Ilustrasi KPK [suara.com/Nikolaus Tolen]
Hari ini, Komisi Pemberantasan Korupsi kembali menetapkan kader Partai Golkar menjadi tersangka kasus korupsi proyek e-KTP. Namanya selama ini sudah sering disebut. Dia mantan anggota DPR bernama Markus Nari.
"KPK menetapkan MN, anggota DPR RI periode 2009-2014 sebagai tersangka karena diduga melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau sebuah korporasi, dalam pengadaan paket penerapan KTP elektronik tahun 2011-2013 pada Kementerian Dalam Negeri," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan.
Markus diduga berperan dalam memuluskan atau mempengaruhi proses pembahasan dan penambahan anggaran proyek e-KTP di DPR.
"Sebagaimana sudah terungkap dalam fakta persidangan dan juga sudah kita saksikan bersama-sama dalam proses pembuktian untuk dua orang terdakwa Irman dan Sugiharto, terdapat sejumlah indikasi peran dari MN," ujar Febri.
Febri menerangkan peran Markus dalam kasus yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Bersama-sama sejumlah pihak lainnya, Markus diindikasikan memperkaya sejumlah korporasi yang terkait dalam pelaksanaan proyek e-KTP pada tahun 2012.
"Saat itu sedang dilakukan proses pembahasan anggaran untuk perpanjangan proyek KTP elektronik Tahun Anggaran 2013 sekitar Rp1,49 triliun," tutur Febri.
Selain itu, Markus juga meminta sejumlah uang pada Irman, terdakwa satu dalam persidangan yang sudah di mulai dan sedang berproses, sekitar sebanyak Rp5 miliar.
"Sebagai realisasi permintaan tersebut, diduga telah terjadi penyerahan uang sekitar Rp4 miliar kepada tersangka MN," ucap Febri.
Febri mengatakan indikasi penerimaan atau pemberian lain akan terus diperdalam pada proses penyidikan, baik untuk tersangka Markus ataupun untuk pihak-pihak lain yang diduga mendapatkan aliran dana dalam proses pembahasan pengadaan e-KTP.
"Terhadap MN disangkakan melanggar Pasal 3 atau Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jucnto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP," kata Febri.
"KPK menetapkan MN, anggota DPR RI periode 2009-2014 sebagai tersangka karena diduga melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau sebuah korporasi, dalam pengadaan paket penerapan KTP elektronik tahun 2011-2013 pada Kementerian Dalam Negeri," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan.
Markus diduga berperan dalam memuluskan atau mempengaruhi proses pembahasan dan penambahan anggaran proyek e-KTP di DPR.
"Sebagaimana sudah terungkap dalam fakta persidangan dan juga sudah kita saksikan bersama-sama dalam proses pembuktian untuk dua orang terdakwa Irman dan Sugiharto, terdapat sejumlah indikasi peran dari MN," ujar Febri.
Febri menerangkan peran Markus dalam kasus yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Bersama-sama sejumlah pihak lainnya, Markus diindikasikan memperkaya sejumlah korporasi yang terkait dalam pelaksanaan proyek e-KTP pada tahun 2012.
"Saat itu sedang dilakukan proses pembahasan anggaran untuk perpanjangan proyek KTP elektronik Tahun Anggaran 2013 sekitar Rp1,49 triliun," tutur Febri.
Selain itu, Markus juga meminta sejumlah uang pada Irman, terdakwa satu dalam persidangan yang sudah di mulai dan sedang berproses, sekitar sebanyak Rp5 miliar.
"Sebagai realisasi permintaan tersebut, diduga telah terjadi penyerahan uang sekitar Rp4 miliar kepada tersangka MN," ucap Febri.
Febri mengatakan indikasi penerimaan atau pemberian lain akan terus diperdalam pada proses penyidikan, baik untuk tersangka Markus ataupun untuk pihak-pihak lain yang diduga mendapatkan aliran dana dalam proses pembahasan pengadaan e-KTP.
"Terhadap MN disangkakan melanggar Pasal 3 atau Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jucnto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP," kata Febri.
Sebelumnya, Markus sudah dijadikan tersangka oleh KPK karena dianggap menghalangi penyidikan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Irman dan Sugiharto, kemudian dianggap menghalangi penyidikan kasus Miryam S. Haryani. Miryam merupakan tersangka kasus memberikan keterangan palsu di persidangan.
Komentar
Berita Terkait
-
HUT Fraksi Golkar, Sarmuji Kenang Jasa Setya Novanto: Saya Banyak Belajar Menghadapi Tekanan
-
Mengintip Rumah Setya Novanto di Kupang yang Dilelang KPK, Harganya Miliaran!
-
Pembebasan Bersyarat Setya Novanto Digugat! Cacat Hukum? Ini Kata Penggugat
-
Setnov Bebas Bersyarat, Arukki dan LP3HI Ajukan Gugatan ke PTUN Jakarta: Kecewa!
-
Terpopuler: Anak Setya Novanto Menikah, Gaji Pensiunan PNS Bakal Naik Oktober 2025?
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Niat Mulia Berujung Duka: Pria Berbaju Koko Tewas Dihantam KRL Saat Lerai Tawuran di Duren Sawit
-
Alibi Janggal Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus saat Diinterogasi Atasan
-
Serangan Israel ke Lebanon Selatan Tewaskan 2.702 Orang, Lukai Ribuan Warga Sipil Sejak Maret
-
Mendagri: Penghargaan Daerah Jadi Instrumen Tampilkan Kinerja Nyata Kepala Daerah
-
Jadi Tersangka, Pengemudi Pajero Sport Penabrak Pedagang Buah di Kalimalang Tak Ditahan
-
Donald Trump akan Bahas Taiwan dengan Xi Jinping di Beijing
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
UU Guru dan Dosen Digugat ke MK, 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa' Digaji di Bawah UMR
-
DPR Sebut Aspirasi Publik soal Reformasi Polri Sudah Terangkum di KUHAP Baru
-
Viral Wisatawan Jatuh dari Ayunan Tebing, Korban Sempat Teriak: Tali Tidak Kencang!