News / Internasional
Sabtu, 06 Juni 2020 | 16:40 WIB
Spesies badak langka bercula satu menjadi korban perburuan liar di tengah kebijakan lockdown India. (AFP/Biju Boro)

Suara.com - Puluhan badak di Afrika Selatan terpaksa harus kehilangan cula sebagai ciri khas hewan besar ini. Hal tersebut dilakukan otoritas setempat untuk menjaga keselamatannya.

Menyadur CBS News, pejabat satwa liar di Afrika Selatan memotong lusinan tanduk badak sebagai tindakan perlindungan dari pemburu liar. Para ahli khawatir perburuan akan melonjak selama pandemi virus corona.

Dengan kosongnya tiga taman nasional yang populer yakni Taman Nasional Pilanesberg, Mafikeng, dan Botsalano, dikhawatirkan perburuan liar akan semakin merajalela.

Menurut laporan koresponden CBS News, Debora Patta taman nasional tersebut dianggap sebagai tempat yang relatif aman bagi satwa liar, sebab dijaga oleh penjaga dan pengunjung. Tetapi kurangnya pengunjung akibat ditutup selama pandemi Covid-19, memberikan kesempatan bagi pemburu gelap untuk membunuh badak demi mendapatkan culanya.

Untuk mencegah hal tersebut, petugas taman nasional memutuskan memotong cula mereka sebelum diburu. Prosedur dehorning (pemotongan cula) tersebut dilakukan oleh pihak konservasionis dan penjaga hutan di Afrika Selatan.

Nico Jacobs, salah satu pendiri organiasai Rhino 911, memutuskan untuk mempercepat proses setelah melihat singa betina memakan bangkai badak saat ia berpatroli.

"Kami lebih suka melihatnya berkeliaran dan berkembang biak tanpa cula daripada membiarkannya rentan diburu oleh pemburu yang kejam," tulis Rhino 911 di halaman di Facebooknya.

Untuk memotong culanya, para pejabat membius badak dan menggunakan gergaji listrik untuk memotongnya menjadi nubia. Jika badak tidak memiliki cula, membuatnya tidak berguna bagi pemburu.

Rhino 911 telah bekerja dengan para pejabat untuk melakukan langkah tersebut selama tiga tahun terakhir, yang berpengaruh pada turunnya tingkat perburuan liar.

Baca Juga: Afrika Selatan Longgarkan Lockdown Mulai 1 Juni, Warga Boleh Bekerja

Para ahli mengatakan dehorning tidak memiliki efek samping negatif pada kesehatan hewan.

"Memotong cula badak bukanlah sesuatu yang kami sukai kepada raksasa lembut ini, tetapi itu adalah metode yang terbukti dapat melindungi hewan dengan sedikit atau tanpa efek samping," tulis Rhino 911 di Facebook.

"Cula badak terbuat dari keratin, jadi memotong cula itu seperti memotong kuku atau rambut Anda. Culanya akan tumbuh kembali," tambah kelompok tersebut.

Menurut sebuah laporan, cula badak dijual seharga 60.000 dolar (sekitar Rp 840 juta) per kilogram, lebih dari harga kokain atau emas. Cula tersebut sering digunakan untuk tujuan pengobatan.

Load More