Bahkan, Ahed juga mengorbankan pribadinya. Hingga kekinian, Ahed sudah kehilangan paman dan sepupunya akibat pendudukan Israel. Ibu, ayah, dan saudara laki-lakinya juga sudah berkali-kali ditangkap dan dianiaya Israel.
"Ibu Ahed pernah tertembak di kaki. Ahed pada usia masih sangat belia juga terekam menggigit tangan militer Israel yang menyeret saudara laki-lakinya. Video itu viral dua tahun lalu, tapi tak ada yang peduli," tuturnya.
Menurut Shenila, ada sejumlah faktor yang membuat kaum feminis, pembela HAM, politikus, maupun tokoh dunia, cenderung diam terhadap kasus Ahed.
Pertama, 'membisunya' dunia terhadap Ahed karena terdapat kecenderungan publik melegalisasi kekerasan yang dilakukan oleh negara—dalam kasus ini adalah Israel yang diakui sebagai negara sah oleh dunia Barat.
Publik barat, kata Shenila, cenderung peduli dan marah kalau seseorang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh aktor nonnegara seperti Taliban atau Boko Haram.
Shenila mengkritik kecenderungan seperti itu. Sebab, kekerasan terhadap perempuan atau warga bukan hanya dalam bentuk penyerbuan militer, penangkapan sewenang-wenang, atau brutalitas polisi, tapi juga perampasan sumber daya alam.
"Negara menjustifikasi tindakan-tindakan brutal ini dengan mempresentasikan warga yang sebenarnya korban ketidakadilan sebagai ancaman terhadap negara," terangnya.
Shenila lantas meminjam pemikiran filsuf Italia kontemporer, Giorgio Agamben, yakni "Ketika sudah dianggap ancaman oleh suatu negara, korban akan lebih mudah dijadikan sebagai individu tanpa harga politik, dan menjadi target kejahatan penguasa. Maka, serangan terhadap mereka tanpa proses pengadilan dapat dilakukan tanpa memancing banyak perhatian dari publik," jelasnya.
Baca Juga: Berenang Usai Makan Picu Kram Perut dan Tenggelam, Benarkah?
Menurutnya, Israel juga menggunakan strategi seperti itu. Ahed ditangkap Israel dengan alasan gadis tersebut sangat "berbahaya" bagi kelangsungan pemerintah.
“Menangkap remaja tak bersenjata seperti Ahed—yang hanya karena ingin melindungi keluarganya dengan tamparan—dan diperlakukan seperti teroris adalah tindakan yang tak dapat dimengerti,” kecamnya.
Penangkapan Ahed justru membuka jalan untuk otorisasi penyisksaan berlebihan. Shenila memisalkan, Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett mengecam dan berharap Ahed beserta keluarga "menyelesaikan hidup mereka di penjara".
Alhasil, Shenila menyimpulkan bahwa kasus penangkapan Ahed turut membongkar konstruksi humanisme Barat yang memunyai kecenderungan selektif. Para humanis Barat memunyai kriteria sendiri terhadap situasi atau peristiwa apa yang layak mereka intervensi.
”Kasus-kasus kelaparan, brutalitas polisi atau tentara, pengangguran, kejahatan terhadap perempuan, kerapkali dinilai tak layak untuk mendapat perhatian mereka. Sebab, isu-isu seperti itu dianggap tak terelakkan. Karenanya, Ahed dipandang tak cocok mendapat perhatian dari badan-badan transnasional,” jelasnya.
Tak hanya itu, Shenila menegaskan, Ahed dianggap kaum feminis, pemantau HAM, politikus, maupun negarawan Barat tak cocok dengan stereotipe ”perempuan pemberani” versi mereka.
“Ahed, perempuan yang melawan kolonialisme dan memunyai visi atas rakyatnya, bukan tipologi pemberdayaan perempuan yang ingin dilihat Barat. Ahed mencari keadilan melalui cara melawan penjajah, bukan pemberdayaan yang hanya untuk dirinya sendiri,” nilainya.
“Feminisme Ahed bersifat politis. Kekuatan dia sebagai perempuan untuk menyingkap paras buruk kolonialisme. Karenanya, ia dianggap ’berbahaya’. Keberanian dan tekatnya untuk tak gentar justru meretas semua ketidakberesan penjajah,” tuturnya.
Shenila lantas mendesak agar aktivis maupun lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan di Barat melakukan otokritik dan mengubah paradigma mengenai perjuangan perempuan terhadap penindasan.
Ia mengutip pernyataan revolusioner sekaligus presiden pertama Afrika Selatan Neslon Mandela untuk menutup kritiknya: ”Semua tahu pasti bahwa kebebasan kita tak akan pernah lengkap tanpa kebebasan Palestina.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan