Suara.com - Prabowo meninggal kena serangan jantung saat mengawal proses pencoblosan. Prabowo, bernama lengkap Rudi Mulia Prabowo adalah ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
Prabowo yang berusia 57 tahun itu meninggal karena kelelahan selama bertugas. Menurut Istri Prabowo, Sukaesih (58), Prabowo sudah bekerja keras menyiapkan Tempat Pemungutan Suara (TPS) 009 sejak tiga hari sebelum waktu pemungutan suara, 14 April 2019.
Sukaesih mengatakan TPS 009 sempat kesulitan karena tidak mendapat penyewaan tenda.
Akhirnya Prabowo disebut Sukaesih berinisiatif membangun tenda TPS menggunakan peralatan seadanya yakni dari bambu dan terpal. Sukaesih mengatakan Prabowo membangun tenda tersebut dan persiapan lainnya jelang pencoblosan pada tanggal 16 April bersama tujuh anggota TPSnya sampai dari siang sampai pukul 02.00 WIB pagi.
"Emang udah kerja dari tiga hari sebelum nyoblos. Gak dapet sewa tenda akhirnya bikin tuh bareng panitia," kata Sukaesih di rumahnya, Pisangan Baru Matraman, Jakarta Timur (24/4/2019).
Lebih lanjut, Sukaesih menceritakan setelah Prabowo pulang mempersiapkan TPS, Prabowo sempat tidur pukul 02.00 WIB dan pergi lagi ke TPS untuk persiapan pencoblosan pukul 05.00 WIB. TPS 009 disebut Sukaesih sudah dibuka pukul 07.00 WIB.
Selama masa pencoblosan, diceritakan Sukaesih, Prabowo sudah terlihat kelelahan dan terus lanjut mengerjakan tugasnya sampai pemungutan suara selesai pukul 13.00 WIB. Lanjut ke perhitungan suara, Sukaesih menyebut suaminya itu terus memimpin prosesnya dengan baik sampai selesai.
"Dia kan ketua jadi sampai perhitungan dia yang baca-bacain surat suara yang sudah dicoblos," kata Sukaesih.
Proses perhitungan baru selesai sekitar pukul 05.00 WIB. Usai suara dihitung dan dimasukan kembali ke kotak suara, Prabowo juga dikatakan Sukaesih lanjut mengantar kotak suara ke Kecamatan sampai pukul 10.00 WIB.
Baca Juga: Viral Petugas KPPS Nyoblos 10 Kali, TPS 8 di Boyolali Terancam PSU
Karena sempat mengeluh kecapekan ke panitia, Sukaesih mengatakan panitia lain sudah menyarankan untuk istirahat namun ia menolak dan ikut mengantar ke kantor Kecamatan. Prabowo baru tiba lagi di rumahnya pukul 10.00 WIB dan langsung tidur.
"Habis hitung suara selesai, bapak sempat ditawarkan nggak usah ke Kecamatan. Katanya 'sudah bapak istirahat saja, biar kita yang antar' tapi dia gak mau katanya mau ikut sampai bener-bener selesai," tutur Sukaesih sambil menirukan ucapan panitia yang menawarkan Prabowo istirahat.
Faktor lain selain kelelahan menurut Sukaesih Prabowo kurang makan selama bekerja. Ia mengatakan suaminya itu sejak berangkat ke TPS tidak sarapan. Sukaesih yang juga panitia konsumsi TPS 009, mengaku terakhir melihat Prabowo makan mukul 14.00 WIB. Itupun hanya snack seperti pisang goreng.
Bahkan menurut anak Prabowo, Inez (22), ayahnya itu tidak memakan dua jatah nasi kotak untuk siang dan malam hari. Inez mengaku sudah menyarankannya untuk makan tapi Prabkwo menolak dengan alasan tanggung hingga penghitungan selesai.
"Saya lihat nasi kotak punya dia dua kotak belum di makan. Saya bilang Papa makan dulu tapi katanya nanggung. Padahal panitia lain sudah pada makan," jelas Inez.
Prabowo diceritakan Inez pasca hari Pemilu tanggal 18-22 April selalu mengeluh kepalanya pusing dan terlihat pucat. Namun Inez mengatakan ayahnya itu tetap mengurus Pemilu seperti permintaan tanda tangan dan urusan lainnya.
Berita Terkait
-
Nihil Riwayat Sakit, Ketua KPPS di Sleman Mendadak Meninggal Sehabis Pemilu
-
PBNU Doakan Petugas KPPS Meninggal dalam Tugas Diampuni Dosanya
-
119 Petugas KPPS Meninggal Dunia, Menkes Sesalkan Beban Kerja 24 Jam
-
PBNU: Semoga Petugas KPPS yang Meninggal Dunia Diampuni Dosanya
-
Duka di Balik Pesta Demokrasi Bernama Pemilu Serentak 2019
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
-
Israel Klaim Menhan Iran dan Komandan Garda Revolusi Tewas, Nasib Khamenei Masih Misterius
-
Menlu Iran: Demi Allah! Kami Akan Balas Kematian 51 Siswi SD yang Dibantai Israel - AS
-
DPR RI Ragukan Misi Damai Board of Peace, Desak Pemerintah Tegas soal Serangan AS-Israel ke Iran
-
Rumahnya Dibombardir AS-Israel, Ayatollah Ali Khamenei Masih Hidup!
Terkini
-
Pramono Anung Waspadai Dampak Serangan ASIsrael ke Iran: Harga Barang di Jakarta Bisa Melonjak
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
-
Israel Klaim Menhan Iran dan Komandan Garda Revolusi Tewas, Nasib Khamenei Masih Misterius
-
Menlu Iran: Demi Allah! Kami Akan Balas Kematian 51 Siswi SD yang Dibantai Israel - AS
-
DPR RI Ragukan Misi Damai Board of Peace, Desak Pemerintah Tegas soal Serangan AS-Israel ke Iran
-
Rumahnya Dibombardir AS-Israel, Ayatollah Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Hikmahanto: Indonesia Harus Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran dan Dorong Sidang Darurat PBB
-
Siapa Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Jadi Target Militer AS dan Israel
-
Ancaman Iran ke AS-Israel Usai Serangan: Siapkan 'Pelajaran Bersejarah'!
-
Iran Hancurkan Radar FP132 AS di Qatar, Amerika Kini 'Buta' dari Serangan Rudal Balistik?