Suara.com - Pakar Hubungan Internasional (HI), Nur Rachmat Yuliantoro menilai proses perdamaian antara Korea Utara dan Korea Selatan di Semenanjung Korea masih memerlukan proses panjang, meski situasi menunjukan perkembangan politik yang positif.
"Menurut saya masih sangat jauh, sehingga dalam konteks ini pihak-pihak yang berkepentingan akan tetap dalam posisinya sekarang," ucap Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada ini.
Sedangkan pada Amerika Serikat (AS), sebagai pihak yang memiliki kepentingan terbesar di kawasan tersebut, Rachmat menilai AS akan tetap menaruh rasa curiga pada Korea Utara dan menganggap sebagai musuh, namun di sisi lain akan tetap melindungi kepentingan-kepentingan Korea Selatan.
Sebelumnya, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengirimkan adik perempuannya untuk menghadiri pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang di Korea Selatan, yang diikuti oleh kunjungan balasan dari pejabat keamanan Korea Selatan ke Korea Utara, yang dinilai sebagai perkembangan positif di kawasan.
Rachmat menerangkan agar terjadi perdamaian di Semenanjung Korea, paling tidak ada syarat yang harus dilakukan oleh Korea Utara, yaitu menghentikan program senjata nuklirnya.
"Meski ada rencana pertemuan dua Korea dan AS, tapi Kim Jong-un belum mengatakan akan menguruangi atau menghentikan nuklir. Padahal itu syarat yang diminta Korea Selatan, AS, juga Jepang. Jadi kalau syarat itu tidak dipenuhi, ya akan sulit membayangkan akan ada perdamaian," tutur Rachmat menjelaskan.
Menyikapi hal ini, maka sikap AS akan tetap pada pendiriannya yang menekankan pelucutan nuklir pada Korea Utara, sembari menunggu perkembangan dari pembicaraan tersebut.
"Donald Trump (Presiden AS) akan melihat betul apakah Kim Jong-un hanya sekedar berucap di mulut atau bersungguh-sungguh dengan itikad baik. Kalau memang serius, AS tentu akan melihat bahwa perdamaian di Semenanjung Korea berkontribusi bagi stabilitas kawasan," pungkasnya.
Guna membahas perbaikan di Semenanjung Korea, direncanakan dua pertemuan antar-Korea dan antara Korea Utara dan Amerika Serikat, masing-masing dilaksanakan pada akhir bulan April dan akhir bulan Mei.
Baca Juga: Puan: PDIP Tak Pernah Tawarkan Agus 'SBY' Jadi Cawapres Jokowi
Pembicaraan mengenai KTT antar-Korea, yang akan menjadi pertemuan pertama sejak 2007, merupakan hal positif setelah berbulan-bulan ketegangan antara Pyongyang, Seoul dan, Washington mengenai program nuklir dan rudal Korea Utara.
Pertukaran ancaman dan hujatan antara Kim Jong-un dan Trump tahun lalu juga menyebabkan kegelisahan di Semenanjung Korea.
Dalam sebuah laporan yang dikutip dari Reuters, pada bulan Februari Kim Jong-un memberikan instruksi penting untuk tindakan yang mungkin dilakukan demi menjaga suasana perdamaian dan dialog tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
(ANTARA)
Berita Terkait
-
Dibalik Sangar dan Brutalnya Aksi Agent Kim Reactivated, Ada Kisah Ayah dan Anak yang Menguras Emosi
-
Catatan Penting dari DPR di Balik Kesiapan Prabowo Kunjungi Korea Utara
-
Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
-
Prabowo Bersedia ke Korea Utara, Apakah Indonesia Punya Hubungan Diplomatik dengan Korut?
-
Industri Film Korsel Kembali Jaya Pasca-Pandemi, Berkat The King's Warden?
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis