Wapres Jusuf Kalla di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/3/2017). [Foto Biro Pers Setpres]
Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai Wakil Presiden Jusuf Kalla bisa diuntungkan secara politik lewat posisinya sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia, tapi bisa juga tidak.
"Begini penjelasannya, mayoritas umat Islam yang moderat itu ada di NU dan Muhammadiyah. Mereka secara umum tidak nyaman dengan mempolitisasi agama dengan cara yang brutal seperti di (pilkada) DKI kemarin," kata Hamdi kepada Suara.com, Selasa (16/5/2017).
Pernyataan Hamdi terkait dengan isu Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla tidak bertemu secara politik karena masing-masing memiliki agenda, terutama menjelang pemilihan presiden periode 2019-2024.
Lebih jauh, Hamdi mengatakan mereka yang menjabat sebagai pengurus masjid cenderung memiliki ciri yang agak keras. Sedangkan mereka yang memiliki ciri moderat, seperti kader NU dan Muhammadiyah, cenderung malas menjadi takmir masjid.
"Begini penjelasannya, mayoritas umat Islam yang moderat itu ada di NU dan Muhammadiyah. Mereka secara umum tidak nyaman dengan mempolitisasi agama dengan cara yang brutal seperti di (pilkada) DKI kemarin," kata Hamdi kepada Suara.com, Selasa (16/5/2017).
Pernyataan Hamdi terkait dengan isu Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla tidak bertemu secara politik karena masing-masing memiliki agenda, terutama menjelang pemilihan presiden periode 2019-2024.
Lebih jauh, Hamdi mengatakan mereka yang menjabat sebagai pengurus masjid cenderung memiliki ciri yang agak keras. Sedangkan mereka yang memiliki ciri moderat, seperti kader NU dan Muhammadiyah, cenderung malas menjadi takmir masjid.
"Kalau kita asumsikan dewan masjid itu adalah takmir - takmir masjid, yang itu di bawah dewan mesjid itu, dibawah JK, maka Jokowi kecolongan di sini. JK lebih berpengaruh," ujar Hamdi.
Tapi, menurut Hamdi, Jokowi dapat mengejar ketertinggalan, misalnya dengan cara mendekati kelompok Islam moderat.
"Kalau Jokowi bisa mengimbangi semua itu dengan cara mendekati kelompok NU dan Muhammadiyah dan muslim-muslim moderat lainnya, pengaruh dewan masjid bisa diimbangi," tutur Hamdi.
Hamdi mengingatkan Jokowi untuk berhati-hati merespon sikap kelompok Islam konservatif.
"Harus terukur menanganinya. Kalau perkaranya dicari-cariin, dengan mudah publik katakan itu mengkriminalisasi," ujar Hamdi.
Tapi, jika fakta hukum dalam penindakan terhadap mereka yang dinilai Islam garis keras kuat, hal ini menguntungkan Jokowi secara politik.
"Karena begini, banyak juga orang yang Islam moderat terutama, yang cemas dengan tokoh-tokoh radikal ini, seolah-olah diberi panggung. Ini kan cenderung dibiarkan oleh Jokowi. Mereka ingin yang garis keras ini juga ditindak," kata Hamdi.
"Karena kalau ini dibiarkan mereka bisa membuat masyarakat akan menjadi teradikalisasi. Diseret-seret ke kutub kanan dan ekstrim terus," Hamdi menambahkan.
Komentar
Berita Terkait
-
Jokowi Dinobatkan sebagai Sesepuh oleh 9 Raja Timor
-
Tak Hanya Politis, Ini Alasan di Balik Kunjungan Jokowi ke Bumi NTT
-
Jokowi Kunjungi NTT Besok, PSI Singgung Soal Legacy Indonesia Sentris
-
Jokowi Bakal Sapa Kupang, Jalan Santai hingga Karnaval Budaya Siap Digelar
-
Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran 'Orang Jokowi' di Balik Mundurnya Gubernur BI
Terpopuler
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro Kembali dengan 'Rasa Merdeka': Sambut Agustusan dengan Rasa dan Tawa
-
3 Fakta Kontroversi Wasit Oman Khalfan Al Amouri Laga Singapura vs Indonesia
-
Rotasi Pasmar 1: Kolonel Sri Utomo Pimpin Brigif 1, Sejumlah Jabatan Strategis Berganti
-
Usai Diperiksa 7 Jam, Febrie Adriansyah Bungkam soal Kasus Emas 74 Kilogram
-
Suzuki XL7 Tampil Perkasa di GIIAS 2026
-
Profil Wasit VAR Pansa Chaisanit yang Batalkan Kartu Merah Song Ui-young Laga Indonesia vs Singapura
-
UGM Nonaktifkan Elda Putri dari PPDS 3 Bulan Imbas Komentar Merendahkan Pasien BPJS
-
Saksi Kunci di Kasus Febrie Belum Dilindungi LPSK, Kejagung Pantau Terus Keamanan Ferry Boboho
-
Ragnar Oratmangoen Pecah Kebuntuan! Timnas Indonesia Ungguli Singapura 1-0
-
Ironi Febrie Adriansyah: Ngaku Dikriminalisasi Usai Sering Lakukan Itu Saat Berkuasa?