Suara.com - Sebanyak 50 orang dikabarkan meninggal dunia di Yaman namun bukan karena virus corona seperti negara lain. Kabarnya orang-orang tersebut meninggal akibat penyakit yang diderita akibat gigitan nyamuk.
Menyadur dari Anadolu Agency (AA) Minggu (10/05), sebanyak 50 orang meninggal dunia di ibukota sementara Yaman, Aden karena demam chikungunya pada Sabtu (09/05). Sedangkan lebih dari 3.000 warga terinfeksi penyakit yang diderita dari gigitan nyamuk, menurut salah satu pejabat pada AA.
Menurut pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut, salah satu korban meninggal adalah Gubernur distrik Sheikh Othman di Aden di Yaman selatan.
Diyakini bahwa penyakit itu muncul karena rawa yang disebabkan oleh bencana banjir pada 21 April lalu. Dalam banjir akibat hujan lebat tersebut, delapan orang, termasuk lima anak-anak, tewas dan rumah-rumah hancur.
Menurut Jens Larke, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada 1 Mei, hujan lebat dan banjir di Yaman sejak pertengahan April berdampak pada 150.000 orang.
PBB menyebutkan Yaman akan mengalami dampak lebih buruk bukan karena tepapar virus corona namun karena bencana lain yakni kelaparan dan serangan nyamuk. Dalam pemaparan World Food Programme (WFP) yang tercantum dalam Laporan Krisis Makanan Dunia, menyebutkan Yaman adalah salah satu negara yang mengalami krisis makanan.
"Kita dapat menghadapi sejumlah bencana kelaparan dalam skala besar dalam beberapa bulan mendatang. Kenyataannya, waktu tidak berpihak pada kita," buka David Beasley.
"Saya percaya bahwa dengan keahlian dan kemitraan kita, kita dapat mengumpulkan tim dan program yang diperlukan guna memastikan pandemi Covid-19 tidak menjadi bencana kemanusiaan dan krisis makanan," tambahnya.
Mulai April, akibat krisis pendanaan sebagai dampak dari COVID-19, WFP mengatakan sampai mengurangi bantuan ke sejumlah kawasan Yaman yang dikendalikan pemberontak Houthi.
Baca Juga: Sanaa, Kawasan Pemberontak Yaman Konfirmasi Kasus Pertama Virus Corona
Hal tersebut dikarenakan adanya pemberhentian sumbangan dari para penyumbang karena khawatir pengantaran bantuan akan dihalangi pemberontak Houthi.
Sebelum adanya pengurangan, setiap bulan WFP memberikan makanan kepada 12 juta warga Yaman, 80% di antara mereka berada di kawasan yang dikendalikan pasukan pemberontak Houthi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Rudal Iran Hantam Pangkalan AS di Arab Saudi Hingga 5 Pesawat Tanker BBM Rusak Parah Sekali
-
Mojtaba Khamenei 2 Kali Lolos dari Maut Serangan AS-Israel
-
Iran Diminta Fokus Lawan Amerika Serikat Tanpa Ganggu Keamanan Negara-Negara Arab
-
Rusia dan China Bersatu Bantu Iran Lawan Amerika Serikat Pakai Satelit Canggih Hingga Rudal Pembunuh
-
Drone Murah Iran Shahed-136 Berhasil Bikin AS dan Israel Pusing Karena Boros Biaya Amunisi
-
Merengek Ketakutan Putra Benjamin Netanyahu Kabur ke AS saat Israel Dihujani Rudal Iran
-
Pramono Anung Siapkan 25 Ruang Terbuka Hijau Baru di Jakarta
-
Netanyahu Disalip Babi? Merlin Babi Pintar dengan Jutaan Followers di Instagram
-
Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia