Suara.com - Aksi bom bunuh diri diduga teroris di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam, dinilai sebagai upaya kelompok klandestin fundamentalis untuk memecah belah persatuan warga dan aparat kepolisian.
Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Yon Machmudi PhD mengatakan, bom di terminal itu menunjukkan variasi serangan teroristik yang tak lagi menargetkan tempat-tempat eksklusif seperti hotel, bar, atau pos polisi.
”Aksi di Terminal Kampung Melayu, meski terbilang skala kecil dibanding aksi teroris sebelumnya, tetap berdampak besar. Mereka kini menargetkan kerumuman massa agar efek ketakutan bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat,” tutur Yon Machmudi, Jumat (26/5/2017).
Yon yang juga dikenal sebagai pengamat Timur Tengah dan Islam ini menuturkan, Enders dan Sandler dalam bukunya berjudul ”The Nature of Terrorism” (1993) menuliskan ”tindakan terorisme selalu menghitung tindakannya baik dilakukan dalam sekala kecil maupun besar.”
Aksi-aksi dengan kekerasan yang tidak normal dan mengancam, terutama aksi bom bunuh diri, dilakukan dengan menghitung dampak dan pengaruh di publik.
Karenanya, kata dia, mereka menargetkan aksi-aksi pada kerumuman massa dan aparatur keamanan untuk menciptakan ketidakstabilan negara.
”Semakin bervariasi dan luas target terorisme, semakin sulit bagi otoritas negara dalam mengantisipasi aksi-aksi berikutnya,” terangnya.
Bukan Aksi Irasional
Baca Juga: Seribu Kyai Sepuh Beri Perintah ke Cak Imin, Apa Perintahnya?
Ia menjelaskan, terorisme bukan aksi irasional, melainkan benar-benar mempelajari kondisi sosial politik dan berusaha untuk mendapatkan simpati atas aksi-aksinya.
”Target aksi terorisme adalah memecah belah bangsa. Karena itu, sikap umat Islam harus satu dalam menghadapi aksi-aksi terorisme di Indonesia. Mengecam dan tidak memberikan ruang sekecil apa pun terhadap justifikasi tindakan terorisme,” pintanya.
Aksi bom di Kampung Melayu jelas menunjukkan adanya target untuk menciptakan ketakutan kepada publik karena dilakukan di sarana publik yaitu terminal. Sementara di lain sisi, mereka berusaha memecah belah bangsa dengan menargetkan aparat kepolisian.
”Kerumunan adalah hal yang jamak digunakan sebagai tempat dan target aksi-aksi terorisme. Aksi-aksi dalam skala kecil dapat dengan mudah mempengaruhi dan memberi rasa takut kepada khalayak umum, ” tuturnya.
Dalam waktu cepat, Yon menilai aksi-aksi terorisme menyebarkan berita lengkap dengan foto yang menyeramkan. Keresahan dan ketakutan massa inilah yang menjadi target utama.
”Negara harus memutuskan cara tepat dalam memerangi terorisme, sebagaimana kelompok teroris dan para sponsornya itu selalu merencanakan model aksi apa yang dapat mereka lakukan agar target kekacauan itu tercapai, ” harapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
MBG Disetop Saat Libur Sekolah, BGN Disomasi: Ibu Hamil dan Balita Tetap Butuh Nutrisi!
-
Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer
-
Sering Mangkir, KPK Pertimbangkan Jemput Paksa Model Fitri Assidikki
-
Klaim MBG Bukan Proyek! KemenHAM: Ini Instrumen Negara Penuhi Hak Dasar Siswa
-
Gagal Jadi JC, Sony Sonjaya Ternyata Belum Akui Perbuatan di Kasus Korupsi MBG
-
Satu Tahun Dicuekin, Fariz RM Akhirnya 'Gas Pol' Seret Pelanggar Hak Cipta Lagunya ke Polisi
-
Militerisme Menguat! 1.047 Pembela HAM Diserang di Era Prabowo-Gibran
-
Resmi! Kejagung Tolak Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya: Dia Pelaku Utama
-
Jejak Kelam Taufik Hidayat: Mantan Istri Juga Pernah Disiksa, Polisi Duga Masih Ada Korban Lain
-
Jakarta Rayakan HUT ke-499 dengan Komitmen Mengutamakan Kualitas Hidup Penduduk