Suara.com - Komisioner Komnas HAM Bidang Subkomisi Media Hafid Abbas mengatakan laporan adanya dugaan kriminalisasi ulama tak lepas pascaPemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta.
Laporan tersebut terkait laporan Presidium Alumni 212 terkait dugaan kriminalisasi kepada ulama, yakni pimpinan FPI Rizieq Shihab dan Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath.
Hal ini disampaikan usai melakukan pertemuan antara Komnas HAM dengan Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Polri, Bareskrim Polri, di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (9/6/2017).
"Jadi ini memang persoalannya berkisar pada pascapemilukada di DKI, tapi kan memang terjadi polarisasi, Islam kan dianggap didiskriminasi, diresahkan," ujar Hafid.
Hafid menilai adanya popularisasi memberikan dampak serius yakni dampak popularisasi pendukung Ahok dan bukan pendukung Ahok dan isu komunisme yang harus segera dihentikan.
"Sayang sekali ada stigma bahwa mereka yang tidak mendukung salah satu ini mucul spekulasi bahwa dia anti Pancasila, NKRI, kebhinnekaan. Padahal sebenarnya itu hanya adalah hanya selling poin dari masing-masing kelompok yang mestinya harus segera dihentikan. Sebab yang ingin kita bangun kebersamaan adalah Pancasila untuk semua. Jadi bukan Pancasila untuk saya dan NKRI untuk saya. Tapi Pancasila untuk kita dan NKRI untuk Kita," kata dia.
Menurut Hafid, pertemuan tersebut diharapkan ada pertemuan lanjutan antara Komnas HAM dan Kemenko Polhukam untuk mengambil langkah-langkah bersama.
Kata Hafid, jika masalah tersebut tidak segera diselesaikan akan muncul 3 D yakni Delay, Denail dan Disaster.
"Kalau ingin delay, semakin berlarut-larut maka masalahnya akan semakin luas. Dan akan muncul denail. Saling menyalahkan sana-sini. Akhirnya terjadi friksi-friksi sosial. Kemudian tentu yang tidak kita inginkan adalah disaster. Bencana sosial, karena negara kita negara besar," ucap Hafid.
Baca Juga: Komnas HAM Minta Pemerintah Tutup Kasus Rizieq Shihab
"Tentu banyak kepentingan yang menginginkan negara ini terpuruk, semakin kacau. Dan potensial dikacaukan karena ada kesenjangan sosial yang sangat ekstrim. Bayangkan saja kita tercatat negara paling tinggi kesenjanga ssosialnya di antara-negara-negara asia dan pasifik. Kita keempat terbesar kesenjanghan sosialnya di dunia daan kemungkinan naik lagi nomor 3 nomor dua di dunia," sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Pasukan GP Ansor Siap Tindak yang Ganggu Muktamar Ke-35 NU Jombang
-
Kudeta Niger Gagal, Pasukan Pemerintah Melumpuhkan Penyerang Pangkalan Niamey
-
Boni Hargens Soroti Pengangkatan Kapolri sebagai Anggota Kehormatan KSBSI: Bukan Sekadar Seremonial
-
Bukan Ex-Officio! Romli Atmasasmita Tegaskan Status Listyo Sigit di KSBSI Hanya Bentuk Apresiasi
-
Apa Itu Sistem AHWA? Cara Baru Pilih Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-35 Tahun 2026
-
Muktamar ke-35 NU Diwarnai Aksi Protes, Gus Yahya: Saya Mohon
-
Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Senin Besok
-
Gus Ipul Pastikan Forum Muktamar NU Ke-35 Bebas Ubah Keputusan Organisasi
-
Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata
-
Jepang Kirim Pasukan Bela Diri Bantu Meredam Kebakaran Hutan Kalimantan