Boni Hargens [suara.com/Nikolaus Tolen]
Pengamat politik Boni Hargens menduga tim Gubernur Papua Lukas Enembe menyebarkan hoax untuk menaikkan posisi tawar Lukas yang sedang menghadapi kasus dugaan korupsi penggunaan anggaran pendidikan berupa beasiswa untuk mahasiswa Papua pada tahun anggaran 2016.
Hoax yang dimaksud Boni terkait dokumen berisi 16 poin yang disodorkan Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan ke Lukas dalam pertemuan antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Budi Gunawan, dan Lukas.
"Informasi tentang dokumen 16 poin yang disodorkan ke Lukas adalah hoax yang saya duga dibangun oleh kelompok yang ingin menaikkan posisi tawar Lukas terkait dugaan korupsi yang menimpa dirinya," kata Boni Hargens, Selasa (19/9/2017).
Kecurigaan Boni berawal dari foto para petinggi dalam pertemuan itu yang beredar di salah satu grup WhatsApp anggota tim sukses Lukas untuk pilkada 2018.
Padahal, kata Boni, pertemuan Kepala BIN, Kapolri, dan Gubernur Papua murni dalam rangka membahas konflik di Papua terkait pilkada Puncak Jaya, Tolikara, dan Intan Jaya.
"Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan juga dari pihak-pihak yang mengetahui pertemuan tersebut, justru dalam pertemuan itu, Lukas menyampaikan curahan hatinya terkait kasus korupsi yang menimpa dirinya," kata Boni.
Boni heran dengan sikap Partai Demokrat dalam menanggapi pertemuan yang diikuti Lukas yang merupakan Ketua DPD Demokrat Papua. Partai Demokrat disebut Boni sedang bermain politik untuk menyudutkan BIN dan pemerintahan Jokowi. Boni mengusulkan dilakukan investigasi terhadap pertemuan tersebut.
"Berita bohong yang berkembang terkait dokumen 16 poin itu jelas palsu karena bagaimana mungkin deputi 2 BIN membuat laporan intelijen ke Panglima TNI? Secara prosedural dan legal, hal itu mustahil terjadi," kata Boni.
Boni mendorong semua pihak fokus mengungkap kasus dugaan korupsi diduga melibatkan Lukas agar bisa meredam isu yang menyudutkan BIN, Polri, dan pemerintahan Jokowi.
Hoax yang dimaksud Boni terkait dokumen berisi 16 poin yang disodorkan Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan ke Lukas dalam pertemuan antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Budi Gunawan, dan Lukas.
"Informasi tentang dokumen 16 poin yang disodorkan ke Lukas adalah hoax yang saya duga dibangun oleh kelompok yang ingin menaikkan posisi tawar Lukas terkait dugaan korupsi yang menimpa dirinya," kata Boni Hargens, Selasa (19/9/2017).
Kecurigaan Boni berawal dari foto para petinggi dalam pertemuan itu yang beredar di salah satu grup WhatsApp anggota tim sukses Lukas untuk pilkada 2018.
Padahal, kata Boni, pertemuan Kepala BIN, Kapolri, dan Gubernur Papua murni dalam rangka membahas konflik di Papua terkait pilkada Puncak Jaya, Tolikara, dan Intan Jaya.
"Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan juga dari pihak-pihak yang mengetahui pertemuan tersebut, justru dalam pertemuan itu, Lukas menyampaikan curahan hatinya terkait kasus korupsi yang menimpa dirinya," kata Boni.
Boni heran dengan sikap Partai Demokrat dalam menanggapi pertemuan yang diikuti Lukas yang merupakan Ketua DPD Demokrat Papua. Partai Demokrat disebut Boni sedang bermain politik untuk menyudutkan BIN dan pemerintahan Jokowi. Boni mengusulkan dilakukan investigasi terhadap pertemuan tersebut.
"Berita bohong yang berkembang terkait dokumen 16 poin itu jelas palsu karena bagaimana mungkin deputi 2 BIN membuat laporan intelijen ke Panglima TNI? Secara prosedural dan legal, hal itu mustahil terjadi," kata Boni.
Boni mendorong semua pihak fokus mengungkap kasus dugaan korupsi diduga melibatkan Lukas agar bisa meredam isu yang menyudutkan BIN, Polri, dan pemerintahan Jokowi.
Komentar
Berita Terkait
-
Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran
-
Boni Hargens Puji Langkah Cerdas Kapolri Listyo Sigit: Dari Sport Tourism hingga Satgas Haji 2026
-
Pengamat Sorot Titah Prabowo ke TNI, Polri dan BIN Sebelum ke Eropa: Sinyal Tegas Jaga Stabilitas
-
Boni Hargens: Prabowo Percaya Penuh Kapolri, Polri Jadi Garda Depan Berantas Penyelundupan
-
Boni Hargens Launching Buku Ilmu Politik, Singgung Soal Pernyataan Saiful Mujani, Termasuk Makar?
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran
-
Sukabumi Jadi Markas "Cinta Palsu" Antarnegara: 16 WNA Spesialis Love Scamming Digulung Imigrasi!
-
Wakil Ketua Komisi VIII Abidin Fikri Buka Suara Penangkapan 3 WNI Terkait Haji Ilegal
-
Besok Perisai Geruduk DPR Bawa 15 Tuntutan May Day: Dari Upah hingga Agraria!
-
Amnesty International Ungkap Tiga Faktor Penyebab Impunitas Militer di Indonesia
-
Main Mata Proyek Jalur Kereta: KPK Bongkar Skenario 'Plotting' Bupati Pati Sudewo di Balai Ngrombo
-
Bakar Sampah hingga Truk Besar Ganggu Warga, Kevin Wu PSI Sidak Pabrik Makanan di Kedoya
-
Ketum Posyandu Tekankan Pentingnya Mendidik Generasi Emas 2045
-
Tri Tito Karnavian Tekankan Implementasi 6 SPM di Peringatan Hari Posyandu Nasional
-
Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL: Sopir Taksi Green SM Baru Kerja 3 Hari dan Cuma Dilatih Sehari!