Suara.com - Selama lebih dari 30 tahun, pria asal India bernama Abdul Malabari memakamkan jenazah yang terlantar dengan berbagai kondisi.
Dikutip dari laporan BBC News, pria berusia 51 tahun ini memakamkan jenazah yang tidak dikenali, terlantar, bahkan tidak dianggap secara sukarela.
"Pekerjaan saya tidak mempunyai jam kerja yang pasti, setelah menerima telepon, secepatnya kami akan melaksanakan sesuai prosedur," ujarnya dikutip dari BBC News.
Pekerjaannya jadi semakin sibuk ketika pandemi virus corona mulai memakan korban di India. Terutama di Surat, negara bagian barat sekaligus kantor dari Mr Mallabari.
Hingga kini, di kota tersebut sudah tercatat sebanyak 19 kasus kematian dan 244 kasus positif Covid-19.
Meskipun dengan risiko tinggi yakni dapat terpapar virus corona, Mr Mallabari tetap mengerjakan pemakaman secara terhormat.
Kini ia dan tim tidur dan makan di kantor untuk mencegah penularan pada anggota keluarga mereka.
Aksi Mallabari dan rekannya mendapat apresiasi dari pemerintah setempat. "Dalam masa-masa sulit seperti sekarang, Abdul bhai [saudara] telah sangat membantu," kata Ashish Naik, wakil komisaris Surat.
Dalam pemakamannya, Malabari dan tim juga dibekali dengan peranti sesuai standar, mulai dari masker, APD, sarung tangan, dan kebutuhan lain.
Baca Juga: Detik-detik Pemakaman Wali Kota Syahrul, Istri dan Anak Pakai APD
Pertama Kali Memakamkan Jenazah Korban HIV Pada Tahun 1990
Kisahnya ini berawal ketika Malabari memakamkan jenazah seseorang bernama Sakina yang mengidap HIV pada tahun 1990. Sakina dibawa ke rumah sakit oleh suami dan anaknya, namun kemudian keluarganya menghilang.
Upaya untuk melacak mereka setelah kematiannya tidak membuahkan hasil. Jadi, dia telah berbaring di kamar mayat selama sebulan.
Pejabat lokal putus asa, dan mengajukan permohonan kepada sukarelawan Muslim yang mau memakamkannya.
Mr Malabari, yang saat itu baru berusia 21 tahun, tersentuh oleh iklan dan memutuskan untuk membantu. Dia menghubungi satu-satunya organisasi di Surat yang mengubur mayat tidak diketahui, namun sedang tidak ada petugas.
"Saya merasa itu tidak adil," kata Malabari. Jadi dia pergi ke rumah sakit dan memberi tahu para pejabat bahwa dia akan mengubur Sakina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan
-
Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka