Suara.com - Kontestasi politik jelang pemilihan presiden (pilpres) 2018 makin kencang saja. Sejumlah tokoh partai terang-terangan menyuarakan dukungannya. Bahkan di antaranya justru berseberangan dengan suara partai. Salah satunya adalah sejumlah kader Partai Demokrat.
Di Pilpres 2019, Partai Demokrat sudah memastikan diri untuk mendukung pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Di bawah komando Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Partai Demokrat berkoalisi dengan Gerindra, PKS dan PAN untuk melawan kubu pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin.
Namun, sejumlah kader Demokrat justru membelot dan memilih untuk mendukung sang petahana, Jokowi. Sebut saja Ketua DPD Partai Demokrat Papua, Lukas Enembe. Ia memilih tidak mengindahkan keputusan partai dan memilih untuk mendukung Jokowi.
Lukas Enembe terang-terangan memberikan dukungannya kepada Jokowi usai dirinya dilantik sebagai Gubernur Papua di Istana Negara. Bahkan Lukas mengaku tidak gentar apabila dukungannya itu menuai sanksi dari Partai Demokrat.
"Saya pendukung utama Jokowi, tidak ada urusan dengan partai, kalau (mau menjatuhkan) sanksi silakan saja," tegas Lukas seperti dilansir dari Antara.
"Jokowi itu harga mati 100 persen, kami akan fokus kasih suara kepada Jokowi, tidak ada yang lain, seluruh rakyat Papua. Harga mati bungkus, 3.000.000 suara kasih semua kepada Jokowi," sambung Lukas.
Kemudian ada Deddy Mizwar. Kader potensial Partai Demokrat ini juga memilih mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Ia bahkan didapuk sebagai salah satu juru bicara Jokowi saat masa kampanye nanti.
"Saya sendiri baru belajar bicara disuruh jadi jubir. Tadi saya minta arahan dan mendengar pemikiran beliau (Ma'ruf Amin) tentang arus baru ekonomi Indonesia," kata Deddy Mizwar saat berada di posko Cemara dan bertemu dengan Ma'ruf Amin beberapa waktu lalu.
Selain Lukas Enembe dan Deddy Mizwar terlebih dahulu ada nama Tuan Guru Bajang (TGB). Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu memilih mundur dari Partai Demokrat dan beralih untuk mendukung Jokowi. Namun TGB menegaskan apabila keputusannya mundur dari Demokrat tak ada kaitannya dengan dukungannya ke Jokowi.
Baca Juga: Bukit Pasir dengan Warna-warni, Fenomena Geologi Langka di Dunia
Lantas, bagaimana sikap Partai Demokrat? Adanya kader yang memilih untuk mendukung Jokowi apakah karena Demokrat main 'dua kaki'?
Meski belum terkonfirmasi secara pasti, nyatanya hingga kini tak ada sanksi yang diberikan kepada kader Partai Demokrat yang berseberangan dengan keputusan partai. Bahkan Ketua DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaen memastikan tidak ada sanksi bagi kader Partai Demokrat yang sudah jelas-jelas memberikan dukungannya kepada Jokowi.
"Tidak ada sanksi (untuk kader yang dukung Jokowi). Saya sudah jelaskan barusan, ada daerah yang akan kami berikan dispensasi khusus," ujar Ferdinand Hutahaean di kediaman SBY Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Minggu (9/9/2018).
Ia menjelaskan, ada sejumlah kader Partai Demokrat di daerah menginginkan berkoalisi dengan partai-partai pendukung Jokowi – Maruf Amin.
Selain DPD Partai Demokrat Papua, DPD Demokrat di Sulawesi Utara juga akan mendapatkan dispensasi khusus karena mendukung Jokowi.
Partai Demokrat, kata Ferdinand, tidak ingin kadernya di daerah kehilangan suara pemilih saat Pemilu 2019 karena harus mengikuti keputusan partai soal pilpres.
"Seperti di Papua, 92 persen (kader) menginginkan koalisi dengan Jokowi, kami hormati itu. Kami tak mau juga kader kami di sana yang menjadi caleg tak terpilih. Karena garis politiknya harus utuh, jadi ada dispensasi," kata dia.
Tetapi, Ferdinand tidak menjelaskan lebih jauh dispensasi yang dimaksud. Ia ingin keputusan partai nantinya tidak berdampak pada dukungan ke pasangan Prabowo – Sandiaga Uno.
"Nanti akan kami pikirkan formulanya tanpa meninggalkan dukungan ke Prabowo sebagai capres," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan
-
Terungkap Penyebab Kematian Dokter PPDS di RSUD Tengku Rafian Siak
-
Profil Direktur PO ALS yang Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan Bus Tewaskan 19 Orang
-
Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya
-
Tak Cukup Alim, Cak Imin Minta Santri Melek Literasi Keuangan Agar Tak Terjebak Judol dan Pinjol
-
Berdayakan Puluhan Kelompok Usaha, Klaster Unggulan BRI Sukses Dongkrak Potensi Peternak