Suara.com - Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak semua DPD tingkat provinsi bertemu DPP untuk membahas nasib partai berlambang Pohon Beringin, setelah Ketua Umum Setya Novanto ditahan KPK karena terlibat kasus korupsi proyek KTP elektronik.
"Harus segera terjadi pembicaraan antara DPD I dengan DPP. Pembicaraannya kan tidak ada forum yang terlalu formal, kemudian mengambil solusi secara bersama-sama untuk segera menyelesaikan kemelut DPP Golkar," kata Dedi di kantor Kosgoro, Jalan Hang Lekiu, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (22/11/2017).
Dengan demikian, lanjut Dedi, Golkar dapat segera keluar dari persoalan yang membelit kekinian. Hal itu penting karena tahun depan sudah masuk “tahun politik”, dimulai dari pagelaran pilkada serentak.
Jika tak segera diselesaikan, Dedi meyakini Golkar tak akan leluasa menghadapi ajang kontestasi politik, baik Pilkada 2018 maupun rangkaian Pemilihan Umum 2019.
"Caranya, nanti dibikin musyawarah antara DPD I dengan DPP. Setelah itu bikin musyawarah nasional, apa itu prosesnya bagaimana, terserah lah nanti. Nanti akan kami lakukan sesuai saran Pak Ridwan Hisjam," ujar Dedi.
Dedi menyarankan perubahan harus dimulai paling lambat pada awal bulan Desember 2017, arena Januari 2018 adalah bulan dimulai momentum pilkada.
"Harus cepat, nggak boleh lagi lebih dari bulan Desember. Kalau Bang Agung Laksono selambat-lambatnya akhir bulan Desember, kalau menurut saya tidak. Selambat-lambatnya awal Desember, karena akhir Desember itu Januari. Itu sudah memasuki tahapan pilkada, pendaftaran. Tak lagi ada waktu untuk mengubah diri. Karena kalau tidak merubah diri pada tahun ini, nanti akan berat sekali pada tahun 2019," jelasnya.
Dedi juga tidak menyarankan adanya Musyawarah Nasioanal Luar Biasa. Bagi dia, cukup DPP bermusyawarah dengan DPD I, dan duduk bersama mencari solusi terbaik.
Baca Juga: Berantas Hama di Balai Kota dan Rumah Dinas, Anggaran Rp280 Juta
"Yuk kita cari solusi dari kemelut partai ini. Saya katakan kita gagah menduduki posisi penting di Golkar baik DPD I maupun II, tak ada artinya kalau Golkar tidak ada pemilihnya," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan