Properti senilai jutaan dolar hancur. Dan ada bukti bahwa warga Muslim disasar terencana, dengan banyak contoh yang menunjukkan beberapa polisi membantu perusuh, atau sekadar mengabaikan mereka.
Terdapat sekitar 200 rumah dan toko di jalanan sempit Khajuri Khas, seperlimanya milik warga Muslim. Namun hampir mustahil membedakan bangunan yang dimiliki warga Muslim dengan yang dimiliki warga Hindu. Bangunan-bangunan itu bahkan berbagi tembok dan garis atap.
Tapi pekan lalu, para perusuh menyasar rumah dan toko milik Muslim dengan mudah. Puing-puing rumah warga Muslim yang tertutup jelaga kini berdiri di samping rumah-rumah warga Hindu yang tak tersentuh dan rapi.
Toko-toko milik umat Muslim serta pusat pelatihan dan pabrik soda terbakar habis. Sedangkan toko-toko milik umat Hindu sudah mulai dibuka.
Satu-satunya hal masih menjadi milik bersama kedua komunitas adalah jalanan yang penuh dengan sisa-sisa kekerasan: kaca pecah, kendaraan terbakar, robekan buku-buku pelajaran, roti yang menjadi arang.
Hanya embik kambing-kambing di antara puing-puing bangunan yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Saya sama sekali tidak tahu apakah para perusuh itu orang dalam atau orang luar. Kami tak bisa melihat wajah mereka. Tapi bagaimana mereka bisa mengenali rumah-rumah kami yang tertutup tanpa bantuan warga lokal?" Munazir bertanya-tanya.
Dalam semalam, rasa curiga tumbuh di antara dua komunitas.
Di seberang rumah Munazir yang sekarang habis terbakar terdapat bangunan dua-lantai milik seorang tetangga Hindu yang berdagang daun sirih dan tinggal bersama dua anak laki-lakinya, yang bekerja di perusahaan transportasi umum.
Baca Juga: Serbuan Coronavirus, Sektor Otomotif India Mulai Terpengaruh
Selama bertahun-tahun, kata Munazir, warga hidup bertetangga dengan damai. "Saya bahkan pernah ngekos di rumahnya. Ia bisa saja keluar rumah dan mencoba berunding dengan massa," kata Munazir. "Mungkin rumah saya bisa diselamatkan."
Pada pagi hari ketika massa mulai memasuki lingkungan perumahan, Munazir serasa dihujam oleh rasa takut tiba-tiba. Ia memanggil polisi dan pemadam kebakaran.
Seorang warga Hindu yang bekerja sebagai guru sekolah berusaha menenangkan pria-pria bersenjata itu dan meminta mereka pergi.
"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa. Pulanglah," katanya kepada para warga Muslim yang gelisah.
Seorang pria muda beragama Hindu berusaha menghentikan massa yang hendak memasuki jalan lain. Namun para perusuh tidak mau mendengar permohonannya, dan tak lama kemudian melonjak ke jalanan. Pada saat itu Munazir berlari ke rumahnya dan kemudian mengunci pintu depan.
Massa berusaha mendobrak pintu rumah Munazir, dan kemudian beralih ke sebuah masjid tak jauh dari sana, melemparkan bom molotov ke bangunan tersebut. Polisi, kata Munazir, datang enam jam kemudian, dan menuntun para warga Muslim ke tempat aman sambil disaksikan para perusuh, yang kadang-kadang menampar dan melempari warga yang mengungsi dengan batu.
Setelah warga mengungsi bersama polisi, para perusuh memasuki rumah mereka, membakar dan merampok seenaknya. "Kamu beruntung masih hidup," kata seorang polisi kepada Munazir. "Kami akan membawa kamu ke manapun kamu mau."
Ia diminta pergi ke rumah saudaranya di jalan yang dihuni warga mayoritas Muslim tak jauh dari situ.
Ketika ia sampai bersama keluarganya, ia menemukan 70 laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari 11 keluarga setempat telah berlindung di tiga kamar kecil.
Di antara mereka ada seorang perempuan muda yang mengikat bayinya yang baru berumur enam hari ke pinggangnya dan melompati tiga atap untuk sampai ke tempat aman. Semua rumah mereka telah hancur.
Polisi membantu membawa beberapa orang ke tempat itu, dan sedikitnya 40 orang lainnya diselamatkan oleh seorang perempuan gagah berani yang merupakan pemilik bangunan.
"Kami masih bertanya-tanya mengapa polisi tidak kembali ke perumahan dan melindungi rumah-rumah kami. Kenapa mereka tidak memanggil bantuan? Apakah disengaja, ataukah mereka tidak punya cukup tenaga?" kata Fayaz Alam, seorang insinyur muda yang merantau ke Delhi untuk mencari pekerjaan.
Itulah mengapa sebagian besar dari 70 'pengungsi' di Khajuri Khas berutang nyawa kepada Mushtari Khatoon, perempuan tua yang mengumpulkan keberanian untuk menyeberang jalan utama, memasuki jalanan yang dilanda kerusuhan, dan mengantarkan perempuan dan anak-anak Muslim ke tempat aman pada pagi-pagi buta.
Ia melewati massa yang mengamuk dan pergi ke lokasi kerusuhan "empat sampai lima kali" untuk membawa mereka sejauh hampir satu kilometer ke rumahnya. Para perempuan dan anak-anak melompat dari atap ke atap sampai mereka menemukan bangunan yang aman untuk keluar.
Khatoon akhirnya menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada polisi.
"Mulai sekarang kami harus melindungi diri kami sendiri. Delhi tidak akan menyelamatkan kami lagi," ujarnya. Ada nada menantang, alih-alih putus asa, dalam suaranya.
Berita Terkait
-
Serbuan Coronavirus, Sektor Otomotif India Mulai Terpengaruh
-
PM India Narendra Modi Bakal Tutup Akun, Awal Larangan Medsos?
-
Susul Indonesia, India Umumkan 2 Kasus Terbaru Virus Corona
-
Bertaruh Nyawa, Pria Hindu India Selamatkan 6 Muslim saat Kerusuhan
-
Kisahkan Kerusuhan Delhi, Nasreen: Kesalahan Kami Terlahir sebagai Muslim
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Honda Vario 160 Teranyar Dikabarkan Meluncur Akhir Bulan Ini, Tampang Lebih Agresif
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
Sempat Dikeluhkan karena Galian Berbahaya, Proyek PAM Jaya di Condet Kini Mulai Alirkan Air Bersih
-
Menanti Nyanyian Sony Sonjaya, Siapa Saja Petinggi di Balik Skandal Korupsi MBG?
-
Tabrak Lari Tewaskan Tokoh Pramuka Tangerang, Polisi Kantongi Identitas Kendaraan
-
Kejagung Sasar Kantor dan Rumah Tersangka Korupsi MBG, Dokumen hingga Barang Bukti Elektronik Disita
-
Bansos Sarung dan Mukena Dikorupsi, Eks Legislator NTB Cuma Dituntut 2 Tahun Bui
-
Moratorium MBG Bikin Investor Menjerit, Jupnas Gizi: Ini Rapor Merah
-
Dijuluki 'Banjir Abadi', Genangan di Joglo Kembangan Akhirnya Ditangani Pemkot Jakbar
-
Babak Baru Korupsi MBG, Asep Yusuf Somantri Punya Tugas 'Spesial' Atur SPPG
-
BPK Akan Proses Etik Pegawai yang Terseret Kasus Suap
-
Kapolda Riau Beri Nama Nona Seroja untuk Anak Gajah di Tesso Nilo, Apa Maknanya?