- Nomura, Goldman Sachs, & UBS pangkas rating saham Indonesia akibat isu investabilitas MSCI.
- Potensi turun status ke Frontier Market picu risiko arus keluar dana investor asing (outflow).
- Pasar alami tekanan (overhang) hingga ada kejelasan regulasi dan hasil evaluasi final MSCI.
Suara.com - Pasar modal Indonesia kembali menerima kabar kurang sedap dari lembaga keuangan internasional. Pengelola investasi raksasa asal Jepang, Nomura, resmi menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi Neutral dari sebelumnya Overweight.
Langkah ini memperpanjang deretan institusi global, seperti Goldman Sachs dan UBS, yang mulai mengambil sikap hati-hati terhadap prospek ekuitas di tanah air.
Keputusan Nomura ini dipicu oleh peringatan keras dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait potensi penurunan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market. Isu investabilitas dan metodologi free float menjadi sorotan utama yang dikhawatirkan akan memicu arus keluar dana (outflow) besar-besaran, terutama dari investor pasif.
Strategist Nomura, Chetan Seth, dalam risetnya yang dikutip Senin (2/2/2026), mengakui bahwa peringatan MSCI tersebut merupakan kejutan besar bagi pasar. Padahal, sebelumnya Nomura cukup optimis terhadap Indonesia karena valuasi yang dianggap murah serta fundamental ekonomi yang dinilai stabil.
"Peringatan MSCI terkait potensi penurunan status ke frontier market datang sebagai kejutan bagi kami dan pasar," tulis Seth.
Ia menambahkan bahwa profil risk-reward yang sebelumnya menarik bagi investor jangka panjang kini terganggu oleh ketidakpastian status indeks tersebut.
Sentimen ini kian berat setelah Goldman Sachs lebih dulu menurunkan peringkat Indonesia menjadi Underweight pada 29 Januari lalu. Tak ketinggalan, UBS Group AG juga memangkas rekomendasi menjadi Neutral.
Analis UBS, Sunil Tirumalai, menekankan bahwa pasar akan mengalami tekanan (overhang) yang berkepanjangan hingga ada kejelasan regulasi dari pemerintah maupun hasil evaluasi final dari MSCI.
Sebagai informasi, Nomura adalah pemain kunci dalam pengelolaan kekayaan global dengan aset klien mencapai US$153 triliun. Perubahan pandangan dari institusi sebesar Nomura tentu memberikan tekanan psikologis bagi para pelaku pasar domestik maupun asing yang mengacu pada indeks global dalam menaruh modalnya di Asia Tenggara.
Baca Juga: BBRI Melemah Tipis, Analis Ungkap Target Harga Saham dan Rekomendasi
Kini, perhatian pasar tertuju pada bagaimana regulator di Indonesia merespons isu investabilitas ini. Tanpa langkah konkret untuk memperbaiki struktur pasar dan transparansi, risiko penurunan status ke Frontier Market bisa menjadi kenyataan pahit yang menjauhkan aliran modal asing dari Bursa Efek Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Dompet Penarik Rejeki Warna Apa? Ini Pilihan agar Kamu Beruntung sesuai Shio dan Feng Shui
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Dukung Aktualisasi dan Kreativitas Mahasiswa, Pertamina Gelar Energy AdSport Challenge di ITB
-
BTN JAKIM 2026 Bakal Digelar 13-14 Juni, Masyarakat Diminta Perhatikan Ruas Jalan Terdampak
-
Purbaya Lanjutkan Efisiensi Anggaran MBG usai Dipotong Jadi Rp 268 T
-
Menteri Purbaya hingga Bahlil Rapat Keluhan Kadin China, Bahas Apa Saja?
-
Rumor Badan Ekspor Bikin IHSG Anjlok, Ini Saham Paling Boncos
-
Pertamina Gelar Sokoguru Policy Forum Bahas Ketahanan dan Transisi Energi Nasional
-
Bos Danantara Saham BUMN Perbankan Lagi Murah, Saatnya Beli?
-
Rosan Hingga Bahlil Ikut Tertutup Soal Badan Ekspor
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak ke 117,31 Dolar AS per Barel
-
Rupiah Loyo, Duit Subsidi Bengkak! Stok Pertalite Tinggal 16 Hari