"Akui kalau kita butuh bantuan semua pihak, dan berkolaborasi. Kita nakes (tenaga kesehatan) akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasien, itu pasti. Tapi tanpa dukungan semua, kami takut usaha kami jadi sia-sia...," kata Aditya.
Hal senada diucapkan salah seorang perawat Rumah Sakit di Surabaya.
Ia merasa khawatir dengan makin banyaknya jumlah petugas medis yang terpapar virus corona.
Perawat yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut, meminta masyarakat Surabaya agar lebih sadar dengan protokol kesehatan.
"Surabaya ini sudah zona hitam. Kalau kayak gini terus kapan kita bisa new normal kembali. Saya nggak ngerti apa orang-orang itu tidak tahu atau kurang mengerti bahayanya Covid-19, soalnya bahaya banget ini," tegasnya
Pakar epidemiologi di Surabaya, Windhu mengatakan suatu wilayah bisa dikategorikan aman jika angka reproduksi virus, atau R, berada di bawah angka 1 selama dua minggu berturut-turut.
Sementara Surabaya beberapa hari terakhir, ujar Windhu, masih berada diantara 1,1 hingga 1,2.
Ia menambahkan bahwa tingkat risiko di kota itu memang jauh lebih tinggi dibanding dengan rata-rata pada tingkat provinsi.
Tingkat resiko menghitung rata-rata proporsi kasus dalam suatu populasi.
Baca Juga: Surabaya Disebut Zona Hitam Penularan Corona, Gubernur Jatim: Itu Merah Tua
Windhu mengatakan tingkat risiko Jawa Timur adalah 12 kasus setiap 100.000 orang, sementara Surabaya mengalami sekitar 92 kasus setiap 100.000 orang.
Ia menekankan pentingnya tes masif terus berjalan di kota itu, beserta upaya mengisolasi kasus-kasus demi menekan penyebaran virus corona.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendirikan Rumah Sakit Lapangan Covid-19 di Jalan Indrapura, Surabaya yang mulai beroperasi sejak awal bulan.
Hal itu dilakukan dalam upaya mengurangi beban rumah sakit rujukan yang kewalahan menampung pasien yang terinfeksi virus corona di kota itu dan sekitarnya.
Sementara, suasana Surabaya pada Rabu (03/03) seperti yang dilaporkan Roni Fauzan, wartawan di Surabaya untuk BBC News Indonesia, terlihat padat untuk kondisi arus lintas di sejumlah jalan utama.
Di sepanjang jalan yang dilalui, kegiatan ekonomi warga masih terlihat seperti biasa. Toko-toko ada yang terlihat tutup dan ada juga yang masih melakukan aktivitas ekonomi.
Satu MCK dipakai beberapa orang di permukiman padat
Surabaya dijuluki sebagai "zona hitam" oleh warganet lantaran warna zona kota itu dalam peta penyebaran kasus Covid-19 terlihat paling gelap.
Kategori zona dalam peta penyebaran kasus terbagi mulai dari warna hijau yang menandakan zona aman.
Seiring meningkatnya jumlah kasus, warna zona menjadi kuning dan kemudian merah untuk menandadkan zona dengan jumlah kasus yang tinggi.
Sebelumnya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menampik jika peta Surabaya berwarna hitam atau telah menjadi zona hitam. Ia mejelaskan peta tersebut berwarna merah tua karena tercatat ada lebih dari 2.000 kasus.
"Kemudian ada yang tanya, itu (di peta) kok ada yang hitam. Itu bukan hitam tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 sekian merah sekali, kalau angkanya dua ribu sekian (seperti di Surabaya) merah tua," Khofifah dikutip mengucapkan pada awal pekan.
Sementara, Ketua Komisi C DPRD Surabaya yang membidangi pembangunan, Baktiono, berpendapat bahwa padatnya permukiman di sekitar kota dan juga fasilitas kebersihan yang digunakan oleh beberapa keluarga secara bersamaan, juga menciptakan kondisi menyulitkan untuk menekan penyebaran Covid-19.
"Jadi, satu MCK (mandi, cuci, kakus) digunakan oleh beberapa kepala keluarga. Nah di situ kalau ada warga yang memang terinfeksi Covid-19 itu mudah untuk tertular.
Jadi memang untuk di Kota Surabaya ini tidak semudah yang kita bayangkan," ujar Baktiono via telpon, Rabu (03/06).
Anggota fraksi PDI-P itu menjelaskan bahwa penanganan setempat kini berfokus pada pemberdayaan pada tingkat komunitas demi meningkatkan efektivitas penanganan.
"Di setiap RW sekarang ini kan sudah dibentuk 'Kampung Wani (Berani)' untuk melawan Covid ini. Mereka sudah yang mengisolasi kampungnya sendiri-sendiri.
Jadi kalau ada warga yang masuk kampung, itu ada desinfektan seperti sprayer, ada juga alat untuk cuci tangan," tutur Baktiono.
Namun, ia mengatakan bahwa pergerakan tiap warga juga tidak bisa dipastikan sehingga masih rentan terjadi penularan.
Berita Terkait
-
Di Masa New Normal BRIsyariah Beroperasi 100 Persen
-
Jika Pandemi Usai, Wisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren
-
Kaya Vitamin A, Mangga Disebut Bisa Meningkatkan Kekebalan Tubuh
-
Update Covid-19 Global 4 Juni: Kasus Positif di Amerika Nyaris 2 Juta
-
Peradangan Langka Terkait Covid-19 Lebih Berisiko pada Anak Turunan Afrika
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi