Namun demikian, ia menyadari bahwa Militer memang adalah sistem pemerintahan dari atas ke bawah. Bukan sistem partisipasi dan musyawarah dari bawah. Ini wajar di dalam institusi meliter.
"Kalau harus berperang, tidak mungkin musyawarah dan mufakat dulu antara panglima dan pasukan. Tidak masuk akal. Dan oleh karena itu demokrasi tidak bisa disiapkan oleh rezim seperi Soeharto dulu. Hanya ditunda saja. Dan makin ditunda, semakin terlambat proses pelajaran untuk menjadi demokrasi yang stabil dan bertahan," tutur Jeffrey.
Demokrasi Indonesia Pasca Reformasi
Menurut dia Indonesia hampir 20 tahun berpengalaman dengan berdemokrasi. Dalam sejarahnya tidak pernah sepanjang ini. Tentu ada yang bagus dan ada yang jelek.
"Tetapi pada umumnya saya cukup terkesan dengan demokrasi di Indonesia. Sudah empat kali pemilihan umum untuk presiden, selalu ontime setiap lima tahun. Apalagi pemilihan umum di tingkat daerah. Violence dan kerusuhan hampir tidak ada. Meskipun dinamika politik tetap ada, tapi skalanya masih terbatas," kata Jeffrey.
"Dan ini penting, yang menang naik, dan yang kalah turun. Tanpa berkelahi atau saling membunuh," Jeffrey menambahkan.
Kata dia, banyak negara yang mencoba berdemokrasi, tapi tidak bisa berbuat seperti di Indonesia. Jadi, meskipun dengan segala kekurangan demokrasi di Indonesia sudah lumayan.
Perbandingan Demokrasi Indonesia dan Filipina
Menurut dia setiap pemilu di Filipina selalu ada 100 sampai 200 orang yang tewas karena kompetisi politik memakai kekerasan. Dan separuh yang dibunuh adalah calon-calon yang berkampanye.
"Itu adalah negara tetangga yang sebenarnya punya sejarah demokrasi jauh lebih panjang dari Indonesia. Tetapi yang istimewa dari Indonesia, tidak ada kekerasan dalam demokrasi," kata Jeffrey.
"Dan harus diperhatikan, di Indonesia, kalau ada yang meninggal saat pemilu, itu karena serangan jantung karena kalah dan mati," imbuh Jeffrey.
Selain itu, kata dia, institusi security seperti Polisi dan TNI juga bekerja profesional dan mendukung proses politik. Padahal, seringkali ada figur-figur tertentu yang mau bermain secara langsung dalam politik.
"Tetapi tidak bisa tanpa reaksi cukup besar dari kalangan masyarakat, media dan kalangan elit juga," ujar Jeffrey.
Problem yang paling besar di Indonesia bukan demokrasinya, kata Jeffrey, tapi yang menjadi masalahnya justru kelemahan sistem hukum.
"Transisi demokrasi belum tentu transisi ke sistem hukum yang kuat, adil dan bebas dari korupsi. Kalau hukum jadi lebih kuat di Indonesia demokrasi pun akan jadi lebih sehat," kata Jeffrey.
Berita Terkait
-
700 Bahasa Daerah Terancam Punah! Warisan Budaya Indonesia di Ujung Tanduk?
-
Sirene Darurat Intoleransi Meraung, Alissa Wahid Ajak Bangsa Kembali ke DNA Asli
-
Bukan karena Ultah Prabowo, Fadli Zon soal HKN: 17 Oktober Bertepatan Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika
-
Berbeda Itu Menyenangkan! Serunya Panen Karya P5 di SMA Negeri 1 Purwakarta
-
Menkomdigi: Bhinneka Tunggal Ika Harus Konsisten Dipromosikan ke Dunia Internasional
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
-
Klaim Pakai Teknologi Canggih, Properti PIK2 Milik Aguan Banjir
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
Terkini
-
Prabowo Duga Ada Kekuatan Asing Bayar Segelintir Orang untuk Mengejek
-
Bantah Tak Kooperatif, Legislator Bekasi Nyumarno Sambangi KPK: Undangan Tak Sampai ke Alamat KTP
-
Prabowo Janjikan Kampus Kedokteran Gratis
-
50 Medsos Lokal Ramaikan ISMN Yogyakarta Meetup 2026, Bahas Kolaborasi di Era Digital
-
Diduga Disambar Petir, Lantai 5 Tzu Chi School PIK Terbakar: Kerugian Ditaksir Rp200 Juta
-
Gus Ipul Berkelakar soal Khofifah: Tiga Kali Pilgub Lawannya Sama, Bergantian Jadi Mensos
-
Waspada Banjir di Puncak Musim Hujan, Ini 5 Hal Penting yang Wajib Disiapkan
-
Rismon Siap Buka-bukaan di Sidang KIP Besok: Sebut Ijazah Gibran Tak Penuhi Dua Syarat Krusial
-
Tepis Isu Perpecahan Kabinet, Prabowo: Jangan Percaya Analisis Orang Sok Pintar di Medsos!
-
Kisah Warga Cilandak Timur Hadapi Banjir di Balik Tanggul Anyar