- Gatot Nurmantyo mengkritik kehadiran Wakil Ketua DPR Dasco saat pengumuman Kabinet Merah Putih, mengindikasikan adanya pengawasan terhadap Presiden Prabowo.
- Yudi Syamhudi Suyuti menilai kritik Gatot kurang memahami dinamika politik serta menganggap kehadiran Dasco adalah konvensi ketatanegaraan baru.
- Kehadiran Dasco simbolis menunjukkan keterlibatan legislatif dalam pemerintahan baru sebagai bentuk transparansi dan batasan kekuasaan eksekutif.
Suara.com - Pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo terhadap Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dinilai salah kaprah.
Polemik itu bermula dari Gatot yang menyorot kehadiran Dasco saat pengumuman susunan Kabinet Merah Putih.
Gatot melontarkan pertanyaan terbuka mengenai urgensi serta peran Dasco yang berdiri mendampingi Prabowo, saat mengumumkan nama-nama pembantunya di pemerintahan.
Pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram Refly Harun itu, Gatot menilai kehadiran Dasco bukan sekadar pendampingan seremonial, melainkan ada indikasi untuk mengawasi Presiden Prabowo Subianto dalam mengambil keputusan atau menyampaikan pengumuman penting tersebut.
Salah satu tanggapan paling tajam datang dari Koordinator Presidium Nasional Fraksi Rakyat, Yudi Syamhudi Suyuti.
Yudi menilai, cara pandang Gatot terhadap kehadiran pimpinan DPR di samping Presiden menunjukkan adanya keterbatasan dalam memahami dinamika politik kontemporer.
Tak hanya itu, kata dia, penilaian Gatot itu menunjukkan ketidakmampuan melihat praktik kenegaraan yang sedang dibangun oleh pemerintahan baru.
"Pernyataan Pak Gatot itu justru memperlihatkan kurang luasnya pemahaman politik dan praktik kenegaraan yang berkembang saat ini," kata Yudi, Kamis (5/2/2026).
Simbolisme Politik dan Konvensi Ketatanegaraan Baru
Baca Juga: Pengamat: Dasco Kini Jadi 'Buffer Power' Presiden, seperti Taufiq Kiemas dan Yenny Wahid Dulu
Yudi menyampaikan, kritik yang dilontarkan Gatot sebenarnya tidak memiliki dampak signifikan terhadap posisi maupun kredibilitas Dasco.
Sebaliknya, Yudi memandang kehadiran Dasco di sisi Presiden Prabowo sebagai sebuah langkah politik yang positif dan inovatif.
Meskipun ia mengakui bahwa secara historis hal ini belum pernah terjadi dalam proses kenegaraan presiden-presiden sebelumnya di Indonesia, hal tersebut dianggap sah secara politik.
Menurut Yudi, fenomena ini dapat dikategorikan sebagai model konvensi ketatanegaraan baru.
Konvensi ini tidak memerlukan perangkat peraturan formal yang kaku, melainkan lahir dari kebutuhan praktis dan simbolis dalam menjalankan roda pemerintahan.
"Ini jadi model presidensi Pak Prabowo yang sengaja melibatkan legislatif sebagai simbol perwakilan rakyat. Di situlah posisi Dasco untuk hadir," kata dia.
Berita Terkait
-
Pengamat: Dasco Kini Jadi 'Buffer Power' Presiden, seperti Taufiq Kiemas dan Yenny Wahid Dulu
-
Dasco Ungkap Alasan Gerindra Belum Putuskan Ambang Batas Parlemen: Ini Soal Partisipasi Rakyat
-
DPR Beri 'Lampu Hijau' Pegawai Inti SPPG Jadi ASN: Tapi Tetap Harus Penuhi Kriteria
-
Pengamat: Dasco - Purbaya Jadi 'Duet Maut' Jaga Stabilitas Ekonomi Politik
-
Gusti Purbaya Temui Dasco di DPR, Konflik Keraton Solo Sempat Disinggung
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
Terkini
-
Skandal Narkoba Polres Bima: Kasatresnarkoba AKP Malaungi Diperiksa Terkait Jaringan Bripka Karol
-
Menteri PPPA Pastikan Tak Ada Kekerasan Fisik pada YBR di Ngada, Dugaan Kekerasan Psikis Didalami
-
Dikendalikan Napi Cipinang, Bareskrim Tangkap Aloy Terkait Peredaran Vape Etomidate
-
Menteri PPPA Akui Kelalaian Negara, Kasus Siswa SD NTT Bukti Perlindungan Anak Belum Sempurna!
-
FPIR Desak Menhan Fokus Pada Ancaman Nyata Kedaulatan Negara: Jangan Terseret Isu di Luar Tugas
-
Pemprov DKI Siapkan 20 Armada Transjabodetabek Blok M-Badara Soetta, Tarif Mulai dari Rp2.000
-
BMKG Rilis Peringatan Dini Hujan Lebat dan Angin Kencang Jabodetabek, Cek Rinciannya di Sini
-
Siswa SD yang Bunuh Diri di NTT Diduga Sempat Dimintai Uang Sekolah, Komisi X DPR: Pelanggaran Hukum
-
Warga Keluhkan TransJakarta Sering Telat, Pramono Anung Targetkan 10 Ribu Armada di 2029
-
Tragis! 5 Fakta Kasus KDRT Suami Bakar Istri di Padang Lawas Utara, Korban Disiram 1,5 Liter Bensin