Suara.com - Saya lahir di Belitung Timur tahun 1956. Sementara Dipa Nusantara Aidit—Ketua CC PKI yang sudah almarhum—lahir di Belitung Barat tahun 1923. Sampai meninggalnya DN Aidit tahun 1965, saya tidak pernah bertemu dengan beliau.
Tapi, ayah saya, Idris bin Haji Zainal, mengenal baik DN Aidit karena mereka hampir seusia. Kalau DN Aidit pulang ke Belitung, kadang bertemu juga dengan ayah saya.
Ayah DN Aidit, yakni Abdullah Aidit,adalah Ketua Nurul Islam Belitung. Organisasi itu, pada tahun 1947, berubah menjadi Cabang Masyumi—partai Islam terbesar pada era Presiden Bung Karno.
Sebagian keluarga DN Aidit di Belitung juga ada yang menjadi anggota Masyumi. Tapi, mereka yang merantau, seperti DN Aidit dan adiknya, Sobron Aidit, menjadi PKI.
Murad Aidit, adik bungsu DN Aidit yang wafat dua tahun lalu, adalah aktivis Partai Buruh. Sedangkan ayah saya, Ketua Cabang Masyumi Belitung.
Ketika Pemilu 1955, ada 15 orang anggota DPRD Kabupaten Belitung. Masyumi yang antara lain dipimpin ayah saya dapat 10 kursi, PNI 3 kursi, dan Partai Buruh dapat 1 kursi. PKI tidak dapat satu pun kursi.
Secara ideologi, keluarga saya dan keluarga DN Aidit yang PKI sangat bermusuhan, tapi dengan keluarganya yang Masyumi tentu tidak.
Namun, sebagai sesama orang sekampung, hubungan kami baik-baik saja.
Anak DN Aidit, yakni Ilham Aidit, sesekali bertemu saya dan dia memanggil saya “abang”. Dia selalu bertanya bagaimana perkembangan Partai Bulan Bintang.
Baca Juga: Sang Kakak Ungkap Sebab Daud Yordan Gagal Kalahkan Anthony Crolla
Dulu, Ketua Umum Masyumi Mohammad Natsir mengatakan kepada saya, beliau selalu “berkelahi” dengan DN Aidit dalam politik.
Namun, kalau sedang sesi istirahat sidang DPR, DN Aidit membawa secangkir kopi dan membukakan bungkus rokok untuk disodorkan kepada Natsir.
M Natsir juga pernah bercerita kepada saya, ketika sedang menunggi becak di depan Gedung DPR di Lapangan Banteng, tiba-tiba DN Aidit lewat naik sepeda.
Lalu Aidit bilang, “Bung Natsir, ayo saya bonceng”. Maka jadilah Ketua PKI membonceng Ketua Masyumi naik sepeda.
Itu kisah lama.
Orang bisa bermusuhan secara ideologi dan politik, tetapi tetap baik secara pribadi. Sekarang jauh beda.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Menteri PPPA dan Selvi Ananda Kompak Tekankan Peran Keluarga dalam Mendidik Anak
-
Bupati Kuansing Diduga 'Rampok' Hak Petani untuk Disetorkan ke Menhut Raja juli
-
Dibutuhkan 90 Perawat, Apoteker untuk Fasilitas Kesehatan BLUD di Riau
-
"Bisa Aja Lo!" Kelakar Prabowo soal MBG 'Mas Bahlil Ganteng'
-
Gerai Minuman Teh Menjamur di Pinggir Jalan, Bagaimana Prospek Bisnisnya?
-
Siswi Indonesia Raih Beasiswa Jadi Delegasi Simulasi Sidang PBB Internasional
-
Bupati Serang Dukung Pembatasan Media Digital Usia Bawah 16 Tahun
-
Cak Imin Merasa 'Terancam' Bahlil: Gawat Ini Banyak Penggemarnya
-
Kepuasan Publik ke Dedi Mulyadi Tembus 95,4 Persen, Meski Program Unggulan Belum Populer
-
Beli Sunscreen Kahf Online Original Hanya di Blibli