Suara.com - Ikan cupang hias asal Slipi, Jakarta Barat berhasil menembus ekspor hingga ke dua benua. Kualitas ikan cupang asli Indonesia ini pun sudah dikenal hingga dunia internasional.
Salah satu pembudidaya cupang Asep Syarifuddin mengatakan, ia telah memulai bisnis ikan cupang sejak 1973. Setelah mantap menekuni bisnis ikan cupang, barulah pada 1987 ia membawa ikan cupang hasil perkawinan silang ke Singapura.
"Dulu awalnya cupang dikawinkan silang sampai ketemu spesies baru, pas 1987 dibawa ke konferensi di Singapura dan itu jadi pertama kali ikan cupang dijual ke luar negeri," kata Asep kepada Suara.com saat ditemui di Gerai Cupang Kewirausahaan Terpadu, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (20/9/2018).
Sejak saat itu, Asep rutin ekspor ikan-ikan cupang ke luar negeri. Ikan Cupang asal Indonesia diyakini memiliki kualitas terbaik dan diburu oleh para pecinta ikan hias mancanegara.
Dalam satu bulan, Asep berhasil ekspor sebanyak kurang lebih 750 ekor ikan cupang ke benua Afrika dan Amerika. Harga seekor ikan cupang pun bervariatif, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 60 ribu.
Sementara, untuk ikan cupang dengan kualitas terbaik dan keunikan siripnya, Asep baru bisa menjual kurang lebih 20 ekor per bulan. Ikan Cupang unik itu dihargai USD250 atau setara Rp 3,5 juta.
"Ikan Cupang Indonesia jelas kualitas terbaik. Bukaan siripnya itu terbuka sempurna, cantik dan indah. Beda sama negara lain," ungkap Asep.
Bahkan, Asep pun telah menciptakan 3 spesies baru ikan cupang dan sudah mendapatkan hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM. Ketiga jenis cupang itu antara lain jenis King Crown Tail, Halfmoon Giant dan Bletong Tiger.
Untuk jenis Bletong Tiger ia menjualnya seharga Rp 1,25 juta dan jenis Halfmoon Giant Asel menjualnya seharga Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Sementara untuk jenis King Crown Tail ia pernah menjualnya hingga seharga puluhan juta.
Baca Juga: Butterfly Twists Rilis Koleksi Terbaru Bertema Musim Gugur
"Pas 1991 kalau enggak salah, jenis baru King Crown Tail itu saya jual Rp 22 juta. Ada yang beli pengusaha Indonesia. Waktu itu cuma ada 4 ekor saja," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Menteri Imipas Buka Suara soal Usulan Napi Penerima Amnesti Wajib Ikut Komcad
-
Demo Pendukung MBG Digelar Hari Ini, 1.686 Personel Gabungan Turun Mengamankan
-
KPK Jangan Melempem! Usut Tuntas Skandal Amplop Menhut Raja Juli di Kasus Suap Hutan Kuansing
-
DPRD DKI Nilai Tarif Transjakarta Naik Jadi Rp 5.000 Masih Wajar, Ini Alasannya
-
KPK Doakan Gus Yaqut Cepat Sembuh agar Proses Hukum Kasus Korupsi Haji Segera Rampung
-
Momen Akrab Gibran, Puan, Muzani, dan Sultan di Parlemen, Ternyata Bahas Soal Ini
-
Kemasan Rokok Seragam Berisiko Tabrak UU Merek, Wamenkum: Jangan Over Regulation!
-
Sebut Polri Paling Korup, Burhanuddin Muhtadi Bongkar Kelemahan Survei IndexMundi
-
Jalan Cinta Amblas Nyaris 90 Derajat, DKI Bongkar Pemicunya: Tanggul Kali Sunter Retak!
-
Isi Amplop Menhut Raja Juli Masih Misteri, KPK Duga Suap Hutan Kuansing Pakai Dolar Singapura