Suara.com - Mendiang musisi Glenn Fredly sempat bercerita tentang konflik horizontal di Ambon, Maluku, pada 1999 yang begitu membekas baginya.
Cerita tersebut dilontarkan Glenn Fredly dalam acara Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 5 Februari 2018 silam.
Meski lahir dan dibesarkan di Jakarta, Glenn Fredly sempat mengunjungi Ambon setelah peristiwa. Dia menyebut kunjungan tersebut sebagai tiga hari terlama dalam hidupnya.
Ya, Glenn menyebut tahun 2000 sebagai tahun yang luar biasa bagi dirinya. Sebab di tahun tersebut, dia pulang ke Ambon tanpa pendampingan dan perlindungan pascakonflik.
"Tahun 2000 merupakan tahun yang sangat luar biasa untuk saya. Karena antara tahun 99 ke tahun 2000 saya harus menjadi seorang sipil biasa, tanpa mendapat pendampingan atau perlindungan apapun," ujar Glenn yang malam itu mengenakan peci dan kemeja batik berwarna biru.
Glenn memang besar di Jakarta. Dia mengaku sebagai produk Ibu Kota yang lahir dengan segala macam fasilitas. Meski begitu, dia juga dibesarkan dengan tradisi budaya Maluku yang kental.
"Saya lahir dan besar di Jakarta. Saya dibesarkan benar-benar sebagai produk Ibu Kota, lahir dengan segala macam fasilitas. Tapi saya juga dibesarkan oleh budaya yang diturunkan oleh kakek nenek saya tentang budaya pela gandong--budaya perjanjian persaudaraan ala Maluku," tutur Glenn.
Pada tahun 2000, Glenn Fredly memutuskan untuk pulang ke Kota Ambon. Dia menyebut itu merupakan momen ketika logikanya bertabrakan dengan peristiwa yang mengguncang keluarganya.
Baca Juga: Aura Kasih Beri Semangat untuk Istri Glenn Fredly
"Tahun 2000 ketika saya kembali sebelum saya berangkat, itu merupakan momen di mana logika saya ditabrakan dengan peristiwa yang mengguncang keluarga saya, bahkan keluarga besar," ujar Glenn.
Glenn Fredly ke Ambon menggunakan maskapai penerbangan Merpati. Ketika itu, penerbangannya masih 1 kali dari Jakarta. Dia mengambil penerbangan tengah malam.
Di pesawat, Glenn Fredly melihat peristiwa yang menyentuh batinnya. Ketika itu, dua komunitas agama--Islam dan Kristen--saling melepas rindu. Meski penerbangan tengah malam, mereka tidur terlelap.
"Saya melihat di dalam pesawat, bagaimana masyarakat melepas rindu yang sangat luar biasa. Tidak tidur, meski penerbangan kita tengah malam. Saya menyaksikan betul apa yang ditulis di media saat itu, propaganda media tentang apa yang terjadi di Maluku membuat keingintahuan saya besar. Di pesawat, saya mulai melihat bagaimana dua komunitas ini saling melepas rindu," tutur Glenn.
Pagi menjelang. Pesawat mendarat di Kota Ambon. Ketika turun dari pesawat, Glenn Fredly kaget. Sebab, mereka dibagi sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
"Dan, ketika pagi menjelang, turun dari pesawat, saya benar-benar kaget. Karena kami diminta untuk memperlihatkan KTP. "Oh Kristen ke kanan, Muslim ke kiri." Turun dari pesawat, kami dipisahkan," ujar Glenn Fredly.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Wajah Baru Jakarta Menuju 5 Abad: Koridor Rasuna Said Jadi Pusat Diplomasi dan Budaya
-
Wamen PANRB Tegaskan Era Digital Butuh Pemimpin Visioner, Bukan Sekadar Manajer
-
Momen Haru Eks Wamenaker Noel Peluk Cium Putrinya usai Sidang: Ini yang Buat Saya Semangat
-
Korea Utara Tantang AS dan Sekutu: Jangan Atur-atur Kami Soal Nuklir
-
Sekarang Malu dan Menyesal Terima Uang Rp3 Miliar dan Ducati, Noel: Saya Minta Ampun Yang Mulia
-
Kapolri Sebut Penguatan Kompolnas Cukup Masuk di Revisi UU Polri, Tak Perlu UU Baru
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah
-
Buntut Kematian Dokter Myta, Kemenkes Tunda Internship di Puskesmas dan RSUD Kuala Tungkal
-
'Nak Keluar Sayang', Noel Minta Putrinya yang Berseragam Sekolah Keluar Sidang karena Ditegur Hakim
-
7,36 Persen Warga Indonesia Tanpa Air Bersih, Teknologi Ini Jadi Harapan Baru?