Suara.com - Permadi Arya alias Abu Janda menuding dalang kerusuhan 22 Mei di Jakarta berasal dari tokoh pendukung Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga. Abu Janda bahkan menyebut kerusuhan yang terjadi setelah KPU mengumumkan pemenang Pilpres 2019 karena Prabowo Subianto lebih dulu klaim menang.
Hal itu disebut Abu Janda melalui cuitannya di akun media sosial twitter miliknya, @permadiaktivis pada Kamis (30/5/2019). Ia menyebut awalnya kerusuhan 22 Mei dimulai karena Prabowo melakukan klaim kemenangan Pilpres beberapa kali di depan pendukungnya.
"Kerusuhan 22 mei akibat @prabowo klaim menang," cuit Abu Janda seperti dikutip Suara.com, Jumat (31/5/2019).
Selain itu Abu Janda juga menilai pernyataan Sandiaga Uno menolak hasil Pilpres di Grand Sahid Jaya, Jakarta pada 14 Mei lalu juga dianggap memanasi rakyat.
Sandiaga saat itu mengajak pendukungnya agar berjuang hingga titik darah penghabisan adn bisa jaga kedaulatan rakyat.
"Akibat @sandiuno panasi 'titik darah penghabisan'," kata Permadi.
Selain itu beberapa tokoh dari kubu Prabowo - Sandiaga juga ikut disebut Abu Janda, diantaranya politikus Partai Berkarya yang juga mantan istri Prabowo, Titiek Soeharto.
Keterlibatan Titiek Soeharto kata Abu Janda, karena menyerukan tidak akan membawa hasil sengketa Pemilu ke Mahkamah Konstitusi. Titiek yang saat itu berpidato di Menteng pada Jumat (17/5/2019) menyerukan kepada pendukungnya agar berjuang di jalan.
"Akibat @TitiekSoeharto provokasi 'berjuang di jalan'," kata Abu Janda.
Baca Juga: Prabowo-Sandi Keluar Negeri saat Pendukung di Bui, PSI: Mana Empatinya?
Terkait itum Abu Janda menilai Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra mendiamkan kerusuhan yang berlangsung di beberapa daerah di sekitar kantor Bawaslu pada 21-23 Mei 2019.
Ia juga menantang Juru Bicara BPN, Andre Rosiade yang ingin melaporkan orang yang menuduh Prabowo sebagai dalang kerusuhan untuk melaporkan dirinya juga ke polisi.
"Kerusuhan akibat @prabowo diamkan seruan people power. Saya tunggu anda @andre_rosiade laporkan saya," jelas Abu Janda.
Berita Terkait
-
Mantan Istri Prabowo Tak Terima Disebut Dalang Kerusuhan 22 Mei
-
Beda Keterangan Fadli Zon dan Sandiaga soal Kepergian Prabowo ke Austria
-
4 Tokoh Nasional Ternyata Akan Dibunuh oleh Salah Seorang Warga Tangsel
-
Sertakan Link Berita Dalam Gugatan ke MK, Sandiaga: Sangat Relevan
-
Prabowo di Austria? Titiek Soeharto: Enggak Laporan ke Saya Pergi ke Mana
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Cengkeraman Iran di Selat Hormuz Makin Kuat saat Ada Blokade AS, Kenapa?
-
Blokade Selat Hormuz AS Paksa 6 Kapal Tanker Iran Putar Balik di Teluk Oman
-
Respons Arogansi AS, Iran Siapkan Metode Pertempuran Mematikan
-
Media Eropa-Asia: Jika Pesawat Perang AS Bebas di Udara Indonesia akan Ubah Peta Kekuatan Regional
-
Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
-
BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan
-
Usai dari Rusia, Prabowo Temui Macron di Paris: Bahas Alutsista hingga Energi Bersih
-
Militer AS 18 Kali Langgar Wilayah RI Tanpa Maaf, Kini Berpotensi 'Terbang Seenaknya'
-
Pastikan Santunan Bagi Ahli Waris PHL, BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Negara Hadir Lindungi Pekerja
-
Surat Kemlu Bocor: Izin 'Terbang Bebas' Militer AS Berisiko Jadikan Indonesia 'Medan Perang'